
Rune yang mereka gambar sedikit susah dan dibutuhkan ketelitian yang cermat, salah sedikit saja bisa membuat gagal. Kombinasi antara element kristal dan cahaya dalam buku sihir tingkat raja yang sangat sedikit yang bisa menguasainya. Sedangkan orang yang sudah sampai ditingkat raja bisa dihitung dengan jari saja.
Mereka yang telah sampai ditingkat raja merasa dirinya yang paling hebat dan menjadi congkak dan sombong serta merendahkan orang yang tidak setara dengan dirinya dengan hina. Sebenarnya Aquila ingin sekali menghajar orang-orang yang membanggakan diri sendiri dengan tinggi, tapi dia tidak tau siapa saja orangnya. Payah sekali bukan?
Setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, rune yang mereka buat sudah jadi dan tinggal mengaktifkan saja dengan mantra sihir yang sudah dipelajari didalam perpustakaan milik Shiro.
Cahaya benderang hiasi alam
Jadikanlah ilusi dalam ketiadaan
Batu bersinar jadilah tameng yang kokoh
Kristal bening menjadi cermin
Setelah itu cahaya putih keluar dari dalam rune dan membentuk sebuah kubah yang transparan membentang luas, meski mantra yang diucapkan cukup mudah tetapi sihir kombinasi sangatlah susah dan menguras mana yang cukup banyak.
"Aku rasa sudah cukup aman untuk kalian tinggali." Aquila sambil menggerakkan badannya karena pegal berjongkok lama untuk menggambar rune ilusi.
"Terimakasih nona, atas kemurahan hati anda." Ucap Lino dengan penuh hormat.
"Tidak perlu terimakasih kepadaku. Berterima kasihlah kepada keponakanmu sendiri." Kata Aquila acuh dan kemudian langsung menunggangi punggung Leave.
"Aku akan pergi, jaga diri kalian. Dan selamat tinggal. Ayo kak Nami kita pergi." Kata terakhir Aquila lalu mereka pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Minami ingin mengucapkan sesuatu kepada rombongan itu, namun Aquila sudah mendahuluinya dengan cepat. Dia hanya bisa melihat mereka sebentar dan langsung pergi menyusul nonanya yang telah mendahuluinya.
__ADS_1
"Ada apa dengan gadis itu?" tanya salah satu orang dalam kelompok Lino.
"Aku tidak tau, tapi di mirip sekali dengan yang mulia Liliana." Sahut yang lain.
"Benar, tadi yang mulia Messiah mengatakan kalua dia adalah keponakan yang mulia Lino kan?"
"Iya, benar, tapi kenapa dia menutupi kepalanya dengan tudung hitam itu?"
"Aku tidak tau."
Lino yang mendengarkan bisikan hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah dan memang gadis bertudung hitam itu mirip sekali dengan kakaknya Liliana.
"Hei, kalian. Jangan bergosip. Lebih baik kita mencari makanan untuk makan malam, sebelum hari menjadi gelap." Tegur Lino kearah kerumunan yang membicarakan gadis bertudung hitam itu.
"Baik." Lalu mereka membubarkan diri dan keluar dari kubah itu, saat mereka berada diluar kubah mereka menjadi terkejut karena orang yang ada didalam kubah itu tidak terlihat dan hanya sungai dan pohon yang terlihat jelas.
Aquila, Minami dan Leave sampai ditembok kota sebelum matahari tenggelam. Namun mereka disambut dengan suara yang berisik dari dalam kota tetang kejadian hari ini yang menggemparkan seluruh kekaisaran tentang musim semi yang muncul secar mendadak. Sebab semenjak bangsa elf hilang sudah tidak terjadi lagi musim semi.
Biasanya dari musim dingin langsung ke musim panas, desah-desuh terdengar di setiap penjuru jalan itu tentang bangsa elf yang kembali lagi dan ada juga mengatakan kalau musim telah normal kembali bukan karena bangsa elf telah kembali.
Aquila dan rombongannya hanya bisa mendengarkan saja, sebab semua yang orang katakan tidaklah sepenuhnya benar, tapi hanya mereka bertiga yang tau sebab dari semua kejadian yang terjadi.
Kini kota menjadi sejuk tidak seperti sebelumnya yang lumayan panas seperti musim panas. Namun kediaman jenderal menjadi panas karena ulah seekor kucing yang membuat kekacauan dimana-mana dalam Mension itu.
Seperti lukisan yang penuh tanda cakar, porselen yang mengkilap pecah berantakan akibat ulah kucing putih itu serta dapur yang berantakan dengan perabotan yang berhamburan. Para prajurit berlarian untuk menangkap pembuat onar yang merepotkan mereka.
__ADS_1
Mension yang sebelumnya indah dan mewah kini menjadi hancur berantakan seperti kapal yang jatuh dari ketinggian. Serta banyak orang yang mendapatkan luka cakaran atau gigitan dari kucing putih itu. Jenderal sendiri tak luput dari keganasan kucing itu.
Sang istri hanya bisa berteriak histeris melihat kediamannya yang dia kira tidak terjamah oleh kucing itu ternyata lebih parah dari yang dia duga. Kasur yang dulu rapih kini menjadi compang camping, semua gaun yang indah hancur dan sudah tidak bisa dipakai lagi, perhiasan yang terbuat dari emas dan intan raib. Serata perabotan yang ada didalam menjadi barang yang tak berguna lagi membuat istri jendral itu tak sadarkan diri.
Jendral yang sudah geram dengan tingkah hewan onar itu langsung mengangkat pedangnya untuk menebas kepala kucing itu, namun dengan lihainya kucing putih itu menghindar dan menyerang balik dengan cakar depannya yang runcing itu. Setelah puas membuat keributan kucing itu pergi begitu saja, dan tentu saja kalian tau siapa pembuat rusuh itu.
Kucing kecil putih itu adalah Shiro yang memang sengaja membuat keributan dalam Mension itu dan mengambil harta berharga untuk dirinya sendiri, serta mencari tau dimana saudaranya berada.
Shiro langsung melesat dengan lincah melewati atap rumah dipinggir jalan untuk menuju tempat penginapan mereka tinggali sebelumnya. Saat tiba di jendela, Shiro disuguhi pemandangan yang membuatnya ingin bergabung dan menghabiskan semuanya.
Tentu saja makanan yang memenuhi meja dengan berbagai makanan yang membuat perutnya meronta untuk diisi, dengan sigap Shiro langsung meloncat kemeja namun naas, dia tertangkap oleh tangan kecil nan putih milik Aquila.
"Adik kecilku mau bergabung?" Tanya Aquila dengan nada yang jahil. Shiro pun menganggukan kepalnya.
"Lebih baik kamu mandi dulu, aku tidak mau makan dengan kucing kotor sepertimu." Sambil melemparkan Shiro dalam bak mandi yang mengepulkan uap yang bertanda kalau air dalam bak mandi itu masih hangat.
Shiro hanya bisa pasrah dengan kelakuan kakaknya yang tidak ada akhlak itu dengan melemparkannya dengan ganas.
BYYUURRR.....
Suara percikan air yang keras dan air yang keluar dari dalam bak, lalu Aquila menghampiri Shiro yang masih mencerna apa yang terjadi dengan dirinya itu. Aquila mengambil sikat dan sabun dari kalung dimensi pemberian kakaknya Erlando Aisar tiga tahun yang lalu.
Dan mulai lah operasi pembersihan kucing kotor itu, namun ditolak keras oleh Shiro dan meronta-ronta ingin dilepaskan.
"Kakak, aku bisa mandi sendiri. Dan kenapa kamu meleparku dengan kasar!!!" Protes Shiro namun cengkeraman Aquila tidak lepas.
__ADS_1
"Aku tidak yakin kalau kamu akan mandi dengan bersih, apalagi tampilan mu yang kotor dengan penuh debu, apa kamu masuk dalam loteng untuk mencari tikus?"
Minami dan Leave hanya bisa melihat Shiro perihatin dan tanpa ikut campur antara kakak beradik berbeda generasi dan spesies itu.