Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 109


__ADS_3

Deruan angin badai telah melemah dan kini menghembuskan angin sejuk yang membuat siapapun akan terlena dalam buaian angin yang tenang. Reruntuhan bekas kerajaan Candana terlihat indah dengan rerumputan hijau yang berdiri tegak dan bergoyang tertiup angin pelan.


Tiang-tiang penyangga masih kokoh berdiri namun tidak ada atap yang menaunginya sehingga cahaya bebas menerangi lantai ubin yang sudah pecah dan di tumbuhi rumput liar. Istana Candana masih terlihat utuh sebagian dan sebagiannya lagi sudah rata dengan tanah didaratan yang melayang.


Jembatan penyebrangan antar pulau masih terlihat dengan banyak bagian yang rusak parah dan tidak bisa dilalui lagi. Sebuah menara abu-abu menjulang kokoh dengan ke agungan nya sendiri di langit yang dilalui gumpalan awan putih nan bersih.


Sebuah bangunan masih terlihat utuh dengan beberapa kerusakan kecil, didalam bangunan itu terdapat beberapa hewan berukuran kecil dengan aura yang tidak biasa. Dan seorang pria yang berumur sekitar tiga puluh tahun tergeletak nyaman dengan balutan selimut coklat dan seorang elf tertidur pulas dipangkuan seorang gadis yang bersuara putih dengan tanduk di kepalanya merawatnya dengan sabar.


Langkah cepat dari seekor kucing putih dengan seekor ular ungu yang menjaga seorang gadis bersurai perak tergeletak lemah dengan wajah pucat bak kapas putih yang baru saja dipetik. Mengagetkan para pilar yang masih menunggu kedatangan mereka yang dengan cemas dan terutama gadis bertanduk yang sedang merawat seorang elf.


"Apa yang terjadi dengan nona?" Tanya Leave kepada Shiro yang baru saja datang dengan nafas memburu kencang.


"K-kak Aquila kehabisan mana miliknya saat membangkitkan saudaraku dan aku tidak tau kenapa kak Aquila bisa memiliki luka dalam." Jawab Shiro dengan nafas tersengal.


Rugiel dan Helios langsung berubah menjadi wujud remaja agar memudahkan Aquila yang masih dililit oleh Adrian agar tidak terjatuh dan kemudian Aquila diletakkan di samping Minami yang masih tertidur.


"Apa nona akan baik-baik saja tuan?" Tanya Leave sambil menghapus sisa darah kering di dagu Aquila dengan air yang sudah disiapkan oleh Leave saat merawat pria yang tidak sadarkan diri dan Minami yang masih tertidur.


"Aku tidak tau, semoga saja kak Aquila tidak kenapa-napa." Kata Shiro yang ikut duduk di samping Aquila dan diikuti juga oleh para pilar yang lain.


"Kenapa kak Aquila bisa begini, bukankah tadi baik-baik saja saat memasuki bekas bangunan hancur itu?" Tanya Helios penasaran dengan wajah yang terlihat sangat mencemaskan Aquila yang berwajah pucat.

__ADS_1


"Iya, dan kenapa Giel tidak melihat Eger? Bukankah seharusnya mengikuti mu Rino?" Tanya Rugiel sambil mengamati sekitarnya dan tidak menemukan yang dia maksud.


"Dia masih di dalam sana, dan aku tidak tau kenapa dia sangat membenci kak Aquila. Padahal kak Aquila lah yang membebaskan dia dari kegelapan." Kata Shiro dengan menghela nafas lemah.


"Oh, jangan-jangan dia lah yang melukai kak Aquila." Tebak Soleil dengan gaya berpikir keras.


Adrian langsung mendesis menanggapi perkataan Soleil dengan setuju, sebab dia lah yang melihat dengan jelas perlakuan Vent Leger yang terlihat akan menyerang Aquila saat sudah tidak sadarkan diri.


"Apa itu benar Rino? Akan aku hajar dia sampai mengakui kesalahannya itu...!" Kata Helios dengan wajah marah dan mengepalkan tangannya.


"Benar, Eger sangat egois, bagai mana pun kak Aquila itu kakak Eger juga..!" Ucap Rugiel dengan mengebu-gebu.


"Tenang lah kalian, aku tau apa yang kalian rasakan. Tapi kita jangan salah sangka kepada Eger, dia memang membenci kak Aquila sebab kelakuan para manusia yang membunuhnya dan menyerap permata kehidupannya." Jelas Shiro untuk meredamkan marah para saudaranya yang tidak terima dengan perlakuan Vent Leger pada Aquila.


"Bagai mana pun juga, aku akan menanyakan hal ini pada nya...!!" Kata Helios pergi meninggalkan mereka.


"Leil, tolong kamu ikuti dia. Aku tidak mau mereka saling bertarung karena kesalahpahaman yang tidak disengaja ini." Kata Shiro memohon pada Soleil yang disayangi oleh mereka semua.


Soleil mengangguk setuju dan langsung menyusul Helios yang sudah keluar dari dalam bangunan itu. Soleil adalah salah satu pilar terpenting dan bijaksana setelah Catarino dan juga yang paling muda diantara mereka semua, jadi sangat wajar bila pilar yang lainnya sangat menyayanginya dan akan menurutinya dari pada Shiro.


Namun sikap polos dan tidak dapat membedakan situasi membuat mereka para pilar yang lain menjadi sakit kepala bila kelakuannya kambuh kembali namun enggan untuk memarahinya. Tipikal kakak yang sangat menyayang.

__ADS_1


Kini Helios telah sampai dimana Vent Leger tengah termenung didepan altar Dewi cinta dan tidak mengetahui kehadiran Helios yang sudah dibelakang nya dengan tatapan yang menusuk bila dia melihatnya.


"Hei Eger...!!" Teriak Helios yang mengagetkan Vent Leger yang masih terhanyut dalam lamunan dan perkataan Shiro yang memberitahukan tentang siapa yang membangkitkan nya dari kegelapan yang berkepanjangan.


Vent Leger tersentak terkejut karena teriakan penuh amarah yang suaranya sangat dia kenali, yaitu Helios sang pilar cahaya yang terus bertengkar dengan Adrian sang pilar malam.


"Ke-kenapa kamu bisa ada disini Lio?" Tanya Vent Leger terbata karena aura penuh amarah nan panas dari Helios.


BUUKKK.....


Bukan jawaban yang Vent Leger dapatkan, tapi sebuah bogem mentah dia dapatkan di wajah berbulu Vent Leger yang membuatnya jatuh terpental menabrak tiang di samping patung Dewi cinta. Dengan rasa nyeri yang bersarang diwajahnya bahkan bulu yang terkena tinjuan dari Helios langsung hangus menyisakan noda hitam arang.


"Ke-kenapa? A-apa salahku?" Tanyanya tidak mengerti dengan tingkah saudaranya itu.


Helios langsung berjalan cepat kearah Vent Leger dan mencengkram rahang bawahnya yang berusaha berdiri dengan kaki gemetar karena rasa sakit ditubuhnya akibat benturan dengan tiang penyangga di samping patung sang Dewi.


"Kau tanyakan kenapa? Ternyata kamu sama sekali tidak merasakan bersalah setelah melukai kak Aquila." Ucap Helios dengan marah.


"A-apa maksudmu Lio? Oh, apa yang kamu maksud itu adalah manusia yang dibawa oleh Rino?" Tanya Vent Leger tidak percaya.


"Iya, memang benar. Kenapa?" Tanya balik Helio dengan marah.

__ADS_1


"Cih, apa bagusnya manusia itu. Dan ternyata kamu sudah terpengaruh seperti Rino dan musuhmu itu." Kata Vent Leger dengan wajah tidak suka.


"Siapa yang kamu maksud hah?! Aku tidak memiliki musuh, dan ingat Eger, kak Aquila itu bukan orang yang kamu maksud dan kami semua tidak dipengaruhi oleh kak Aquila, kita mengikutinya secara suka rela tidak ada paksaan Eger.!" Kata Helios penuh penekanan di setiap katanya.


__ADS_2