Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 31


__ADS_3

Sang jendral tidak bisa menerima apa yang menimpa dirinya, kedua tangannya tidak berfungsi. Rasa marah masih terlihat diwajahnya yang tua. Prajurit yang mengikutinya tidak bisa membantu mereka sendiri dalam keadaan yang tidak bisa bergerak karena dalam penjara buatan Leave dan Minami yang selalu mengawasi mereka.


"Jadi pak tua, lebih baik pulang saja dan obati luka mu sebelum menjadi parah. Dan istrimu pasti akan sedih melihat keadaanmu seperti ini." Ucap Aquila seperti anak yang berbakti namun dengan nada yang sinis dan merendahkan.


"Aku tidak akan pulang sebelum memotong kepalamu dan memberikan kepada anakku yang telah kamu hancurkan masa depannya." Sang jendral masih kukuh dengan pendiriannya, lalu berdiri dan mengambil pedangnya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya sekarang. Dengan tangan yang bengkok dan bengkak, sang jendral itu terus memaksakan tangannya untuk memegang pedang yang patah.


"Pak tua yang sangat keras kepala." Ucap Aquila lalu menghilang dari hadapan jendral kekaisaran selatan dan muncul dibelakangnya dan memukul tengkuknya hingga jendral itu tidak sadarkan diri.


"Huh, begini lebih baik. Kak Nami, tolong urus pak tua ini."Teriak Aquila kepada Minami yang sedang duduk di bagian atap penjara kristal milik Leave.


"Baik nona." Minami turun dari atap pejara dan langsung menuju tempat jendral yang tidak sadarkan diri itu.


Aquila langsung menggunakan sihir anginnya untuk menyusul Shiro yang tengah bertarung dengan Griffin yang tak lain adalah Rugiel yang tidak sadarkan diri akibat kutukan perbudakan.


Diatas langit yang penuh awan hitam dan petir yang menyala-nyala dan suara gemuruh yang memekakkan telinga yang mendengarkannya. Disana terdapat seekor kucing dengan ekor yang melambai karena terkena angin dengan sayap putih yang terus mengepak agar tetap ditempat, dan seekor Griffin yang terus menyerang namun serangan itu seakan tidak mau melukai kucing yang ada dihadapannya itu.


Berbicara tidak ada gunanya, karena jawaban yang dilontarkan hanyalah Geraman mengancam. Sehingga Shiro lebih baik diam dan terus menghindar, meskipun serangan itu tidak mengenainya.


Aquila yang ada didalam awan tidak bisa melihat dengan jelas, karena pandangannya terhalang oleh kabut awam hitam dan kilatan cahaya yang membutakan mata.


"Aku lebih suka melihatnya dari jauh, daripada harus sedekat ini membuat mataku sakit saja." Ocehan Aquila karena cahaya yang bermuatan itu terus menyambar.


"Dimana mereka, kabut ini mengganggu saja." Aquila membuat rune kuno sederhana dan menyalurkan mana nya untuk mengaktifkannya, cahaya berwarna abu-abu keluar dari dalam rune dan kemudian angin besar datang dan menyingkirkan kabut yang menghalangi pandangannya.


Setelah kabut dalam awan hitam menghilang, sebuah halilintar mengarah kearah Aquila dengan kecepatan tinggi. Tapi bagi Aquila itu hanyalah kecepatan biasa yang digunakan Shiro untuk mengejarnya dalam permainan atau berlatih dahulu.

__ADS_1


Dengan mudah Aquila menghindarinya, namun tanah yang ada bawahnya menjadi berlubang dengan asap hitam yang membumbung tinggi.


"Sepertinya aku harus memperbaiki semuanya setelah semuanya usai." Keluh Aquila lalu melihat keasal serangan tadi.


Tepat diatasnya, seekor hewan suci Griffin yang berwarna kuning emas kusam terus menerus menyerang seekor kucing putih dengan sayap yang terus menghindar tapi serangan itu tidak mau melukainya.


Aquila langsung terbang kearah mereka dan berhenti ditengah-tengahnya dan melihat raut wajah yang kesakitan dari Griffin itu. Kemudian Aquila merentangkan tangannya untuk menerima serangan yang diarahkan ke kucing yang berada dibelakangnya.


"Kakak, jangan bertindak bodoh.!!" teriak Shiro panik.


"Aku tidak apa-apa, tenanglah." Ucap Aquila menenangkan, lalu halilintar besar mengenai itu tubuh Aquila.


"Kakak.....!!" Shiro langsung terbang kearah Aquila, namun orang yang dicemaskan tidak ada. Tetapi muncul di depan Griffin itu.


Aquila menggoreskan ujung tongkat kecil itu ke telapak tangannya dan mengeluarkan sedikit darahnya, lalu tangan itu menyentuh kening dari Griffin. Aquila memeluk kepala elang itu membelainya dengan tangan yang terluka.


"Ghheerrr..." Geraman kecil itu seakan menyiratkan kesedihan dan kerinduan yang dalam.


"Tenanglah, kakak ada disini. Bukankah Rugiel sendiri memintaku untuk menjemputmu. Kakak ada disini dan akan membawamu kembali."


Ucapan Aquila bagaikan sihir, hewan besar yang sebelumnya ganas menyerang kini menjadi tenang dalam pelukan Aquila. Tubuh besar Griffin perlahan-lahan retak dan dari retakan itu keluar cahaya yang mengikuti pola retakan lalu jatuh satu persatu seperti potongan kertas yang jatuh dari ketinggian dan hilang ditiup angin.


Setelah semua potongan-potongan itu jatuh, dan didalam pelukan Aquila terdapat seorang anak kecil dengan rambut kuning yang menangis.


"Kakak, terimakasih telah menjemput ku hiks.." Tangis anak itu didalam dekapan Aquila.

__ADS_1


"Sudah tidak perlu menangis, kakak ada disini." Ucapan Aquila dengan lembut.


Aquila dan Rugiel tidak sadarkan diri dan terjatuh dari ketinggian dengan kecepatan yang sangat cepat. Shiro langsung membelakkan matanya karena mereka berdua jatuh sangat cepat tepat didepan matanya .


"Kakak.......!!!!!" Teriak Shiro sambil menggapai mereka berdua yang sedang jatuh bebas diudara.


Minami dan Leave hanya bisa khawatir melihat nonanya yang tidak sadarkan diri dengan seorang anak kecil dalam pelukannya, dan Shiro yang masih berusaha mengejar mereka walau tertinggal jauh.


Adegan yang menegangkan bagi mereka yang melihatnya, terutama Shiro yang berusaha menyelamatkan orang yang terpenting dalam hidupnya. Aquila dan Rugiel hampir menyentuh tanah, Shiro langsung menangkap mereka dengan punggungnya disaat kritis.


Jantung Shiro hampir keluar dari tempatnya bila dia tidak dapat menangkap mereka berdua, Leave dan Minami merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh Shiro.


Shiro mendarat di dihadapan Leave dan Minami dengan pelan takut menyakiti orang yang ada di punggungnya, lalu menurunkan kakinya dengan pelan. Minami langsung menghampiri dan menurunkan Aquila dan Rugiel dari punggung Shiro dan meletakkan ditumpukan rumput yang baru ditumbuhkan oleh Leave.


Minami dengan sigap menggunakan sihir cahaya yang dia kuasai untuk memulihkan mana milik Aquila dan menyembuhkan luka yang didapatkan dari serangan Griffin tadi.


"Bagaimana keadaan nona Nami?" Tanya Leave dengan cemas.


"Nona baik-baik saja, dan kemungkinan besok akan sadar." Kata Minami dengan nafas lega.


"Bagaiman dengan Rugiel?" Tanya Shiro.


"Kemungkinan untuk sadar dari tidurnya memerlukan waktu lama tuan." Minami sambil mengeluarkan cahaya penyembuhannya kearah Rugiel yang masih terpejam.


"Syukurlah, setidaknya dia lepas dari belelnggu orang itu." Ucap Shiro dengan lega meski harus menunggu lama untuk kesadaran sang saudara yang dinantinya cukup lama dan penderitaan.

__ADS_1


__ADS_2