
Leave terus memaksa Aquila untuk memakan semua makan yang telah tersedia. Sedangkan perutnya sudah tidak sanggup untuk menambah lagi meski hanya sesuap.
"Kak, aku sudah tida kuat lagi. Lebih baik kak Leave simpan yang masih tersisa." Kata Aquila dengan memengangi perutnya yang membuncit.
"Baiklah, asalkan nona memakannya nanti saat makan siang." Kata Leave tersenyum puas.
Kemudian Leave memisahkan piring kosong dan yang masih terisi dan memasukannya dalam ruang dimensinya. Dan membawa piring yang kosong untuk dicuci yang berjarak sangat jauh dari tempat yang mereka tempati itu.
"Kak, dimana Shiro dan lainya, kenapa aku tidak melihat mereka?" Tanya Aquila sebelum Leave pergi.
"Mereka bilang ingin pergi kehutan dan sebagiannya lagi pergi ke sebuah menara nona. Tunggu lah, mereka akan datang dalam waktu dekat." Jawab Leave sebelum pergi.
Aquila hanya mengangguk tanda mengerti, setelah perginya Leave Aquila langsung terduduk bersikap lotus untuk menyerap mana dan tentu saja menunggu mereka kembali dari tempat yang dikatakan oleh Leave.
Adrian juga mengikuti Aquila yang tengah menyerap mana dan melingkar disamping Aquila. Selang beberapa lama, Leave kembali setelah mencuci piring kotor dan membawa sebuah wadah kayu yang berisi air untuk digunakan oleh Aquila membersihkan wajahnya.
Namun Leave memendam niatnya yang melihat nonanya tengah sibuk menyerap mana dan memulihkan vitalitas yang selama ini telah melemah. Namu suara berisik dari luar membaut Leave langsung meninggalkan Aquila dan Adrian untuk memberi peringatan.
"Shhuuttt.....! Tuan, jangan berisik. Nona akan terbangun bila terganggu nanti." Peringat Leave pada Helios dan Rugiel yang tengah merebutkan sesuatu yang tidak diketahui oleh Leave.
"Itu bagus bila kak Aquila bangun, agar aku bisa mendapatkan pujian dari kak Aquila." Kata Helios dengan wajah berbinar.
"Aku mengerti, tapi kali ini nona sedang memulihkan mananya. Jadi aku harap kalian tenang." Pinta Leave.
"Berarti kak Aquila sudah bangun... Giel akan menemui kak Aquila, Giel sangat merindukan kak Aquila..." Ucap Rugiel dan kemudian berlari kearah bangunan yang mereka tempati.
"Giel, tunggu aku...!! Aku juga ingin menemui kak Aquila...!!!" Seru Helios sambil berlari mengikuti jejak Rugiel yang sudah mendahuluinya dan melupakan hasil buruan mereka berupa kijang dewasa yang mereka rebut kan.
__ADS_1
Sedangkan Leave hanya bisa tersenyum pasrah menyaksikan kedua pilar yang sangat antusias untuk menemui nonanya yang baru saja sadarkan diri itu.
"Nona Leave, kamu kenapa tersenyum sendiri?" Tanya Minami yang terheran melihat Leave tersenyum kearah sebuah bangunan nan usang yang mereka semua tempati.
"Ah... Tidak ada... Ah..! Ternyata kamu Nami. Aku kira siapa, apa kamu sudah mengumpulkan bahan-bahan untuk memulihkan stabilitas kesehatan nona?" Tanya Leave sambil mengamati keranjang yang berisi berbagai jenis tumbuhan.
"Hampir semuanya, hanya tinggal bunga cahaya dan akar pedas saja, kedua tumbuhan itu tidak ada di hutan ini." Kata Minami menjelaskan dengan kecewa dalam suaranya.
"Tidak apa, kita bisa mencarinya di wilayah lain saat nanti kita menjelajahi nya." Hibur Leave kepada Minami.
"Ya, aku harap begitu. Apa benar nona sudah bangun?" Tanya Minami.
"Sudah, nona sekarang sedang menyerap mana untuk menyetabilkan kolam mananya yang sudah berkurang itu." Jawab Leave. Tanpa mereka berdua sadari, mereka berdua telah sampai. dibangunan yang mereka tempati untuk sementara.
Dan didalam ruangan yang cukup luas itu sudah terkumpul semua pilar dan duduk dengan manis menunggu Aquila membuka matanya setelah memulihkan seluruh mananya. Dan tentu saja pemandangan seperti itu sangat jarang terjadi, biasanya mereka akan selalu berebut untuk mendapatkan perhatian dari Aquila. Alhasil mereka langsung dimarahi Aquila karena mengganggunya.
"Kalian kenapa?" Tanya Aquila menatap lekat kepada mereka.
"I-itu... Mata kak Aquila... Sangat menyeramkan." Kata Soleil dengan wajah ngerinya. Sontak saja para saudaranya yang lain langsung memelototi Soleil dengan peringatan.
"Apa? Aku tidak mengatakan hal yang salah kan?" Tanya Soleil dengan percaya diri, karena yang dikatakannya memang sebuah kebenaran.
Tentu saja ucapannya Soleil memang benar apa adanya, namun momennya tidak tepat dengan situasi saat ini. Hal itulah yang membuat saudaranya yang lain langsung memarahinya dengan tatapan peringatan. Namun yang di berikan peringatan menatap mereka dengan wajah yang polos.
"Huh, sepertinya peringatan kita tidak dia rasakan." Kata Helios dengan nada yang sebal.
"Ya, Giel rasa kak Aquila akan marah." Kata Rugiel menebak.
__ADS_1
"Kita hanya bisa melihat dan tidak bisa menyelamatkannya saat kak Aquila masuk dalam mode marahnya." Kata Shiro dengan pose berdoa.
"Apa yang kamu lakukan Rino, apa kamu mau mengajak ku berdoa?" Tanya Soleil dengan rasa ingin tahu dengan apa yang dilakukan oleh shiro.
Dan secara spontan, Shiro, Rugiel, dan Helios langsung terjatuh tersungkur ke depan karena pertanyaan Soleil diluar ekspetasi mereka.
Aquila yang melihat tingkah mereka bertiga hanya bisa menahan tawa karena tingkah mereka yang menurutnya menghibur itu.
"Pftt.... ehem. Jadi, sejak kapan serigala itu ada disini?" Tanya Aquila mengalihkan perhatiannya pada Vent Leger yang berdiri dibelakang Shiro dan yang lainnya.
"Nama nya Vent Leger, kami semua biasanya memanggilnya dengan Eger." Kata Shiro memperkenalkan.
"Oh, jadi itu nama dari serigala kecil. Cukup panjang namamu." Kata Aquila dengan tersenyum ramah.
Lalu Vent Leger menghampiri Aquila yang masih terduduk di samping Adrian yang juga sudah bangun dari menyerap mana bersama Aquila sebelumnya. Adrian mendesisi rendah kepada Vent Leger seolah dia adalah musuh yang tampak lebih berbahaya daripada Helios yang seringkali mengacau dirinya saat tertidur disiang hari.
"Aku punya pertanyaan penting untuk mu manusia." Kata Vent Leger dengan suara yang dingin.
" Apa yang ingin kamu tanyakan." Kata Aquila membalas perkataan Vent Leger tidak kalah dingin dari ucapan Vent Leger dan membuat mereka semua langsung menggigil kedinginan.
Vent Leger tidak menyangka kalau manusia yang ada dihadapannya begitu sangat kuat bahkan aura penindasannya jauh lebih berat dari pada miliknya sendiri. Sedikit ketakutan terlihat di matanya yang bernetra abu-abu Vent Leger, namun ia abaikan demi menemukan jawaban yang selama ini ia pendam terhadap manusia yang ada dihadapannya itu.
"Siapa kamu?"
*Hai minna-san, gimana kabarnya?
Tentu saja sehat, dan dua hari terakhir author sangat sibuk hingga tidak sempat megang hp sekedar untuk lihat doang. Dan hari ini pun author agak sedikit repot, tapi masih sempat buat satu chapter. Dan kemungkinan author hanya bisa up hanya satu chapter sampai lebaran berlalu.
__ADS_1
Sampai jumpa di hari* berikutnya. 😘😘😘😘