Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 128


__ADS_3

Sehari telah menghilang dalam sekejap dan kini telah digantikan kembali oleh sang rembulan malam yang indah dengan cahaya perak yang menaungi seluruh kekaisaran Zemlya. Gemerisik angin musim dingin meniup butiran salju lembut untuk sampai pada sang bumi Callista yang tengah tertidur dalam malam yang tenang.


Hewan buas telah berganti bulu dan kini telah mendekap dalam kehangatan sarang yang mereka bangun dalam musim gugur yang bernaung gelapnya langit. Sedangkan para burung telah lama meninggalkan kekaisaran Zemlya untuk mencari tempat yang hangat dan membesarkan anak-anak mereka di tempat yang baru.


Suka cita menjadi buah yang begitu manis yang mereka tunggu dalam duka cita ancaman yang kini sudah berakhir, tidak ada suara tangsi bayi yang selalu memenuhi langit malam yang suram. Kini yang terdengar suara alam yang tenang membelai mahluk hidup untuk beristirahat sejenak dalam mimpi yang indah.


Minami pun merasakan ketenangan jiwa setelah menuntaskan amarah yang dia pendam selama dia datang di kekaisaran Zemlya, kini hanya senyum cerah secerah bintang fajar di senja hari setelah sang matahari tenggelam dalam keheningan angkasa yang luas.


Setelah puas berbincang-bincang dengan pamannya dan mengucapkan salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya. kemudian Minami pun kembali ke tempat yang mereka sewa bersama dengan Aquila dan para pilar dunia Callista.


Rumah yang senantiasa ramai kini menjadi sunyi dan sepi tanpa ada kebisingan seperti biasanya yang selalu diisi dengan canda tawa dari para pilar yang senantiasa bergema memenuhi ruangan yang kini sunyi.


Minami pun berjalan menyusuri lorong ketempat dimana Aquila beristirahat, dan didalam kamar itu ternyata sudah penuh dengan berbagai bentuk hewan yang tertidur diatas ranjang yang sama digunakan oleh Aquila. Minami hanya tersenyum kecil dan kembali menutup pintu.


"Rasanya baru kemarin aku bertemu dengan nona, padahal waktu telah berlalu dengan sangat lama. Aku harap aku senantiasa bisa melayani mu sampai akhir hayatku." Ucap Minami setelah menutup pintu dan kemudian langsung memasuki ruang yang berada di samping tempat Aquila tempati.


"Minami, kau baru pulang?" Tanya Leave yang masih berdiri didepan jendela menikmati malam yang tenang.


"Ya, aku tidak menyangka kalau akan memakan waktu yang cukup lama." Jawab Minami membalas pertanyaan Leave yang masih terdiam ditempat sebelumnya.


"Tidak masalah, lebih baik kau istirahat lah. Biarkan aku yang menjaga kalian. Aku tau kalau Minami sangat kelelahan." Kata Leave dengan suara yang lembut.

__ADS_1


"Baiklah, bila ada sesuatu yang mencurigakan, bangunkan saja aku nona." Kata Minami, kemudian langsung mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah.


"Tentu saja. Selamat malam." Kata Leave, namun hanya suasana yang sunyi lah yang menjadi teman dimalam itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Fajar telah menyingsing memamerkan warnanya yang cerah, tumpukan salju telah memupuk didepan jendela membentuk senyum dikaca yang dingin. Aquila masih terus bergulat dengan selimut untuk meredam rasa dingin di kulitnya yang halus.


"Kakak..... Bangun..... Ini sudah pagi...." Kata Rugiel sambil mengguncang tubuh Aquila dengan lambat.


"Lima menit lagi..... Biarkan aku tidur sebentar lagi...." Kata Aquila dengan malas dan menutupi wajahnya dengan selimut.


"Kakak.... kak Dita... Bangun... kita harus berangkat sekarang sebelum badai salju." Kata Soleil sambil menarik selimut Aquila dengan keras, namun tidak ada perubahan sama sekali.


"Kak Aquila, kak Aquila kenapa wajah kakak memerah. Kata Rino itu mirip dengan orang utan." Kata Rugiel dengan wajah yang polos tanpa ada noda.


"Giel, apa itu orang utan?" Tanya Soleil dengan wajah yang penasaran akan kata yang baru saja dikatakan oleh Rugiel.


Sedangkan Aquila merasakan kejadian de javu yang menusuk perasaannya itu. "Bisakah kalian diam?" Kata Aquila dengan wajah tidak suka yang terlihat jelas.


"Kakak.... Ayo cepat bangun. Giel sudah lapar, nanti Adrian akan menghabiskan sarapan yang disiapkan kak Nami dan kak Leave, Giel tidak mau...." Kata Rugiel dengan merengek sambil menarik tangan Aquila.

__ADS_1


"Kak Dita, kita juga harus segera berangkat. Kata Adrian akan ada badai salju siang nanti. Aku tidak mau bila harus berjalan di tengah badai." Kata Soleil yang juga menarik tangan Aquila.


Sebenarnya Aquila sudah mulai merasa jengkel dengan apa yang dikatakan oleh Rugiel dan Soleil, namun semua itu sirna karena tidak tega dan juga gemas dengan tingkah mereka berdua yang terlampau manis menurut Aquila.


"Baiklah, baiklah... Aku akan segera menyusul. Kalian berdua keluarlah terlebih dahulu." Kata Aquila dengan menahan keinginan untuk mencubit pipi tembem dari Rugiel dan Soleil yang sedikit memerah.


"Kak Aquila harus cepat ya... Atau Adrian akan menghabiskan sarapan milik kak Aquila." Kata Rugiel memperingati.


"Aku jadi penasaran, apa mungkin Adrian akan serakus itu." Ucap Aquila sambil merapihkan rambutnya yang sudah berantakan dan kusut dan memakai pakaian khas musim dingin dengan bulu rubah yang terpasang di lehernya.


Setelah puas melihat tampilannya, Aquila pun turun dari kamar yang dia gunakan untuk menyusul Shiro dan para saudaranya dan juga kedua kakaknya yang telah menunggunya untuk sarapan dan senantiasa memasakkan makanan untuk mereka semua.


Bertapa terkejutnya Aquila, benar yang dikatakan oleh Rugiel. Adrian telah memakan sarapannya juga tanpa meninggalkan bekas kecuali piring yang kosong.


"Adrian.....!!!! Kenapa kamu memakan sarapanku......!!!!!" Teriak Aquila dengan sangat keras hingga membuat telinga mereka berdengung sakit, tentu saja Aquila tidak sadar karena berteriak biasanya Aquila hanya melototi dengan tajam tanpa ada teriakkan yang memekakkan telinga.


Adrian hanya menampilkan senyuman tidak bersalah dan sempat melahap beberapa potong buah dihadapan Rugiel. Tentu saja membuat Rugiel mendengus tidak suka.


"Kak Aquila, kakak sangat lama, aku sudah sangat lapar hingga aku tidak sengaja memakan sarapan kakak. Aku kira kak Aquila tidak butuh sarapan karena kakak sangat lama." Kata Adrian dengan tidak merasa bersalah.


"Sudahlah nona, akan aku buatkan sarapan lagi untukmu." Kata Minami sambil membawa piring Aquila yang sudah kosong karena isinya telah ditelan oleh Adrian.

__ADS_1


"Baiklah, kak Nami buatkan aku menu yang sederhana saja. Dan juga kak namun jangan lupa untuk makan juga." Kata Aquila yang sudah pasrah.


"Jangan khawatir nona, aku sudah sarapan dengan nona Leave tadi sebelum mereka sarapan disini." Kata Minami yang di setujui juga oleh Leave yang masih berdiri dibelakang Aquila untuk membentuk kan tatanan rambut Aquila yang lumayan acak-acakan itu.


__ADS_2