
Matahari berada di singgasana cakrawala yang tinggi, memancarkan cahaya terik disiang yang cerah awan beriringan menjelajahi luasnya langit biru.
Didahan pohon yang rindang, terselip sebuah bunga yang indah dan juga langka yang dilindungi oleh dua burung yang cantik dan menawan, ekor panjangnya menjuntai tertiup angin siang yang sejuk.
Beberapa tupai melompat dari satu pohon ke pohon lain untuk mencari makan, saat dipohon yang terdapat sepasang burung yang tidak jauh dari anggrek itu. Tupai yang penasaran pun mendatangi nya dan seketika langsung diusir secara kasar oleh kedua burung itu yang merasa terganggu dengan kehadiran sang tupai.
Aquila menyaksikan hal yang sangat jarang terlihat di bumi, pertengkaran hewan liar dialam bebas seperti saat ini. Setelah si tupai jatuh ketanah dengan keras.
Aquila memberanikan dirinya untuk menghampiri kedua burung yang terlihat agresif itu, pelan namun pasti Aquila semakin dekat dengan kedua burung itu dan bunga anggrek biru. Namun bukan serangan yang Aquila dapatkan melainkan kedua burung itu hinggap dipundak Aquila sambil bercicit merdu seakan mereka telah menunggunya.
"Burung yang cantik." Puji Aquila sambil mengelus salah satu burung.
Salah satu ekor burung terbang lalu hinggap di samping bunga anggrek seakan meminta Aquila untuk mendekati juga, Aquila pun mendekat dan tongkat kecil yang ada digenggamnya mulai bereaksi lagi bahkan lebih hebat dari sebelumnya.
Aquila mengarahkan tongkatnya kearah bunga anggrek bulan biru, sebuah sinar keluar dari dalam bunga itu dan masuk kedalam tongkat kecil. Tongkat kecil yang awalnya polos kini terdapat pahatan bunga anggrek bulan dengan warna biru di setiap kelopaknya.
"Kenapa bisa?" Kata Aquila yang terkejut. Namun kejutan yang lain pun menghampirinya.
Kedua burung itu pun terbang dimana lonceng yang terpasang di rambutnya mengeluarkan bunyi nyaring, kemudian kedua burung itu menghilang dan menjadi motif burung di bulatan kecil logam kuning yang selalu mengeluarkan bunyi saat ia berjalan.
Bunga anggrek yang ada didepannya berubah menjadi anggrek biasa dengan warna putih suci seperti bulan, dan aroma hurumnya menghilang.
Aquila tersadar dari keterkejutannya dan memutuskan kembali untuk menyusul para magical beast dan hewan buas yang tengah beristirahat. Tiupan angin membuat rambutnya bergoyang dan lonceng yang terpasang ikut begema.
"Kami akan mengikutimu Messiah. Dimana pun engkau berada kami selalu disampingmu." Sebuah suara sayup-sayup berbisik lembut di telinganya dan kemudian menghilang terbawa angin.
Aquila merasakan hal yang menurutnya aneh tentang tempat itu, ia merasakan seperti sedang melihat tempat horor yang ada di bumi dan sahabatnya Rin sangat menyukai hal-hal horor. Bulu kuduknya bangkit rasa takutnya mulai menjalar keseluruh tubuhnya dan meminta untuk segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Aquila segera melakukan gerakan langkah seribu untuk meninggalkan tempat itu dengan terges-gesa. Aquila tidak ingat jalan yang ia lalu sebelumnya, tetapi yang terpenting adalah segera pergi dari tempat itu.
Aquila terus berlari, tapi yang dia temui bukanlah rombongan magical beast atau Kakak dan adiknya. Tetapi yang ia lihat hanyalah kayu-kayu besar yang telah terpotong dari akarnya.
"Ayo cepat lakukan...! Jangan malas-malasan. Aku membelimu bukan untuk hal yang tidak berguna...! Cepat tebang semua pohon. Dasar budak tidak berguna...!" Teriak seseorang lelaki dengan jenggot yang menutupi sebagian wajahnya yang tampak menyeramkan dengan pakaian mewah yang dia kenakan.
"Apa...? Aku ada dimana...?" Aquila tidak yakin dengan apa yang dia lihat dan juga tidak mengenali tempat yang ia pijak.
"Hei yang benar saja...!? Apa-apaan ini..?" Teriak Aquila dengan lantang. Orang-orang yang ada ditempat itu langsung mencari asal suara teriakan yang nyaring itu, dan mereka lihat seorang gadis berumur lima belas tahun yang terlihat geram.
"Hei nona! Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya seorang prajurit dengan zirah yang melekat ditubuhnya dan tidak lupa membawa sebuah tombak dan cambuk.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kalian menebangi pohon disini?" Tanya Aquila sengit.
Seorang lelaki dengan wajah penuh berewok dan baju yang mewah menghampiri Aquila serta beberapa prajurit mengikutinya.
"Hallo juga tuan, saya memang tersesat dan rombongan saya." Ucap Aquila lemah lembut namun sebenarnya ia sedang bermain peran.
"Hehe, nona kalau begitu tinggallah ditempat sederhana milikku ini." Sambil menawarkan tangannya.
"Tidak, terimakasih tuan. Tapi saya harus kembali sebelum mereka semua menghawatirkan saya." Tolaknya secara halus.
"Nona, tidak baik gadis secantik kamu berkeliaran dihutan yang mengerikan ini. Lebih baik bermalam ditempatku?" Dengan senyum yang sangat ramah.
"Terimakasih tuan, tapi saya harus kembali." Kata Aquila sambil berjalan mundur seakan-akan takut.
"Dengan kecantikan yang indah seperti dirimu, aku tidak yakin kamu akan bisa lepas dari genggamanku nona." Ucap orang tadi.
__ADS_1
"Biarkan saya pergi tuan." Mata Aquila mulai berkaca-kaca karena ia mencubit bahanya dengan keras agar air matanya keluar.
"Jangan takut, mendekatkan paman akan memelukmu." Dengan wajah yang genit dengan tatapan penuh nafsu.
Senyum Aquila seketika mengembang, namun bukan senyum lembut seperti sebelumnya tetapi senyum mengejek.
"Akhirnya, kamu melepaskan topengmu ya paman?" kata Aquila sambil menghapus air mata buayanya dengan santainya seakan yang menangis tadi bukan dirinya namun orang lain.
"Ha Ha Ha.... Ternyata kamu menipuku anak kecil?" Kata paman bermuka penuh berewok itu.
"Aku tidak menipumu paman muka rambut. Aku hanya ingin tau sifat aslimu saja." Ungkap Aquila sambil menggaruk dagu dengan pandangan kearah lain.
"Sama saja gadis kecil. Sekarang kamu ada disini ikuti keinginan pamanmu ini agar kamu tidak terluka." Dengan muka yang mesum.
"Tch... Apa? Paman? Sejak kapan aku memiliki paman sepertimu?" Tanya Aquila sambil mengorek telinganya dengan jari kelingking.
"Dasar keras kepala. Kalian jangan diam saja, cepat tangkap gadis kurang ajar itu...!" Perintahnya kepada para perajut yang tengah terperangah dengan kelakuan gadis yang berubah dalam sekejap mata.
"Terserah kau saja om wajah rambut. Kau mengerahkan mereka semua tidak akan bisa menangkap ku yang lincah ini." Kata Aquila dengan sombong
"Kalian, cepat tangkap dia...!!!" Teriaknya geram dengan kelakuan bodoh prajuritnya itu. Para prajurit gelagapan karena teriakan tuan mereka.
Mereka mulai mengepung Aquila yang masih berdiri ditempat, dua orang melompat kearah Aquila untuk menangkapnya namun Aquila dengan lihainya menghindar lalu berdiri ditempat lain.
Kedai prajurit itu terjerembab mencium tanah yang lembab dan berlumpur, sontak saja lumpur pun masuk dalam mulut mereka. "Aduh, kenapa kalian sangat lambat sekali?" Tanya Aquila dari atas tumpukan kayu yang disusun rapih.
"Lihat saja, kali ini kamu tidak akan bisa kabur lagi." Ucap seseorang yang berada dibelakang Aquila.
__ADS_1