Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 89


__ADS_3

"Kak Aquila, kamu terlalu kejam. Setidaknya bangunkan kami, bukan langsung membuang kami dalam air dingin." Protes Shiro dengan wajah yang cemberut, padahal terdapat kepulan uap yang menandakan kalau air itu masih hangat.


"Hiks... Kakak...." Rengek Rugiel dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa? Lihatlah Soleil, dia sangat senang." Kata Aquila dengan tersenyum bahagia.


Shiro dan Rugiel langsung terdiam, dan langsung menatap Aquila dengan serius. "Apa? Aku mengatakan yang sebenarnya. Apa kalian berdua tidak merasakan kehadirannya?" Ucap Aquila yang tidak nyaman dengan tatapan penuh tanya dari kedua adiknya itu.


"Kak, kamu sedang bercanda? Bukankah hari ini kita bisa membebaskan Soleil." Kata Shiro dengan wajah masam.


"Buat apa aku bercanda Shiro. Lihatlah, dia ada dibelakang kalian." Kata Aquila dengan tersenyum meyakinkan.


Shiro dan Rugiel langsung menghadap kebelakang mereka, dan benar apa yang dikatakan Aquila. Dibelakang mereka terdapat kura-kura kecil yang sangat mereka rindukan dengan tatapan polos yang menatap Shiro dan Rugiel.


"Leil....? Kamu kah itu?" Rugiel sambil berenang menghampiri Soleil yang terapung.


Soleil hanya bisa menganggukan kepala sebagai jawaban. Shiro langsung menghampiri Soleil yang sudah di hampiri oleh Rugiel yang tengah mengelus kepala satu sama lain sebagai bentuk kasih sayang.


"Ah...., dimana kebencian kalian terhadap air. Sekarang kalian sangat suka berendam ya?" Merasa diabaikan, Aquila langung melerai mereka yang tengah melepaskan rindu.


"Apa kalian ingin tetap berendam, kalau begitu aku akan pergi saja." Ucap Aquila sambil berdiri berpura-pura marah dan kemudian pergi meninggalkan bak mandi.


"Kak Aquila, kamu sangat tega. Pertama kakak melemparkan kita dalam bak mandi saat kami tidur, kedua membiarkan kita kedinginan di air yang dingin. Apa kakak ingin kita mati kedinginan?" Ucap Shiro dengan protes saat Aquila akan pergi meninggalkan mereka tanpa pertanggung jawaban.


"Apa aku salah dengar, bukankah aku sudah bilang dulu. Pertama, aku tidak suka bulu yang kotor, kedua kalian tidur tanpa membersihkan bulu kalian dan meninggalkan debu di kasurku. Bukan kalah wajar saja bila aku langsung memberi hukuman kepada kalian yang melupakan apa yang aku ucapkan?" Ucap Aquila membalas perkataan Shiro yang memperotes perbuatannya.

__ADS_1


Shiro langsung diam, karena apa yang diucapkan oleh kakaknya itu. Memang dia tidak membersihkan bulunya yang kotor karena pertempuran dengan Helios dan kemudian menenangkan Rugiel yang menangis karena tidak percaya kalau moster Garuda yang mereka hadapi adalah Helios.


Sedangkan Rugiel tidak memperdulikan Shiro dan Aquila yang bertengkar, yang terpenting baginya melepaskan rindu kepada saudaranya yang polos.


Aquila langsung mengambil sabun dan sikat, dan mulai membersihkan bulu Shiro yang sudah lepek dan basah karena sudah lama terendam air hangat. Setelah selesai memandikan Shiro, Aquila langsung mengambil handuk yang sudah disediakan dan mengeringkan Shiro dengan handuk itu dan melilitkannya pada tubuh Shiro.


"Tunggu disana, dan jangan membuat ulah." Kata Aquila sambil menunjuk kasur.


Shiro langsung berjalan ke tempat yang ditunjukan Aquila dengan patuh. Setelah itu, Aquila langsung memandikan Rugiel dengan tenang tanpa protes seperti saat pertama dimandikan.


Rugiel merasa segar setelah dimandikan Aquila dan kemudian merasa hangat setelah handuk dililitkan pada tubuhnya dan langsung menuruti perintah Aquila untuk menunggunya bersama Shiro yang sudah menunggu di kasur dan mulai mengeringkan bulunya dengan menjilatinya.


Rugiel tidak bisa melakukan hal yang sama dengan Shiro, karena di memiliki Patih tajam dan tidak cocok membersihkan bulu halusnya namun sangat tepat untuk mengeringkan sayapnya.


Aquila keluar dari dalam kamar mandi dengan membawa Soleil dalam handuk, dan meletakkannya di samping Rugiel yang tengah mensortir tiap helai sayapnya.


"Apa kamu menemukan petunjuk tentang saudaramu yang lain Shiro?" Tanya Aquila membuka pembicaraan.


"Ya, aku bertemu dengan Helios kak. Tapi dia sangatlah berbeda dengan tampilan terakhir kali kami bertemu." Jawab Shiro sambil menikmati hembusan angin yang hangat.


"Apa karena dia menggunakan element tanah?" Tanya Aquila menebak.


"Kak Aquila tahu dari mana? Bukankah kakak berada di kuil saat itu?" Tanya Shiro dengan tidak percaya.


"Ya, awalnya aku berada di kuil, tapi dewa Orunmla memintaku untuk membebaskan Soleil pada saat itu juga. Dan kenapa aku bisa mengetuhinya, sebab tidak mempunyai permata kehidupan dan tidak bisa berubah menjadi manusi. Berbeda saat kita bertemu dengan Rugiel, dia bisa berubah menjadi manusia karena permata kehidupannya." Jelas Aquila dengan yakin.

__ADS_1


"Huhhh.... Jujur saja kak, kita berdua sangat tidak beruntung saat bertemu dengannya. Dia terlihat sangat berbeda dengan kekuatan yang meningkat pesat. Aku dan Giel sangat kewalahan untuk menghadapinya. Untung saja kita berdua dapat menyelamatkan diri meski hasilnya Giel menangis histeris karena tidak tidak percaya kalau yang kita hadapi adalah Helios." Ucap Shiro sambil bercerita tentang kejadian yang mereka hadapi.


"Pantas saja saat aku datang kalian langsung tertidur dengan sangat nyenyak dan tidak menghiraukan kedatanganku dan Soleil." Ucap Aquila sambil menghela nafas.


"Sudah selesai. Rugiel, kemari lah. Sekarang giliran mu." Ucap Aquila sambil memindahkan Shiro yang berada pangkuannya.


"Giel datang.!" Kata Rugiel dengan girang dan meninggalkan Soleil yang masih terbungkus handuk.


Shiro langsung melompat di jendela untuk mendapatkan cahaya matahari untuk menghangatkan tubuhnya yang masih sedikit dingin meski mendapatkan kehangatan dari element angin dari Aquila.


Rugiel langsung duduk dipangkuan Aquila dengan sangat patuh, dan dalam waktu yang tidak banyak, Rugiel telah selesai dikeringkan. Soleil yang masih didalam handuk langsung ditarik oleh Aquila dan ditaruh dalam pangkuannya.


"Apa sudah baikan? Kalau merasa tidak enak badan beritahu aku atau kedua saudaramu itu." Ucap Aquila sambil membelai kepala Soleil.


Soleil mengedipkan mata dengan polos, seolah menanggapi apa yang dikatakan oleh Aquila. Rugiel yang sebelumnya telah turun dari pangkuan Aquila, kini kembali lagi karena ingin dielus juga oleh kakaknya itu.


"Aduh, kamu ini sangat manja ya."Kata Aquila dengan gemas.


"Hehe, Giel juga kan ingin dielus seperti Leil." Kata Rugiel yang menikmati belaian tangan Aquila.


"Nona, apa nona masih didalam?" Tanya sebuah suara yang sangat Aquila kenal, yang tidak lain adalah Minami.


"Masuklah kak." Kata Aquila dengan sedikit berteriak.


Minami dan Leave membawa sebuah nampan yang lebih besar, karena anggota mereka bertambah. Shiro yang tengah berjemur di jendela langsung turun dan menaiki kasur Aquila untuk meminta jatah sarapan.

__ADS_1


Mereka berenam memakan sarapan dengan sangat damai dengan celotehan Shiro dan Rugiel yang menghidupkan suasana hangat penuh kekeluargaan.


__ADS_2