Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 19


__ADS_3

Pagi yang cerah, sang Surya memancarkan cahaya yang hangat menyinari alam. Iringan lagu burung yang bertengger di dahan pohon yang segar karena embun pagi, dengungan lebah yang bersemangat untuk mencari makan dengan menghisap nektar bunga dan menjadikannya madu yang manis.


Burung Pipit terbang dan hinggap di jendela dan mematuk kaca bening dengan paruh kecilnya. Seorang gadis kecil masih terlelap dalam tidurnya dengan selimut yang membungkusnya, terlihat seperti pangsit yang hangat.


Gadis itu membuka matanya secara perlahan dan mengedipkan kelopak matanya untuk menyesuaikan cahaya yang menerobos dari kaca jendela yang bening.


Aquila bangun dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki kecilnya kearah jendela, lalu ia membuka jendela itu. Burung Pipit yang ada didepan jendela pun terbang karena terkejut dengan jendela yang terbuka.


Hamparan kabut yang mengepul dari permukaan danau disinari cahaya matahari yang berwarna jingga membuatnya semakin indah, embun yang menempel di dedaunan dan bunga yang putih menambah kesan yang menyegarkan.


"Pemandangan yang sangat indah." Aquila masih terfokus kearah danau, dan suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


TOK..TOK...


Lalu disusul dengan suara kenop pintu yang berputar, sehingga pintu pun terbuka dan muncullah seorang gadis elf dengan pakaian maid berwarna monokrom dengan rambut hijau yang diikat menjadi satu dengan poni yang menutupi dahinya.


"Nona, tuan dan nona Leave telah menunggu anda untuk sarapan bersama." Kata Minami sambil menundukkan kepalanya.


"Aku akan menyusul, dan bisa kah kamu tidak berbicara formal kepada ku?" Tanya Aquila dengan raut wajah yang datar dengan nada suara yang dingin membuat Minami meneguk ludah nya secara kasar dan keringat dingin yang mengalir di punggungnya.


"Ehh..?" Minami yang masih belum mengeri dengan perkataan Aquila.


"Apa kamu tidak mendengarkan apa yang aku katakan?" Kata Aquila dingin daripada dinginnya pagi ini.


"Maafkan saya nona, tetapi apa saya layak?" Minami ragu dan takut dengan aura yang dipancarkan oleh Aquila.


Langkah kaki Aquila mengarah ke Minami yang menundukkan kepalanya. Tangan Aquila pun menepuk pundak Minami dengan lembut. "Bukankah aku sudah mengatakannya semalam, aku tidak memandang mu dengan kedudukan mu, tetapi dengan Budi pekerti."


"kamu bisa mengganggap ku sebagai teman atau adikmu." Aquila memandang Minami dengan muka datarnya.

__ADS_1


"B-baiklah, aku akan berusaha, a-adik." Minami kaku menggunakan bahasa biasa, Aquila pun memeluk Minami dengan erat sehingga membuat orang yang dipeluk menjadi patung secara mendadak.


"Begini lebih baik, lebih baik kakak kembali. Aku akan menyusul kalian dibawah." Aquila sambil melepaskan pelukannya dan membuat Minami bernafas dengan lega.


"Baiklah nona, saya akan menyampaikannya." Aquila yang mendengarkan ucapan formal dari Minami langsung menggenggam erat kedua bahunya dengan raut wajah yang datar dan seakan kedua mata Aquila akan mengeluarkan api dari dalamnya.


"Bukankah aku sudah mengatakannya. Kenapa kakak mengulangi lagi!" Sontak saja tubuh Minami menjadi kaku kembali karena tekanan yang berasal dari Aquila.


"Ma-maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Kata Minami gugup.


"Itu lebih baik, kakak bisa kembali, aku akan bersiap-siap untuk bergabung."


"Baiklah, aku akan menyampaikannya." Minami sambil berjalan kearah pintu dan menutup kembali. Saat bejalan di lorong,


DEG.....


Rasa sakit yang menghantam di dada Minami yang membuatnya langsung terduduk karena tak kuasa menahan beban tubuhnya. Jantungnya terasa seperti diremas dengan kuat dan tubuhnya serasa ditimpa ribuan batu besar.


Beberapa langkah dari pintu kamarnya, Aquila melihat Minami yang tergeletak dengan muka pucat seperti kertas serat keringat yang menghiasi wajahnya.


Aquila pun bergegas menghampiri Minami yang sudah pingsan dan menggendongnya, padahal tubuh Minami lebih berat tubuh Aquila sendiri, apakah ini berkah dari Dewi Callista?


Aquila meletakkan Minami di ranjangnya dan bergegas untuk menghampiri leave dan Shiro di ruang makan. Aquila melihat Leave dan Shiro yang asik mengobrol dengan santai, dan langsung menghampirinya.


"Ada apa kak? Dimana Minami?" tanya Shiro.


"Daripada menanyakan hal yang tidak penting, kak Leave dan Shiro lebih baik ikut aku." Aquila dengan panik.


Leave dan Shiro menatap satu sama lain dan mengikuti Aquila yang telah mendahuluinya. Sesampainya dikamar Aquila, mereka melihat Minami yang tengah tergeletak di kasur Aquila dengan wajah yang pucat serta keringat yang membasahi rambut hijaunya serta bantal dan pakaiannya.

__ADS_1


Shiro pun langsung bergegas memeriksa Minami dengan cara menekan pergelangan tangan, kemudian Shiro menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Aquila khawatir dengan Minami.


"Kakak tenang saja, ini adalah efek dari pelepasan segel dalam tubuhnya. Hal ini sangat wajar." Kata Shiro dengan santai.


"Ehhh...!!" Shiro langsung menyambar pergelangan tangan Aquila dengan cepat lalu melakukan hal sama dengan dengan Minami, yaitu menekan pergelangan tangan Aquila.


"Haaahhh.......!!? Ba-bagai mana bisa?" Shiro tidak percaya dengan apa yang dia rasakan sekarang.


"Apa yang kamu maksud shiro?"Tanya Aquila penasaran.


"Bagai mana bisa segel pada tubuh kakak sudah terbuka semua?!"


"Mungkin cuma keberuntunganku saja." Kata Aquila dengan asal.


"Itu tidak mungkin, aku pun memerlukan waktu lama untuk membuka salah satu segel dalam tubuh kakak." Shiro tidak percaya dengan ucapan Aquila.


Sedangkan Leave hanya terdiam dan terus mengelap keringat yang keluar dari dahi Minami, sebenarnya Leave juga penasaran dengan ke abnormalan nonanya tetapi dia lebih memilih diam dan membiarkan nonanya menceritakan sendiri kepadanya.


Perdebatan merak berdua masih tetap berlanjut, seketika langsung terdiam karena lenguhan Minami.


Minami membuka kelopak matanya secara perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk, dan pertama kali ia lihat adalah Leave yang duduk di sampingnya, dan kemudian Aquila dan Shiro.


Merasa tidak enak, Minami memaksakan dirinya untuk duduk dari kasur. "Jangan memaksakan dirimu kak, lebih baik kakak beristirahat dulu." Kata Aquila mencegah Minamu untuk duduk.


Minami hanya bisa menurut, sebenarnya dia pun tidak bisa untuk berbicara apa lagi harus duduk.


"Lebih baik nona, dan tuan sarapan lebih dahulu. Aku bisa menyusul nanti." Kata Leave sambil mengelap keringat Minami.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengantarkan sarapan kalian nanti. Ayo Shiro, kita keluar." Aquila sambil menyeret tangan Shiro.


Shiro hanya diam saja, sebab dia sudah lapar sedari tadi dan membiarkan kakaknya menyeret dirinya keruang makan yang berada dilantai dasar.


__ADS_2