
Setelah perginya Shiro dan Rugiel, Aquila mulai mengenakan pakaian yang diberikan kepadanya melalu kakaknya Minami. Setelah mengenakan baju itu, senyum Aquila berkedut dengan dahi berkerut.
"Kenapa begitu sangat terbuka? memang ini lebih bagus dari pada punya kak Nami. Sialan!" Umpat Aquila dengan wajah masam.
"Nona terlihat cantik dengan pakaian itu, aku yakin pasti banyak pria yang jatuh hati kepada nona." Kata Laba-laba Archane memuji.
"Ha....?!!! Kau sedang bercanda laba-laba kecil...?" Ucap Aquila dengan nada naik satu oktaf yang berbeda dari biasanya.
"Ti-tidak... Tentu saja ti-tidak nona." Ucap laba-laba Archane gugup.
"Sudah, sudah. Nona mereka sudah lama menunggu mu, sebaiknya nona segera menemui mereka." Kata Leave melerai.
"Cih..! Menyebalkan sekali. Apa negeri ini suka sekali mengumbar perut mereka? hanya karena cuaca panas saja sampai begini." Celetohan Aquila terus bergumam dengan wajah sebal, kemudian menutup pintu dengan kasar.
"A-apa nona sering begini? Padahal dia sangat cantik dengan pakaian khas kerajaan Zuwei, tapi kenapa wajah nona terlihat sangat buruk?" Tanya laba-laba Archane terheran dengan sifat Aquila, padahal diluar sana masih banyak gadis dan wanita yang lebih terbuka daripada pakaian yang dikenakan oleh aquila.
"Sudahlah Jangan dipikirkan, nona Aquila belum terbiasa dengan pakaian seperti itu. Dia dulu sangat membenci pakaian seperti itu." ucap Leave sambil memejamkan matanya kembali.
"Oh, jadi begitu. Pantas saja nona Aquila sangat masam." Ucap Laba-laba Archane ikut tertidur mengikuti Leave.
Suara langkah kaki terdengar nyaring didalam lorong dan menimbulkan hawa tersendiri bagi yang melewati lorong itu. Para pelayan yang merasakannya semakin merinding karena biasanya hal itu tidak pernah terjadi.
Seorang gadis melalui para pelayan itu dengan wajah yang sedikit ditekuk dengan hawa dingin yang menyeruak dan membuat para pelayan itu tidak berani bersuara bahkan nafas saja mereka tahan dalam hormat mereka.
__ADS_1
Setelah Aquila menghilang dari hadapan para pelayan itu, mereka menghembuskan nafas dengan lega seakan lolos dari maut.
Setiba dilantai bawah, semua orang yang telah menunggu Aquila menatapnya dengan perotes akibat keterlambatannya, dan ada pula yang terpesona dengan tampilan Aquila yang terlampau cantik.
Akibat tatapan para manusia itu Aquila tersenyum sinis dan membentak mereka yang sedang memandanginya dengan tatapan lapar. "Apa yang kalian lihat...!!!" Bentak Aquila dengan wajah kesalnya.
"Ti-tidak ada nona, n-nona sangat terlihat cocok dengan baju itu." Puji Lufni dengan gugup.
"Huh, sungguh tidak sopan. Sudah terlambat, tidak meminta maaf pula." Sindir ayah Likta dengan tajam.
"Sudah, ayo kita berangkat sebelum upacara festival doa dimulai." Lerai ayah Lufni.
Akhirnya pertikaian itu berlalu begitu saja, sebab apa yang dikatakan olah ayah Lufni yang memang sebagai kepala keluarga mereka dan ketua rumah lelang Amoon yang terkenal bijaksana sehingga mereka tidak memperpanjang tentang keterlambatan seorang gadis yang telah menyelamatkan tuan muda mereka dari insiden penculikan.
Hanya satu perbedaan yang sangat terlihat jelas, yaitu perhiasan yang mereka kenakan sangatlah mencolok daripada rakyat biasa. Sangat berkilau penuh dengan permata Zamrud, safir, Rubi.
Aquila yang melihat hal tersebut hanya bisa bertanya didalam benaknya sendiri, apa leher mereka tidak sakit dengan beban yang dikenakan.
Pakaian yang dikenakan oleh rombongan bangsawan Sehetpra tidak terlalu berlebihan, namun cukup banyak yang menghiasi tubuh mereka. Termasuk juga Aquila, yang terlihat sederhana dengan perhiasan yang simpel, namun ada hal yang berbeda dari semua orang kenakan, yaitu perhiasan emas yang membentuk ular kobra yang mengembangkan lehernya membentuk lengkungan khasnya.
Orang-orang yang melihatnya dengan penuh keirian, sebab perhiasan itu sangatlah susah didapatkan bahkan harus mengorbankan persembahan untuk membuat perhiasan berbentuk ular. Simbol ular bagi rakyat kerajaan Zuwei adalah kemakmuran dan keagungan bahkan kekayaan.
Bahkan ada pula yang yang merencanakan hal yang buruk setelah berlalunya festival doa untuk mengambil perhiasan itu. Namun orang-orang bangsawan Sehetpra tau kalau itu bukanlah perhiasan yang terbuat dari emas, melainkan seekor magical beast ular yang sering disebut king of Gold yang sangat ganas.
__ADS_1
Orang-orang telah berkumpul disebuah tempat yang sangatlah mewah dan terdapat patung singa yang terbuat dari marmer putih yang dipoles hingga mengkilap yang ditempatkan didepan pintu masuk.
Setelah memasuki tempat itu yang tidak lain adalah Kuil dewa Orunmla yang mereka sembah dan berbaris para pelayan kuil yang mengenakan pakaian putih tanpa perhiasan sama sekali dan membawa tempat persembahan.
Setelah semua orang telah masuk kemudian duduk dilantai marmer putih yang dingin, para pelayan itu langsung menghampiri orang-orang yang akan mengikuti pembaptisan dan kemudian mereka menyerahkan salah satu perhiasan yang mereka kenakan sebagi persembahan.
Termasuk Aquila juga, dia menyerahkan gelang emas yang diberikan oleh Minami sebelumnya sebelum berangkat kekuil.
'Ternyata ini tujuannya diriku diberikan gelang oleh kak Nami. Sangat disayangkan.' Keluh Aquila dalam benaknya.
"Nona, cepat melepaskan gelang itu." Bisik Minami memperingati.
Aquila yang mendapatkan peringatan dari Minami, ia langsung melepaskan gelang itu dengan enggan. Setelah memberikan gelang itu, pelayan yang membawa tempat persembahan membungkuk sesaat dan pergi menuju Jamaat yang lain.
Setelah selesai mengumpulkan persembahan, para pelayan kuil dewa Orunmla segera pergi dan menghilang dari tempat itu. Setalah perginya para pelayan kuil, Muncullah seorang yang memakai jubah putih dengan sulaman benang emas yang sangat indah dengan sebuah Alkitab ditangannya.
Suasana ruangan yang sebelumnya ramai langsung hening dalam seketika. kemudian Panasea berjalan menuju altar dan di belakangnya terdapat patung dewa Orunmla yang membawa buku dan menunggangi singa putih. Dan dibelakang patung itu terdapat jendela yang berbentuk bundar, sehingga menimbulkan cahaya yang bersinar.
"Terberkatilah diri kita oleh Sang maha pencipta semesta alam, tuhan dari segala dewa dan Dewi yang melindungi kita. Dan dewa Orunmla yang sebagian dewa kebijaksanaan dan melindungi negeri kita yang makmur dan sejahtera tanpa kekurangan apa pun. Dialah yang melindungi kita dari segala marabahaya dan melalui sang pilar Soleil. Dia adalah utusan sang dewa Orunmala yang bijaksana."
Panasea mulai mengalunkan ayat dalam Alkitab dengan suara merdu, dan membuat orang yang mendengarkannya terlena dalam keheningan dan penghayatan. Namun ada satu hal yang membuat seseorang yang terkejut dari ratusan orang dalam ruangang kuil itu. Yaitu Aquila.
"Kenapa bahasa yang diucapkan oleh Panasea sangat mirip dengan bahasa yang aku gunakan di duniaku dulu?!"
__ADS_1