
Tentu saja mereka, para prajurit kekaisaran samudra langsung terperanjat ketakutan dengan wajah pucat pasi seakan tidak ada darah yang mengalir di wajah mereka. Aquila hanya bisa tersenyum sinis mengejek karena mereka yang harus saja mengolok-olok Rin dengan hina.
"Heh... Aku kira kalian tidak mengenaliku? Apa aku sangat terkenal hingga tidak terlupakan?" Tanya Aquila membanggakan diri nya sendiri dan menatap para prajurit itu dengan tatapan yang sama persisi dengan tatapan mereka yang ditunjukan pada Rin.
"Ke-kenapa i-iblis seperti mu be-berada di kekaisaran yang suci, seharusnya kamu mati." Ical salah satu prajurit dengan penuh kebencian di matanya.
"Aku mati? HA HA HA.....Harusnya aku yang berbicara seperti itu. Kenapa manusia yang rendah akhlaknya sepertimu tidak musnah saja dari dunia ini. Sungguh kalian hanya membuang energi Callista yang sudah menua." Kata Aquila dengan tawa keras dan menghina yang menusuk perasaan para prajurit yang ada dihadapannya itu.
"MATI SAJA..!!!" Teriak salah satu dari lima prajurit yang terlihat ketakutan namun rasa bencinya sudah menutupi ketakutan nya itu dan langsung menyerang Aquila dengan gerakan yang ganas namun terlihat ceroboh.
Aquila hanya bisa melihat orang yang menyerangnya itu dengan kasihan, sebab semua usahanya akan menjadi sia-sia dihadapan sang Messiah sepertinya. Berbeda halnya dengan sang saint, meski memiliki mana yang melimpah namun semua serangan fisik mampu melukai tubuhnya. Oleh sebab itu, Rin selalu saja memakai zirah armor dari ujung kepala sampai ujung kaki.
SRINGG....
Ujung pedang sudah sampai di pangkal leher Aquila, namun entah kekuatan apa yang menahan ujung bilah pedang itu yang tiba-tiba terhenti. Namun Aquila masih tetap diam ditempat sebelumnya tanpa ada pergerakan meski hanya satu Mili meter.
"Cukup sampai disini saja." Ucap Aquila dengan menyentuh ujung pedang yang berada dilehernya namun tidak menyentuh kulitnya.
Pedang yang disentuh Aquila langsung melengkung karena jarinya terus menekan pedang itu hingga membentuk huruf U. Wajah tegang dan pucat dari sang prajurit semakin ketara namun tidak dengan matanya yang terlihat penuh kebencian yang mendalam.
"Tidak akan. Aku akan membawa kepalamu itu untuk membalaskan dendam arwah para saudaraku yang telah kamu bunuh dikerjakan Zuwei." Ucapnya dengan terus menahan perang di tanganya agar tidak terlepas.
"Oh... Apa kah benar? Apa aku harus perduli dengan para saudaramu yang mati itu. Sayang nya tidak. Aku tidak perduli sama sekali. Namun, aku akan mengantarmu ke para saudaramu itu dengan senang hati." Kata Aquila dengan senyum mengembang namun tidak sampai matanya.
__ADS_1
Aquila pun langsung melepas pedang yang di tahan sebelumnya hingga pedang itu bergerak tidak beraturan membuat prajurit itu tidak bisa menahannya, dan pada akhirnya bilah pedang yang tajam itu langsung menusuk tepat di jantungnya sendiri.
Wajah tidak percaya dengan apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri, namun apa daya pedang yang ada di genggamannya telah membunuh dirinya sendiri.
"Ka...kamu..." Belum selesai menyelesaikan kalimatnya, sang prajurit itu langsung terjatuh dan membasahi salju yang putih menjadi merah karena darah.
"I-iblis... Apa yang ka-kamu lakukan de-dengan teman ka-kami?" Tanya salah satu prajurit tidak percaya dengan kematian temannya itu.
"Aku tidak melakukan apa pun. Bukankah kalian sendiri yang melihatnya. AH... Aku tau, mata kalian pasti sudah buta." Kata Aquila merasa tidak bersalah dengan apa yang dia lakukan, dan bahkan dengan santainya menghina mereka.
"Keparat.... Akan aku balaskan kematian ku dengan darah mu..!" Ucap salah satu prajurit yang langsung mengambil pedang yang berada di pinggangnya yang juga diikuti oleh temannya yang lain.
"Dendam tidak akan menyelesaikan masalah." Kata Aquila yang langsung membunuh ketiga prajurit dengan tangan kosong, bahkan zirah yang melindungi tubuh mereka tidak mampu untuk melindungi bahkan hancur di bagian yang menjadi sasaran pukulan Aquila.
"Pulanglah, katakan pada kaisar mu itu. Aku akan datang untuk mengambil apa yang seharusnya tidak di usik. Bila perlu kumpulkan lah pasukan kalian. HA...HA...HA..." Ucap Aqua dengan tawa membahana setelah memberikan peringatan, dan kemudian menghilang seperti kelopak bunga yang tertiup angin di musim semi dengan tawa yang tersisa.
Prajurit yang hanya tersisa seseorang diri langsung lemas, dia kira akan ikut meregang nyawa seperti keempat temannya yang mati mengenaskan dengan wajah penuh kebencian.
Dengan langkah tertatih-tatih, sang prajurit yang tersisa hanya bisa mengarungi hutan yang luas dengan suhu dingin untuk memberitahukan pada sang kaisar tentang apa yang terjadi dengan rekan-rekannya yang mati mengenaskan.
Setibanya di gerbang kekaisaran samudra, prajurit yang menjaga gerbang itu merasa heran dengan sang prajurit yang datang seseorang diri, sebab kekuatan mereka berlima hampir menyamai kekuatan jendral di kekaisaran samudra itu sendiri.
"Apa yang terjadi?" Tanya prajurit penjaga gerbang itu.
__ADS_1
"Ti-tidak ada wa-waktu. Aku ha-harus memberikan informasi pe-penting pada ya-yang Mulia ka-kaisar." Ucapnya dengan nafas terengah-engah yang akan putus kapan saja.
"Baiklah. Aku akan mengantarkan langsung dirimu untuk menemui yang mulia kaisar." Ucap sang penjaga gerbang dengan memberikan bantuan.
"Tolong....." Ucapnya dengan suara yang lebih terdengar merintih.
Istana megah, cat dinding berwarna biru laut dengan ornamen emas yang menambah kesan kemewahan. Setiap tiang terdapat pahatan sang pilar penguasa samudra di dunia Callista dengan sangat agung dengan mata terbuat dari permata Safir yang biru.
Ditengah aula sebuah singgasana yang mengah dengan warna emas ornamen pahatan naga yang sangat megah dengan memamerkan gigi taring yang terbuat dari batu giok putih. Seseorang juga tengah menduduki singgasana itu dengan memangku dagu yang seakan memikirkan kan sesuatu.
"Aku kembali untuk melaporkan tugasku." Ucap seseorang yang berdiri dihadapan sang kaisar yang memakai zirah armor putih dengan suara tidak beremisi yang tidak lain adalah Laurena Rintania atau Rin.
"Beritakan dia padaku." Perintah sang kaisar, namun suara pintu yang megah mengalihkan perhatiannya.
"Yang mulia, Hamba ingin melaporkan sesuatu yang penting." Ucap Sanga penjaga gerbang dengan penuh hormat.
Wajah kesal seketika langsung terlihat di wajah sang kaisar, namun dalam sekejap mata menghilang digantikan dengan wajah berwibawa dan tegas. Dan kemudian seseorang yang ada dibalik tubuh prajurit penjaga gerbang muncul seseorang yang terlihat lemah.
"Ya-yang Mu-mulia, Ha-hamba ingin melaporkan sesuatu." Ucapnya lirih namun masih terdengar.
"Katakan.." Kata sang kaisar dengan wajah yang tidak berminat.
"I-iblis itu, dia akan datang kemari..." Lapornya, dan seketika wajah sang kaisar berubah menjadi menjadi mengeras seolah menyimpan sesuatu.
__ADS_1