
"Wah, apa kau tega membiarkan aku menghadapi seluruh pasukanmu itu? Sangat tidak jantan." Kata Aquila yang mengejek, dan tentu saja para prajurit itu terdiam ditempat dan enggan untuk menangkap Aquila.
"Apa yang kalian laukan?! Tangkap dia segera!!!" Teriak sang raja dengan sangat marah.
Teriakan marah sang raja membuat prajurit yang diam langsung mengepung Aquila dari berbagai arah dan menyodorkan senjata mereka kearahnya agar tidak melawan atau melarikan diri. Bukannya ketakutan, Aquila tersenyum manis dan tidak dapat dimengerti oleh para prajurit itu.
Biasanya, seorang perempuan akan ketakutan dan memohon untuk diselamatkan dari todongan senjata tajam, namun kini mereka melihat seorang perempuan tersenyum aneh.
"Kalau begitu, dengan senang hati aku akan melakukannya." Kata Aquila dengan mengangkat tangan nya dan api biru yang beda di belakangnya langsung tersebar dengan asap pekat yang menutupi jarak pandang.
"Ada apa ini, kenapa aku tidak bisa melihat?!" Teriak mereka dengan panik dan menjatuhkan senjata mereka untuk mencari jalan keluar dari kabut asap hitam.
"A-aku t-tidak bisa ber-nafas."
"To-tolong.... s-siapapun to-tolong aku... Uhuk.. uhuk..." Dan masih banyak teriakan kesakitan dan ratapan dari para prajurit yang mengepung Aquila.
Satu persatu suara ratapan kesakitan itu menghilang dan kabut hitam itu juga belum menghilang, sontak saja sang raja dan beberapa jenderalnya merasa kebingungan dengan kabut hitam itu yang tidak lain adalah serangan awal milik Aquila.
Sedangkan Aquila berada di atas pohon mengamati pertunjukan dari meregang nyawa para prajurit yang menghirup asap beracun dari pembakaran mayat yang sudah diracuni nya, dan Aquila tidak menyangka kalau racun dari salah satu pilar sang malam begitu sangat kuat hingga meluluhkan kulit dan daging menjadi genangan darah.
Bahkan Aquila pun tidak pernah membayangkan kalau itu akan menjadi sangat mengerikan, apa lagi hanya setitik diujung jarum sudah meluluhkan daging dan kulit. Dan timbul pertanyaan dibenak Aquila tentang pilar sang malam, apa dia sadar dengan menyumbangkan racunnya untuk dilelang atau dalam keadaan diperbudak sehingga dia dengan leluasa memberikan racunnya yang sangat beracun itu.
Semua pertanyaan itu menghilang bersama dengan hilangnya kabut asap hitam, dan pemandangan mengerikan pun terlihat. Mayat prajurit tergeletak dengan beberapa berubah menjadi tulang belulang, ada juga yang mengeluarkan darah dari lubang di kepalanya.
__ADS_1
"Ti-tidak m-mungkin, ke-kenapa ini b-bisa terjadi.. Pa-para p-prajuritku m-mati d-dalam sekejap ma-mata. Di-dia bukan p-penyihir hitam. Ta-tapi dia i-iblis....!!" Kata sang raja dengan suara yang gemetar, dan diikuti juga dengan kakinya yang tidak mampu menahan berat tubuhnya alhasil dia terjatuh kebelakang.
"R-raja, kuatkanlah dirimu. Kita pasti bisa membunuhnya agar dia tidak mengacaukan kerajaan dan kekaisaran lain. Dengan begini nama kerajaan Zuwei pasti akan dikenal sebagi kerajaan yang membasmi iblis kejam sepertinya." Kata sang jendral kedua menguatkan sang raja dan jendral yang lainnya yang sudah gemetar ketakutan.
"Huh, kenapa aku sering kali dikatai sebagi iblis, padahal aku adalah gadis yang sangat cantik. Apa mata kalian buta?" Kata Aquila yang tiba-tiba muncul dihadapan para jendral dan raja Zuwei, tentu saja mereka sangat terkejut dan ketakutan karena kehadiran Aquila.
"Rajaku, tolong segera selamatkan diri anda, kami akan menahannya.!" Kata sang jendral ketiga dan disetujui oleh jendral yang lain.
"Ara? Mau melarikan diri? ha ha ha raja sangat pengecut!" Ejekan penuh hinaan itu langsung menusuk relung hati sang raja yang tidak terima dengan ucapan Aquila.
"Kau mengtakan aku pengecut??!!! Aku pastikan kepalamu akan terpisah dari lehermu itu...!!" Teriak sang raja yang sudah tersulut emosi dan mengacungkan pedang emasnya kepada Aquila.
"Yang mulia, tolong jangan terprovokasi. Lebih baik anda segera menyelamatkan diri anda bersama jendral keempat. Biarkan kami semua yang akan melawannya untuk semua yang telah iblis itu perbuat kepada seluruh prajurit kita." Kata sang jendral kedua yang menentukan rajanya yang sudah termakan amarah.
"Yang mulia, ayo kita segera pergi. Aku yakin jendral senior akan membunuhnya." Bujuk jendral keempat yang masih muda.
"Baiklah, kalian harus bisa membunuh iblis berwujud manusia itu...!!" Teriak sang raja yang sudah menunggangi kudanya bersama sang jendral keempat.
"Apa sudah selesai? kalau begitu mari kita mulai para jendral kerajaan Zuwei yang terkenal dengan kemewahannya." Ucap Aquila yang terlihat memuji, namun terselip hinaan yang tidak dirasakan.
"Diam kau!! memangnya kamu tau apa tentang kerajaan kami!!!" Teriak jendral kedelapan yang sudah sedari tadi menahan amarahnya.
"Sudah jangan banyak berbicara, lebih baik kita langsung membunuhnya. Aku sudah muak dengan kelakuannya." Ucap Jendral ke dua.
__ADS_1
"Baiklah, aku juga sudah bosan menunggu kalian yang sudah uzur itu." Ucap Aquila dengan malas. Namun para jendral itu tidak tau arti kata uzur hanya memelototi Aquila dengan penuh kebencian.
Aquila menanggapi tatapan penuh kebencian dari enam orang yang berpangkat jendral itu dengan acuh bahkan terlihat tidak terusik sama sekali.
"Kenapa kalian diam? atau kalian tidak berani melawan anak kecil seperti ku?" Ucap Aquila mengejek, dan hasilnya para jendral itu langsung menyerang Aquila dengan keahlian nya masing-masing.
Aquila menghindar dengan sangat mudah dan terlihat seperti menari di atas serangan yang bertubi-tubi namun tidak satupun yang mengenainya, meski hanya bajunya saja yang kotor akibat debu yang berhamburan dari serangan para jendral itu.
"Hei!! hei!!! Apa kalian tidak merasa malu, menghadapi anak kecil sepertiku dengan cara mengeroyok?!" Ucap Aquila diselal-sela serangan yang mematikan itu.
"Cih, lebih baik kau mati iblis!!! Kembalilah keneraka...!!!!!" Ucap salah satu jendral yang sudah tidak sabar menghadapi Aquila yang terus menghindar dari serangan mereka yang bisa menghancurkan sebuah kerajaan.
Namun, dihadapan seorang gadis itu bukanlah serangan yang mematikan, tetapi seperti sebuah permainan yang sering dia lakukan dulu.
"Baiklah, aku kalau kalian ingin aku serius menghadapi kalian. Padahal aku masih ingin bermain." Kata Aquila dengan wajah yang kecewa, namun dalam sekejap mata wajah yang terlihat sedih itu berubah menjadi sangat berbeda dengan yang sebelumnya bahkan terkesan sangat menyeramkan karena aura miliknya yang sangat dingin berbeda dengan element nya yang panas dan beracun.
Para jendral itu langsung mundur beberapa langkah, sebab aura Aquila yang sangat dingin dan berat yang memaksa mereka mundur.
"D-d-dia i-i-iblis...."
"Benar, aku adalah iblis yang baru saja kalian panggil.." Kata Aquila dengan wajah suramnya yang membuat mereka berenam menggigil ketakutan.
Hai minna-san, maaf kemaren gak up. penyakit vertigo author kambuh jadi gak bisa buat ngetik chapter, dah alhasil ketikannya jadi dua dan author gak bisa baca dan ngoreksi kalau ada kesalahan. Dan hari ini udah agak mendingan, jadi author hanya up satu chapter saja. sampai jumpa besok.
__ADS_1