Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 32


__ADS_3

Jendral kekaisaran selatan dibawa pulang oleh para kesatria dan prajurit dengan keadaan yang memperhatikan dengan tangan kanan yang hilang serta tangan kiri yang patah. Tangan kanan sang jendral dibalut dengan bahan seadanya dengan bercak merah yang terlihat jelas.


Orang-orang yang melihat jendral kekaisaran menjadi iba dan juga heran, kenapa para kesatria dan prajurit baik-baik saja sedangkan jendral mereka terluka dengan tangan kanan yang hilang.


Bisik-bisik suara rendah langsung membeludak memenuhi jalan utama dan membicarakan tentang kejadian yang dialami oleh jendral. Dan ada juga yang membicarakan cuaca yang sebelumnya akan turun hujan dengan awan pekat dan petir menyambar ke segala arah dan seketika hilang dengan cepat.


Dan kejadian itu membuat mereka semakin bingung, apa lagi dengan musim semi yang tiba-tiba muncul selama seratus tahun tidak menapakkan warnanya.


Aquila masih tertidur dalam dekapan seekor kucing dengan Rugiel yang terlihat damai dalam mata yang tertutup dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Seolah dia baru menemukan dunianya sendiri.


Leave hanya membisu tidak tau untuk melakukan apa, dia terduduk di samping sang tuan yang tertidur dengan damai. Minami didahan pohon dan mengamati sekitar yang mereka gunakan untuk berteduh dari cahaya matahari yang menyengat.


"Nona Leave, bersiaplah. segerombolan hewan buas dan magical beast berlari dari balik bukit itu." Peringat Minami yang menunjuk kearah bukit yang tidak jauh dari mereka.


Gumpalan debu membumbung tinggi diudara, suara berisik semakin lama semakin jelas, Leave langsung waspada begitu juga dengan Minami. Shiro menggulung kedua orang yang tertidur diperutnya yang hangat dan mengeluarkan aura menekan dan memperingatkan agar tidak ada yang mendekatinya.


"Mianami, kamu lindungi tuan dan nona. Biarkan aku mengahadang mereka." Pinta Leave.


"Serahkan saja padaku." Minami langsung turun dan mengeluarkan belatinya dengan erat. Leave berlari kearah gerombolan hewan dan Magical beast yang terlihat akan mengamuk itu.


Sebuah tombak kristal berwarna transparan keluar dari dalam lingkaran rune yang berada dibelakangnya dan siap menghunus musuh didepannya. Tanaman rambat berduri tumbuh disekitar kaki Leave siap mengikat musuh yang melewatinya dengan paksa.


Seekor rubah memimpin gerombolan, ukurannya lebih besar daripada ukuran rubah biasa. Tanda merah di kening dan bawah matanya serta api kecil diujung ekornya yang berwarna biru menandakan kalau dia adalah magical beast tipe api dan telah menembus ketahap sakral.


Gerombolan hewan buas dan magical beast berhenti tidak jauh dari Leave berdiri. Rubah api melangkahkan kakinya untuk menghampiri hewan magical beast yang terlihat berbeda dengan magical beast rusa pada umumnya. Aura yang dikeluarkan terkesan sangat mulia sehingga rubah api itu menunduk dengan hormat dan diikuti hewan yang ada dibelakangnya.

__ADS_1


"Ada perlu apa kalian datang kemari?" Tanya Leave penuh selidik dan ancaman.


"Kami hanya ingin bertemu dengan sang Messiah." Jawab rubah api tanpa merasakan ancaman dari magical beast yang menghalanginya.


"Nona kami tidak dapat menemui kalian. Lebih baik kalian pergi dan tinggalkan tempat ini." Perintah Leave.


"Maaf, kami tidak akan pergi sebelum bertemu Messiah kami." Tolak rubah api dengan tegas.


"Sudah ku katakan, nona ku tidak bisa menemui kalian. Kalian silahkan pergi." Usir Leave dengan menegaskan penolakan.


"Kalau begitu, jangan salahkan aku bila bertindak kasar padamu." Ucap rubah api dan merubah tubuhnya ketingkat Adiraja tahap menengah.


"Jadi kamu ingin aku bertidak kasar padamu?" Ejek Leave sambil memperbanyak tombak.


WUUSS.....


"Sungguh tidak sopan." Sindir Leave.


Rubah api melemparkan api disisi lain tubuh Leave, namun tombak lain menghalang dengan cara yang sama.


"Jujur saja, aku tidak suka berkelahi. Lebih baik kamu pergi dengan rombongan yang kamu bawa. Sebelum ada nyawa yang melayang." Ucap Leave memperingati.


"Jangan kau sakiti mereka. Kamu bisa membunuhku, tapi jangan harap bisa menyakiti mereka." Kata rubah api yang begitu melindungi gerombolan itu.


"Kalau begitu, silahkan pergi tinggal kan tempat ini."

__ADS_1


"Tidak akan." Ucap rubah api sambil melemparkan api kearah Leave.


Leave dengan lihainya menghindar, lalu kaki depan Leave memijak tanah dengan keras. Sebuah sulur muncul dari dalam tanah dan langsung menyerang rubah api dengan cepat. Rubah api menghindar dengan melompat tinggi dan menyerang Leave lagi.


Leave melepaskan salah satu tombak dan meluncur kearah serangan yang dilontarkan oleh rubah api.


BUUMMMM.....


Ledakan keras terdengar dengan kepulan asap akibat tumbukan kedua serangan tadi, Leave berlari kearah rubah api dan melepaskan sulur tumbuhan untuk mengikat namun sebuah api merah ke jinggaan melesat dan membakar habis sulur yang Leave lepaskan.


Pertarungan masih terus berlanjut, kepulan asap dan debu menghiasi pertarungan mereka. Gerombolan magical beast dan hewan buas yang ada di sana tidak dapat melihat junjungan mereka yang bertarung.


Rubah api keluar dari dalam kepulan asap dan debu, dan kemudian terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Leave keluar dari dalam kepulan asap dan debu dengan terbang dan berdiri diatas pohon yang tidak jauh dari mereka.


Sebuah rune berwarna hijau melayang diatas tubuh Leave dan bersinar dengan cerah. Pohon yang Leave tempati langsung mengeluarkan akarnya dari dalam tanah dan menyerang kembali kearah rubah api yang terluka.


Rubah api tidak sempat menghindar, alhasil akar pohon itu langsung mengikat dengan erat. Magical beast dan hewan buas yang melihat jujungaan mereka tak berdaya mulai gelisah. Geraman rendah, lenguhan dari hewan herbivora, suara cicitan burung, serta desisan ular terdengar hingga menimbulkan suara bising.


"Kalian tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Ucap rubah api menenangkan rombongan yang mengikutinya.


"Kau tau, mereka yang mengikuti mu sangat cemas. Kenapa tidak pergi saja dari sini dan kembalilah ketempat asalmu." Ucap Leave.


"Aku tau aku egois, tapi kami sudah tidak bisa kembali lagi. Maka dari itu izinkan kami untuk bertemu Messiah." Kata rubah api sambil menahan rasa sakit yang bersarang ditubuhnya.


"Sudah aku bilang, nonaku tidak bisa menemui kalian. Kalau kalian ingin menemui nonaku, maka jangan salahkan aku kalau nonaku tidak mau berbicara." Leave memperingati rubah api.

__ADS_1


Raut wajah rubah api langsung berbinar bahagia, meski rasa sakit dari cengkraman akar pohon dan luka dalamnya mengalahkan kebahagiaan bisa bertemu dengan Messiah.


"Terimakasih nona. Aku dan magical beast serta hewan buas akan sangat bersyukur." Ucap rubah api dengan rasa bahagia dan raungan kebahagian dari magical beast dan hewan buas terdengar jelas, burung-burung dalam rombongan itu langsung berterbangan dengan cicitan bahagia menggema beriringan dengan raungan.


__ADS_2