
Mata Rugiel masih berkaca-kaca dengan pelupuk mata yang sudah basah akan air matanya. Aquila hanya bisa diam seribu bahasa begitu juga dengan Shiro yang tidak tau harus menanggapi apa perkataan dari Rugiel.
"Ah.... Kamu selalu saja cengeng Giel. Nanti pasti kita semua akan berkumpul seperti dulu lagi. Yang terpenting kita sekarang cari makan dulu. Cacing diperutku sudah meronta-ronta ingin diberi makan." Kata Adrian yang berusaha mencairkan suasana yang sendu itu.
"Apa hanya itu saja yang ada dipikiran mu Adrian?" Tanya Helios dengan wajah menghina.
"Terserah peruatku lah.. Memangnya kamu tidak lapar?" Tanya balik Adrian dengan wajah menantang.
"Cih.. Memangnya seberapa besar perutmu hingga hari belum siang begini sudah kelaparan." Jawab Helios sambil membuang muka menghadap arah lain.
"Apa kamu ingin tau, maka dengan senang hati aku akan memberi kesempatan untuk menjelajahinya." Kata Adrian memberi tawaran.
"Tidak Sudi aku menjelajahinya, lebih baik aku menjelajahi tempat lain yang lebih mengerikan." Kata Helios menolak tawaran Adrian.
"His...! kalian sangat berisik!" Teriak Vent Leger yang sudah jengah mendengar perdebatan antara sang pilar matahari dan malam.
"Benar, aku pun tidak bisa tidur." Kata Soleil yang masih memejamkan matanya.
"...." Aquila hanya diam saja tidak ingin mengikuti perdebatan yang sudah terjadi diantara para pilar dunia Callista yang sudah menjadi adiknya itu.
"Nona, apa nona ingin beristirahat? Tidak jauh dari sini terdapat penginapan." Tanya Minami kepada aquila yang masih memasang wajah acuh nya.
"Terserah kak Nami saja." Jawab aquila sekenanya.
"Kalau begitu.."
BANGG....!!!
Suara dentuman yang sangat besar, dan tentu saja mengagetkan seluruh penghuni yang menempati setiap bangunan yang berada di kekaisaran Dahana. Suara dentuman itu ternyata berasal dari pintu gerbang yang baru saja Aquila dan yang lainnya lalui.
Kepulan asap hitam langsung membumbung tinggi menuju cakrawala dengan awan putih kemerahan. Orang-orang yang melihat kepulan asap itu saling bertanya satu sama lain, namun jawaban yang mereka katakan hanya ketidak Tahuan.
__ADS_1
TENGGG....!!!
Sura lonceng langsung terdengar dari setiap penjuru benteng yang mengelilingi pusat kota kekaisaran Dahana yang menandakan kalau kota itu diserang oleh pihak yang tidak diketahui. Para rakyat kekaisaran Dahana langsung panik dengan peringatan mendadak itu, mereka langsung berlarian tidak tentu arah.
Anak-anak menangis histeris karena terpisah dari orang tua mereka dan diantaranya menangis karena terhimpit oleh orang-orang yang ingin menyelamatkan diri mereka masing-masing tanpa memikirkan sekelilingnya.
Aquila masih terdiam di punggung Leave sambil mengamati sekitarnya yang sangat kacau balau sangat berbanding terbalik dengan sebelumnya yang ramai dan damai. Para prajurit dari kekaisaran Dahana langsung keluar dari dalam istana kekaisaran dengan zirah lengkap membungkus tubuh mereka dengan pedang dan perisai ditangan mereka.
"Perang ya? Sepertinya akan sangat meriah bila aku ikut." Kata Aquila dengan senyum sinis penuh ambisi.
"Nona..."
"Kakak...."
Ucap mereka secara bersamaan, karena mereka tahu betul dengan arti dai senyuman aquila itu.
"Apa? Apa salahnya bila membantu tempat yang aku kunjungi?" Tanya Aquila dengan menatap Minami dan para adiknya dengan tatapan serius.
"Aku tau tujuan kak Aquila itu baik, tapi kita tidak bisa ikut campur secara langsung. Sebab kita tidak tau permasalahanya." Kata Shiro dengan menatap wajah Aquila yang masih terpasang senyum sinis.
"Huh, padahal aku ingin sekali menggerakkan tubuhku yang kaku ini." Ucap Aquila dengan wajah yang masam.
Sedangkan saudara Shiro hanya bisa tersenyum lemah melihat kelakuan dari seorang manusia yang mereka anggap sebagai kakak yang sangat suka membuat sesuatu semakin rumit.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Aquila seakan tengah tidak memiliki ide sama sekali.
"Bagai mana kalau kita hemmmm....." Kata Shiro dengan memegang dagunya sendiri seakan tengah berpikir keras.
"Cih..!! Lama. Kita hanya perlu menonton saja apa susahnya." Kata Vent Leger dengan wajah acuh tidak perduli dengan keadaan sekitarnya yang sangat kacau balau itu
"Itu.. Aku rasa itu tidak benar." Ucap Soleil yang tidak menyetujui perkataan Vent Leger.
__ADS_1
"Lalu, apa Leil mempunyai ide yang lebih bagus lagi?" Tanya Rugiel menatap Soleil dengan penuh harap.
"Aku juga tidak tau." Tentu saja mereka semua langsung menatap Soleil dengan wajah yang tidak percaya.
"Ada apa dengan kalian? Apa aku membuat kesalahan?" Tanya Soleil kepada mereka yang terus menatapnya dengan mata yang lebar.
"Giel kira Leil mempunyai ide yang lebih bagus lagi, ternyata sama saja." Kata Rugiel dengan wajah sedihnya.
"Sudah lah, kita.... EHH.....!!!!??? DIMANA KAK AQUILA...!!!??" Kata Shiro yang sangat terkejut dengan tidak adanya Aquila yang pergi entah kemana.
Minami dan Leave hanya bisa menghela nafas pasrah dengan kepergian nona mereka yang sangat tidak diketahui oleh mereka semua.
"Haaa... Aku harap nona Aquila tidak bertindak ceroboh." Ucap Leave sembari mengamati sekelilingnya.
"Ya, aku juga berharap demikian." Kata Minami yang juga menyetujui apa yang Leave katakan tadi.
"Jadi bagaimana ini? Aku tidak mau kehilangan kak Aquila." Ucap Adrian kebingungan.
"Aku tidak tau. Tapi aku rasa kak Aquila pergi ke benteng utama yang baru saja di hancurkan." Tebak Helios.
"Ayo..!! Kita susul kak Aquila." Ajak Rugiel.
"Jangan bertindak sembarangan dulu Giel, kita tidak tau keberadaan pasti kak Aquila sekarang. Lebih baik kita cari perlindungan untuk sementara." Ucap Soleil.
"Itu benar, lagi pula kita tidak ada hubungannya dengan kekaisaran ini, kecuali dengan saudara kita Ignatius." Kata Shiro yang ikut menambahkan.
"Itu tidak salah atau benar, tetapi ada manusia yang tidak mengetahui apa-apa tentang peperangan ini, termasuk kita. Ya meskipun aku sangat membenci mereka." Ucap Vent Leger yang sedari tadi diam tidak bersuara, tentu saja membuat para pilar yang lain terkejut dengan apa yang baru saja Vent Leger katakan barusan.
"Apa aku tidak salah dengar? Eger yang aku kenal menjadi baik pada manusia?" Ucap Nix heran, dan tentu saja sang macan tutul salju itu juga sangat membenci manusia yang telah memenjarakan nya dalam waktu yang lama.
"Apa kau sudah buta?! Mereka hanyalah mahluk hina yang suka membuat kerusakan, tapi tidak semuanya. Kau ingat itu Nix!!" Kata Vent Leger dengan nada yang menekan.
__ADS_1
"Ya, aku tau itu, kau tidak perlu mengguruiku." Kata Nix dengan malas.
"Oh.. Apa kabar pilar dunia..?!" Tanya sebuah suara yang mereka sangat kenal, namun sangat tidak bersahabat.