Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 51


__ADS_3

Leave telah selesai membantu Aquila merapihkan rambut hitam malam miliknya, Shiro dan Rugiel juga terlihat sangat menawan dan imut meski mereka adalah pilar dunia namun sifat kekanak-kanak masih terlihat jelas dengan tingkah mereka yang selalu mencari perhatian Aquila.


Shiro yang berbicara asal dan Rugiel yang polos dan juga cengeng membuat Aquila merasakan sakit kepala yang sangat menyiksa kepalanya. Namun Minami dan Leave melihat tingkah kedua pilar itu hanya bisa tertawa dan tersenyum geli melihat nya, Kalau Aquila dipandangnya mereka terlihat seperti seorang ibu yang mengawasi anak-anaknya yang nakal.


Hal itu juga yang membuat Aquila pusing dua bocah saja sudah membuatnya sakit kepala apa lagi dengan tujuh yang lainya yang belum bergabung dengan mereka. Bisa-bisa Aquila terkena penyakit darah tinggi karena sering menahan marah yang ingin dilampiaskan namun dengan wajah imut kedua pilar itu membuat Aquila menahan diri.


"Nona, kenapa? Apa nona tidak enak badan?" Tanya Minami yang khawatir yang melihat Aquila memegangi kepalanya.


"Aku tidak apa-apa kak Nami, hanya sedikit merasakan sakit kepalaku saja." Ucap Aquila.


"Kak Nami dari mana saja, baru sekarang aku melihat kakak." Kata aquila sambil mengamati Minami.


"Tadi aku berkeliling sebentar dihutan light elf, siapa tau aku dapat menemukan reruntuhan istana ibuku." Kata Mianmi jujur.


"Oh... Lalu, kalian! Mengapa ada disini?" Tanya Aquila heran melihat para magical beast yang berkumpul berbentuk lingkaran.


"Nona. Ini masalah dengan hutan Roa. Kami tidak tau harus berbuat apa, sehingga kami semua memutuskan untuk bertanya kepada nona Messiah." Kata salah satu magical beast mewakili yang lain.


"Benar nona Messiah, kami ingin segera menyerang mereka, namun jumlah kami sangatlah terbatas belum lagi terdapat anak-anak yang masih memerlukan perlindungan. Jika kami langsung menyerang, peluang kami sangatlah kecil untuk menang. Apa lagi para manusia itu bisa memanggil bantuan dari kerajaan Zuwei." Jelas rubah api.


"Jadi begitu masalahnya. lalu, apa diantara kalian memiliki kemampuan lari yang sangat cepat?" Tanya Aquila sambil melihat satu demi satu dari rombongan itu.


"Diantara kami hanya ada beberapa saja nona. Apa yang akan nona rencanakan?" Tanya rubah api penasaran.


"Itu R-A-H-A-S-I-A, kalian akan tau sendiri nanti malam." Ucap Aquila dengan menekan kata rahasia.

__ADS_1


Para magical beast terlihat kebingungan dengan perkataan Aquila. "Kalian tidak perlu berpikir dengan keras. Kalian semua akan tau sendiri setelah malam yang akan datang." Jelas Aquila sambil memainkan belatinya.


"Baiklah, kami akan mengikuti perintah nona Messiah." Ucap mereka secara serempak.


"Lalu, diamana diantara kalian yang mampu berlari dengan cepat?" Tanya Aquila Kemabli.


Rubah api langsung maju, dan diikuti juga dengan serigala abu-abu, kancil dengan daun telinga yang membentuk daun yang lebar, dan tikus dengan ekor yang membentuk panah.


"Lumayan, lalu aku juga membutuhkan magical beast yang bisa terbang dengan cepat juga." Ucap Aquila kembali.


Beberapa burung langsung keluar dari balik pohon yang tidak jauh dari mereka semua. Burung Kaka tua raja dengan bulu hitam legamnya menjadi yang pertama, lalu disusul dengan burung Raja udang dengan warna biru yang mencolok serta beberapa burung pelatuk dengan jambul yang sangat eksotis, tidak tertinggal burung alap-alap dengan warna abu-abu juga menyusul.


"Aku rasa sudah cukup. Dan sisa dari kalian tetaplah disini untuk menghindari para manusia itu." Kata Aquila dengan puas.


"Hei.... kalian!!! Kenapa kalian menggunakan tanduk kakakku sebagai tempat duduk kalian." Teriak Aquila sambil mengambil kedua burung yang kurang ajar itu yang berani menggunakan tanduk Leave sebagi tangkringan kedua burung merah jingga itu.


Sedangkan kedua burung itu bercicit tidak jelas, Aquila langsung menempatkan kedua burung itu ditangga yang terbuat dari ranting pohon buatan Leave tentu saja dengan kekuatan sihir alam miliknya. Bersama juga dengan Shiro dan Rugiel yang duduk manis ditangga itu juga.


"Maafkan kedua burung itu kak." Ucap Aquila dengan rasa bersalah dengan kedua burung itu.


"Tidak apa nona, apakah aku dan Minami bisa ikut juga?" Tanya Leave kembali.


"Tentu saja, pasti akan seru jika kak Nami dan kak Leave ikut bermain." Kata Aquila dengan antusias dan senyuman yang mengembang bahagia.


"Memang apa yabg nona rencanakan?" Tanya Minami.

__ADS_1


"Yo...! Kalian kemarilah." Teriak Aquila kearah rombongan magical beast yang baru saja dipilihnya. Kemudian mereka semua mulai berdiskusi untuk rencana nanti malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari mulai menyisih ke ufuk barat untuk beristirahat, cakrawala mulai menghitam dengan gempita yang menghiasinya sisi langit.


Burung malam keluar dari tempat tinggal mereka untuk mencari makan, kepakan sayap yang tidak bersuara memudahkannya untuk menangkap mangsanya yang tidak mengetahui ajalnya akan datang.


Hembusan angin mulai terasa dingin dimalam hari, ranting pohon yang berserakan mulai berbisik untuk meramaikan malam yang sunyi. Suara langkah kaki terdengar namun tidak terdapat wujudnya.


Suara gaduh melalui mengusik malam yang tenang, dan membuat siapapun enggan keluar dari sarang. Suara ranting terinjak dengan gerakan yang cepat.


Para prajurit yang berjaga mulai mengantuk karena belaian angin malam yang dingin. Cahaya penerangan bersumber dari obor yang mengeluarkan api dengan tiang terbuat dari bambu.


Suara tertawa terdengar keras dari sebuah tenda yang mewah, bau alkohol sampai tercium dari dalam tenda mewah itu. Suara manja dan genit menghiasi bagian dalam tenda dan membuat siapapun ingin mengintip untuk mengetahui apa yang ada didalam tenda mewah itu.


Disisi lain dari tempat itu terdapat tenda yang tidak bisa dikatakan tenda karena sangatlah kecil dengan beberapa bagian yang berlubang membuat penghuninya menggigil kedinginan karena angin malam menerobos dari lubang ditenda itu.


Tanpa selimut, tanpa alas tidur mereka para budak tidur berhimpitan dengan teman mereka yang juga kedinginan. Tenda yang kecil dan tidak layak itu hanya bisa menampung sedikit orang dan yang lainya terpaksa tidur diluar tenda itu.


Sangat menyedihkan dan penderitaan yang menyakitkan, namun itulah hidup mereka yang telah menjadi budak yang dijual untuk digunakan tenaganya seperti sapi pengangkut barang. Namun nasib sapi lebih baik daripada mereka yang disebut manusia.


Ditenda mewah itu mulai sepi, namun suara ambigu terdengar dari dalam tenda mewah itu. Suara seorang wanita merintih dan beberapa yang lainya mulai merayu-rayu untuk memuaskan rasa dahaga nafsu mereka.


Prajurit yang berjaga langsung masuk kedalam tenda itu untuk mengambil beberapa wanita untuk melayani mereka. Para wanita itu adalah budak birahi yang dibawa oleh bangsawan gendut dengan berewok yang menghiasi wajahnya dan Aquila menjulukinya sebagi om muka rambut.

__ADS_1


__ADS_2