Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 110


__ADS_3

"Benarkah, lalu bagimu Adrian itu apa kalau bukan musuhmu yang kau jadikan samsak tinju?" Tanya Vent Leger mengejek Helios yang masih marah dan kini mendapatkan provokasi dari saudaranya yang membuatnya semakin naik pitam.


"K-kau...! kau pikir hanya seperti itu. Ternyata pikiranmu sangat dangkal Eger, aku dan Adrian hanya rival bukan musuh. Aku tidak menyangka kalau kau akan berpikir sangat diluar dugaanku." Kata Helios sambil menunjuk muka Vent Leger dengan wajah yang kecewa.


"Wah, sepertinya kalian akan menjadi akrab ya." Kata Soleil yang menonton adu mulut dari dua saudaranya itu.


"Soleil, kenapa kamu ada disini, bukanlah seharusnya kamu tidak meninggalkan wilayahmu yang tandus itu?" Tanya Vent Leger terheran dan mengabaikan Helios yang berwajah merah karena marah.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh keluar dari wilayahku sendiri Eger?" Tanya Soleil dengan wajah penuh tanya.


"Tentu saja boleh, jangan-jangan kamu mengikuti manusia itu?" Tanya Vent Leger memastikan.


"Itu memang benar, karena aku sangat mempercayai kak Aquila dan dia adalah orang yang kita tunjuk melalui Rino, Eger." Kata Soleil dengan tersenyum cerah penuh dengan ketenangan, sangat berbeda dengan Helios yang terlihat garang.


"Tapi, kenapa? Bukankah dia seharusnya dari dunia lain dan kenapa dia memiliki aura dari dunia Callista ini?" Tanya Vent Leger berturut-turut.


"Ya aku tidak tau, tanyakan saja pada kak Aquila saat sadar nanti. Dan ngomong-ngomong dia terluka parah saat membangkitkan mu." Jawab Soleil dengan wajah ringan nan polos, seolah dia tidak ingin mencampuri urusan para saudaranya yang lain, menurutnya itu sangat menyusahkan.


"Apa itu belum jelas Eger, demi mu kak Aquila rela berkorban. Dan apa yang dia dapatkan? Cih..! memikirkan hal itu saja kamu tidak akan sampai." Ucap Helios dengan kecewa.


"Sudahlah, Lio. Ayo kita kembali saja. Sepertinya Eger tidak bisa mempercayai kakak kita." Kata Soleil sambil menarik tangan Helios untuk kembali ketempat para saudaranya yang lain dan tentu saja kakak tercinta mereka.


"T-tunggu, apa aku boleh ikut dengan mu?" Tanya Vent Leger dengan wajah menunduk.

__ADS_1


"Tentu saja, kak Aquila pasti akan senang, benar kan Lio?" Kata Soleil dengan memandang wajah Helios yang masam karena belum puas memberi pelajaran pada Vent Leger.


"Hem..." Jawabnya acuh.


"Ayo..." Kata Soleil sambil menarik Surai serigala yang terlihat takut-takut pada Helios yang memandanginya tajam penuh peringatan.


Wajah yang ceria dan penuh dengan senyum yang terpasang diwajahnya yang lugu, membuat siapapun ingin melindunginya dari orang-orang yang berniat jahat padanya. Begitu pula dengan Helios dan Vent Leger yang masih setia mengikuti langkah riang dari Soleil yang menarik mereka secara bersamaan.


Setelah berjalan menyusuri jalan utama yang dipenuhi oleh rumput liar dan tibalah mereka disebuah bangunan tidak layak huni namun masih bisa ditempati. Dan Adrian tengah melingkar dengan mata tertutup di pintu menikmati sinar matahari yang menghangatkan tubuhnya yang senantiasa berdarah dingin itu.


Adrian yang sebelumya masih menutup matanya langsung terbuka dengan pupil mata vertikal memandang tajam pada sosok serigala yang ditarik oleh Soleil.


"Ah... Adrian, kenapa kamu ada disini?" Tanya Soleil menyapa Adrian yang menatap penuh permusuhan pada sosok serigala yang berdiri dibelakang Soleil.


"Tenang lah, Eger hanya ingin menanyakan sesuatu pada kak Aquila dia tidak akan melukai kak Aquila, percayalah." Bujuk Soleil yang melihat Adrian mendesis gelisah pada Soleil.


"Kau sudah kembali Leil, Giel takut kalau kamu akan dilukai oleh Eger." Sambut Rugiel sambil memeluk Soleil dengan penuh kehawatiran.


"Aku tidak apa-apa Giel. Aku pergi bukan bertempur dengannya, tapi membawanya kemari karena Eger ingin menanyakan sesuatu pada kak Aquila." Kata Soleil menenangkan kecemasan Rugiel yang menurut Soleil berlebihan.


"Benarkah, dimana Eger saat ini Giel tidak melihatnya." Kata Rugiel sambil melihat sekelilingnya mencari Vent Leger yang bersembunyi dibalik punggung Helios, karena dia tidak menyangka kalau hampir seluruh dari para pilar berkumpul di tempat yang sama kecuali tinggal empat tiga pilar lagi yang tidak diketahui keberadaannya.


"Bagaimana dengan keadaan kak aquila? Seharusnya sekarang sudah membaik dari sebelumnya." Tanya Helios sambil menarik Surai dileher serigala putih abu-abu kehadapan Shiro yang masih setia menunggu disamping Aquila dengan nafas yang normal tidak seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Ya, seperti yang kamu lihat Lio. Pemulihan pada diri kak Aquila mungkin memerlukan waktu yang sedikit lama. Dan juga Minami sedang dalam tidur panjangnya karena pembukaan segel terakhir pada tubuhnya yang memaksanya untuk terlelap." Kata Shiro sambil menatap lekat wajah Aquila yang sudah terlihat membaik dari sebelumnya.


"Baguslah. Sekarang kau tau keadaan kak Aquila. Aku harap kamu tidak memandang kak Aquila sama dengan kamu memandang manusia yang telah membunuhmu Eger." Kata Helios memperingati.


"Ya, aku tau. Aku disini bukan mencelakai manusia itu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja." Kata Vent Leger dengan acuh.


"Manusia? Siapa yang kamu maksud Eger, Giel tidak mengerti." Kata Rugiel.


"Bolehkah aku duduk disampingmu Rino?" Tanya Vent Leger bertanya dengan nada memohon, sebab tatapan tidak suka dari Helios, Adrian dan Rugiel membuatnya tidak nyaman.


"Tentu saja, tidak ada yang akan melarang mu." Jawab Shiro dengan senyum ramah nya.


"Huh, mencari perlindungan. Kamu kira aku tidak berani untuk menghajarmu." Kata Helios dengan nada yang mengejek.


"Haaahh.... Kalian semua. Bisakah kalian tenang?" Kata Shiro sambil menatap ketiga pilar yang terlihat masih marah pada Vent Leger.


"Rino, kenapa kamu membiarkan Eger berada didekat kak Aquila, bagaimana kalau dia melukai kak aquila?" Tanya Rugiel tidak terima.


"Giel, tenanglah. Eger tidak akan melakukan hal itu. Aku menjamin dia tidak akan melakukan nya. Dan bisakah kalian diam?" Tanya Shiro dengan menekan kata terakhir.


"Baiklah..." Jawab Rugiel dan Helios bersamaan.


"Bagus." Kata Shiro dengan puas.

__ADS_1


Mereka berdua pergi meninggalkan ruangan itu dan langsung duduk di samping Soleil yang tengah bersantai dan memakan cemilan buah kering yang diberikan oleh Leave, yang sekarang menghilang entah kemana gerangan dia pergi.


Dan Adrian melingkar didamping Aquila diseberang Vent Leger dengan tatapan tajam nya, kemudian tertidur dengan tenang sesekali mengeluarkan kisah bercabangnya.


__ADS_2