Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 26


__ADS_3

Leave langsung bernafas lega dan ternyata bukan ancaman, namun waspada boleh saja didalam tempat seperti hutan yang belum tersentuh oleh manusia. Tidak, lebih tepatnya dulu tempat tinggal para elf.


Suara berisik akibat gesekan antara batang semak dan langkah kaki sekelompok orang yang yang Minami katakan sampai di pesisir sungai ditempat Aquila beristirahat.


Muncul seorang elf dengan rambut hijau tua dengan warna kulit kecoklatan seperti batang pohon albasiah yang disinari cahaya matahari, dengan wajah yang kaku telah melewati rintangan yang berat. Telinga runcing dengan anting tergantung bulu burung rangkok namun kecil menampilkan kesan seorang pria yang garang dan dibelakangnya terdapat elf wanita yang cantik dengan warna kulit seputih susu dan rambut sehijau pucuk daun muda.


Dikelopok itu terdapat sepasang elf paruh baya dengan kerutan yang sedikit terlihat dimatanya namun masih terlihat tampan dan beberapa anak remaja dan anak-anak yang masih dalam belaian orang tuanya. Sekelompok light elf yang baru keluar dari dalam hutan menghampiri kelompok Aquila yang tengah bersantai.


Lalu mereka menjatuhkan diri mereka dengan salah satu lutut berdiri dan satunya lagi bersimpuh diatas tanah. Baik muda atau tua,mereka semua melakukan sikap seperti satria menemui junjungannya.


Aquila hanya diam dan heran dengan tingkah sekelompok elf yang menurutnya aneh itu. "Siapa kalian, dan apa tujuan kalian?" Tanya Leave dengan datar.


"Maaf atas kelancanggan kami, kami hanya lah sekelompok light elf yang menemukan tujuan kami." Kata seorang pria yang terlihat garang itu.


"Tujuan? Tujuan apa yang kalian maksud?" Tanya Minami.


"Kami merasakan seseorang telah membangkitkan musim semi kami yang telah lama hilang, dan kami telah lama menunggu untuk mengabdikan diri kami kepada nya." Jelasnya.


"Kau, siapa namamu?" Tanya Aquila dengan datar namun suaranya terdengar merdu dan hangat ditelinga mereka.


"Sungguh arogan sekali manusia itu." Kata wanita yang berada dibelakang pria tadi yang tidak suka dengan ucapan Aquila.


"Perkenalan nama saya Lino, adik dari Liliana pemimpin light elf seratus tahun yang lalu. Dan maafkan ucapan istri saya nona " Katanya dengan penuh hormat.


" Oh, ternyata dari light elf, yang musnah seratus tahun yang lalu. Aku kira sudah tidak ada yang tersisa dari perang seratus tahun yang lalu." Kata Aquila acuh dan dan menyangga kepalanya dengan salah satu tangannya.


"Benarkah kak Nami?" Imbuh Aquila sambil melihat Minami yang tubuhnya bergetar karena terkejut dengan fakta yang baru saja dia ketahui pada hari ini.

__ADS_1


"Nona jangan begitu, Minami bisa sedih jika mengingat orang tuanya." Tegur Leave namun diacuhkan oleh Aquila.


"Siapa yang anda maksud nona?" Tanya Lino penasaran.


"Tanyakan sendiri dengan adik keponakanmu yang kalian lupakan." Meski terlihat tidak perduli dalam ucapanya, tapi bagi orang yang sudah mengenal Aquila mengeti makna tersirat dalam ucapanya.


"Adik keponakan? Saya rasa tidak memiliki adik keponakan selama ini. Meski kakakku memiliki kekasih dari dark elf tapi itu tidak mungkin memiliki anak secepat itu. Dan juga hubungan antara light elf dan dark elf itu sangat tabu bagi bangsa elf." Jelas Lino yang tidak percaya begitu saja dengan ucapan yang terlontar dari mulut Aquila.


"Kak Nami, aku rasa kamu harus membuka penutup kepalamu, agar mereka percaya."


"Tidak perlu nona, cukup bagiku mengetahui kalau aku masih memiliki saudara meski mereka tidak ingin mengakui saya." Kata Minami dengan tenang namun dengan hati yang teriris perih dengan kenyataan.


"Terserah dirimu kak Nami, keputusan ada ditangan mu dan aku hanya memberi jalan saja." Kata Aquila sambil memakan buah persik yang entah dari mana.


"Terima kasih nona." Minami membungkukkan tubuhnya dan kembali menegakkan kembali tubuhnya.


"Saya hanya ingin tau, apakah nona yang mengembalikan musim semi dihutan ini?" Lino bertanya dengan penuh harap kalau gadis yang ada dihadapannya yang melakukannya.


"Bukan, aku hanya perantara nya saja. Itu tergantung keinginan Tuhan untuk mengembalikan musim semi atau tidak. Itu tidak ada hubungannya dengan ku." Kaya Aquila sambil berdiri dan berjalan kearah pohon bunga begonia yang mekar dengan kelopak merahnya.


Ranting yang Aquila sentuh langsung mengeluarkan kuncup bunga dan mekar dengan cepat. Sontak membuat orang yang ada di sana terkejut terutama Aquila sang pelaku utama.


"Anda apakah seorang Messiah?!" Tanya mereka secar serempak.


"Tentu saja bukan." Perkataan Aquila membuat para light elf kecewa.


"Messiah adalah gelar nona kami, bukan berarti nona Aquila bisa melakukan hal yang ajaib." Leave menyambung perkataan Aquila yang menyembunyikn tentang kebenaran dirinya.

__ADS_1


"Walaupun itu sebuah gelar, tapi mengapa nona bisa membuat bunga mekar dalam sekejap? Itu telah membuktikan kalau nano adalah seorang Messiah." Bantah Lino.


"Terserah apa katamu, tapi itu tidak ada hubungannya dengan ku."


"Nona, tolong terimalah kami sebagai pengikutmu." Kata Lino dan semua elf yang ada.


"Aku tidak bisa." Tolak Aquila tegas.


"Terlalu merepotkan bila banyak orang mengikuti ku, aku tidak bisa melindungi kalian dalam perjalananku. Dan pikirkan lagi anak-anak yang ada di kelompok mu, bukan keegoisanmu demi mengikuti ku." Tambah Aquila.


Lino terdiam, memang bener didalam kelompoknya terdapat anak-anak yang belum bisa melindungi diri mereka sendiri. Apalagi marabahaya yang akan mengintai mereka kapanpun saat merek lengah, belum lagi dari ancaman manusia yang selalu serakah dan kejam untuk membantai mereka, dan menjadikan ank-anak sebagai budak. Dan juga selama ini mereka selalu bersembunyi dan menghindari manusia yang masuk dalam hutan.


"Saya mengerti nona, tapi tolong jadikan kami pengikutmu dalam perjalanmu. Kami berjanji tidak akan membuat anda tidak nyaman." Tawar Lino.


"Apa kau tidak mengerti apa yang aku ucapkan? Atau kamu sudah tuli dengn suara anak-anak dikelopokmu semdiri?" Kata Aquila dengan suara yang agak tinggi.


Suara tangisan anak-anak mulai terdengar dan mereka mengeluhkan perut mereka yang lapar kepada ayah dan ibunya, hal ini membuat bingung orang tua. Lino tersentak dengan suar Aquila dan tangisan anak-anak itu, dalam beberapa hari mereka hanya memakan sedikit makanan yang didapatkan dari hutan itu.


"Apa kamu belum mengerti juga?" Tanya Aquila dengan tatapan tajam terarah ke Lino.


"Lebih baik kalian tinggal di sini, kalian bisa menangkap ikan atau menanam sayuran dan buah. Daripada mengikutiku dan menderita ditengah jalan. Aku tidak mau menanggung semua itu."


"Nona, tapi kami tidak bisa berdiam di tempat yang sama. Kami takut ditemukan oleh manusia." Kata Lino ragu dengan manusia yang menjadi masalah utam mereka.


"Masalah itu serahkan saja padaku. Kak Leave tolong bantu aku!" Teriak Aquila dan Leave pun menghampiri Aquila.


"Apa yang bisa aku bantu nona?"

__ADS_1


__ADS_2