
Cahaya sang mentari menyingsing di ufuk timur bersama dengan Mega yang menangisi alam sudah sangat tersiksa dengan keserakahan manusia yang tidak ada habisnya. Cakrawala menghitam bersama bintang yang bersembunyi di bayang-bayang awan hitam.
Asap masih mengepul di udara membaut sesak siapapun yang menghirupnya. Bunga api sudah tidak dapat menunjukan pesonanya, karena lingkungannya yang sangat mengerikan.
Kekaisaran Dahana yang indah penuh warna merah, jingga dan hitam kini berubah menjadi neraka fana yang muncul di dunia Callista karena adanya peperangan. Burung gagak terus menyanyikan lagu kesedihan dengan suara parau nya yang membuat siapapun mendengarkannya akan langsung menutup telinga mereka rapat-rapat.
Begitu juga dengan tangisan para pilar dunia Callista yang tengah menyaksikan sang kakak yang terluka dengan kebangkitan dari pilar Samudra yang berlumuran darah sang kakak.
Sang kaisar Samudra sangat terkejut dengan hal itu, sebab tidak ada cara untuk melepaskan sang pilar yang sudah menyatu dengan tubuhnya.
"K-kau.....!!! Apa yang kau lakukan....?!!" Tanya sang kaisar Samudra tidak percaya. Dan lambat laun tingkat kekuatan sihirnya menurun dengan sangat cepat menjadi tempat tingkat raja yang sebelumnya berada ditingkat dewa.
Aquila diam tidak mengeluarkan sepatah kata, namun yang terlihat jelas hanya wajah datar tersirat kebahagiaan dan kesakitan. Sang kaisar Samudra langsung mengayunkan pedangnya untuk memenggal Aquila, namun sebuah bilah belati langsung menancap tepat ditangannya.
"Akh.....!!! Bedebah....!! Siapa yang berani menyerang yang mulia ini....!" Teriak kesakitan sang kaisar Samudra sambil berusaha melepaskan belati yang menancap ditangannya itu dan mulai membuat kulit tangannya menghitam.
"Tidak akan ku biarkan kau menyentuh nonaku." Ucap Minami yang sudah dibelakang tubuh kaisar Samudra serta menepatkan salah satu belatinya di leher sang kaisar Samudra.
"B-eraninya kau...!!" Ucap sang kaisar Samudra dengan ngeri, sebab tinggal beberapa mili lagi belati milik Minami akan menggores lehernya dan kemudian Minami langsung membaut sang kaisar Samudra tidak sadarkan diri, sebab kondisi Aquila yang seperti akan tumbang.
"Kak Aquila .....!!!" Teriak Shiro dengan tubuh besarnya yang berlari dengan kencang untuk menangkap tubuh Aquila yang akan terjatuh.
Rambut perak Aquila perlahan memudar dan digantikan dengan warna hitam pekat dan begitu juga dengan kedua netra matanya yang kembali normal seperti semula saat di bumi.
__ADS_1
Darah Aquila masih terus keluar dari luka yang dia dapatkan, dan diperutnya terdapat seekor ulat kecil yang mempunyai tanduk dan kaki serta warna yang seindah samudra, dialah sang pilar samudra Sebasta.
"Nona, bertahanlah nona..." Kata Leave dengan panik, meski Leave berusaha untuk setenang mungkin.
"M-maafkan a-aku kak.... S-hiro..." Ucap Aquila lirih dan penuh dengan penyesalan.
"Jangan bicara lagi nona.." Kata Leave dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menutup luka Aquila.
"Kak Aquila... hiks....!!" Isak Adrian, meski dalam wujud ular kecilnya dia berusaha merayap untuk sampai di sisi Aquila begitu juga dengan pilar yang lainnya
"Kak Leave, he-ntikan... Kakak ti-tidak perlu berusaha me-menyembuhkan lukaku ini... Aku s-sudah ti-dak da-pat ter-tolong lagi..." Kata Aquila dengan lemah dan berusaha menghentikan penyembuhan dari Leave.
"Apa yang kamu katakan nona.... hiks.... Jangan membuatku takut...." Kata Leave yang sudah tidak dapat menahan kesedihannya.
Aquila hanya bisa tersenyum lemah, air matanya sudah meluncur diwajahnya yang pucat. Menyiratkan ketidak kesanggupan nya untuk bertahan. Nafasnya juga semakin tercekat.
"A-aku... a-ku... Maafkan aku s-hiro.... S-sepertinya a-ku tidak b-bisa menepati janjiku pa-damu.... a-ku... ha-nya bisa menolong nya saja.... a-ku harap k-kamu mau me-maafkan aku y-yang ti-dak bi-sa menepati ja-njiku dulu...." Kata Aquila dengan tersendat-sendat dengan air mata yang berlinang.
"Apa maksudmu kak.... Kak Aquila tidak melakukan kesalahan apa pun... Kak Aquila sudah menepati janjimu padaku dulu... Jadi, kak Aquila tidak perlu merasa bersalah...." Ucap Shiro dengan perasaan campur aduk dan merasa sakit dihatinya dengan penuturan Aquila.
"Ta-pi.... A-ku tidak bi-sa m-menyelamatkan seluruh s-saudaramu Shiro... ja-jadi maafkan aku yang tidak mampu ini...." Tambah Aquila lagi.
"Kak Aquila tidak perlu merasa terbebani, kak Aquila sudah menyelamatkan kami semua dari rasa putus asa dan jurang kebencian kami yang teramat dalam pada dunia ini." Ucap Vent Leger dengan acuh, namun matanya tidak dapat membohongi perasaannya yang kalut.
__ADS_1
"Benar kak Dita. Aku tidak mau berpisah dengan kak Dita." Kata Nix dengan berlinangan air mata.
Aquila hanya bisa tersenyum lemah mendengar penuturan dari adik-adiknya itu yang sudah menemaninya di dunia Callista meski hanya sesaat. Namun apa daya, Aquila hanyalah manusia biasa yang tentunya akan mengalami kematian.
"DITA..........!!!!!" Teriak Rin dengan sangat kencang bersama dengan langkah kakinya yang cepat, sedangkan sosok serigala putih dibelakangnya mengejar Rin dengan susah payah.
"R-rin..." Kata Aquila dengan lirih, namun masih dapat didengar.
"Apa yang terjadi kak Leave...? Kenapa Dita bisa terluka sangat parah seperti ini??" Tanya Rin pada Leave secara berurut.
Sedangkan Leave hanya bisa membisu dan terus menyalurkan mananya pada tubuh Aquila begitu juga dengan Minami. Sedangkan para pilar dunia Callista ikut membisu dengan Isak tangis yang cukup keras, terutama Soleil dan Rugiel.
"M-maafkan a-ku.... Uhuk-uhuk..." Kata Aquila belum selesai, namun sudah dihentikan dengan batuknya yang mengeluarkan darah segar.
"Jangan bicara lagi..!" Kata Rin, kemudian Rin pun ikut menyalurkan mana miliknya untuk menyembuhkan tubuh Aquila.
"Rin... Maafkan aku, kali ini aku akan pergi jauh dan tidak dapat kamu jangkau, begitu juga dengan adik-adik ku yang sangat aku sayangi. Maafkan kakak kalian yang tidak berguna dan tidak dapat melindungi kalian dengan benar. Dan kak Leave dan kak Nami, tolong awasi adik-adik ku yang nakal dan ceroboh itu, dan aku harap kalian semua dapat berbahagia tanpa adanya diriku." Ucap Aquila dengan sangat lancar dan menggenggam tangan mereka bertiga yang terus menyalurkan mananya untuk memperbaiki jantungnya.
Setelah genggaman tangan Aquila pada Rin, Leave dan Minami, mana mereka tidak dapat mengalir ke tubuh Aquila. Dan Aquila hanya bisa tersenyum lemah dan air mata yang mengalir.
"Maaf...." Ucap Aquila dengan penyesalan, lalu tangan Aquila yang memegang tangan mereka bertiga langsung terlepas dengan sendirinya.
"TIDAK......!!!!!! KAU JANGAN BECANDA DITA.... KENAPA KAU MENINGGALKAN AKU LAGI..... BUKANKAH KITA ADALAH SAUDARAMU.....!!!!" Teriak histeris Rin dengan mengguncang tubuh Aquila yang sudah tidak bernyawa.
__ADS_1