
"Huuuaaaaa......... kakak tega sekali.....!!!!" Tangisan Shiro seketika pecah, kalian tau sendiri bukan, kalau kucing sangat benci dengan air?
Magical beast yang melihat kejadian itu ada yang tertawa dan ada juga yang menahan. Tak terkecuali pemimpin mereka si rubah api yang tengah menahan tawanya agar wibawanya tidak jatuh Dimata rombongannya.
Bagi Minami dan Leave hal itu sudah biasa dengan kelakuan junjunganya itu yang terlihat seperti bermusuhan namun sangat menyayangi satu sama lain. Minami memeriksa kembali kondisi Rugiel yang masih belum sadar dari tidur panjangnya.
"Bagaimana keadaanya sekarang Nami?" Tanya leave penasaran.
"Keadaanya sekarang baik-baik saja, tetapi aku tidak tau kapan dia akan terbangun." Jawab Minami.
Suara tangisan Shiro semakin dekat dengan tempat Mianmi dan Leave yang sedang duduk disamping Rugiel. Mereka berdua mengatakan pandangan mereka keasal suara tangisan yang nyaring itu.
"Huaaa... kakak lepaskan aku..... aku tidak mau mandi lagi......hiks." Shiro sambil meronta agar terlepas dari genggaman Aquila.
"Tidak akan. Lebih baik kamu mandi agar otakmu menjadi lebih jernih." Tolak Aquila sambil menyeret Shiro dengan memegang kerah baju.
"Kakak hiks, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi."
"Setidaknya lepaskan tangan kakak dari kerahku hiks." Ucap Shiro sambil memegang tangan Aquila.
"Kalau aku lepaskan, pasti kamu akan kabur dan menghindar dari hukumanmu adikku yang tampan." Aquila mengatakannya dengan muka mengejek.
"Aku janji kak, aku tidak akan mengulanginya lagi hiks." Dengan linangan air mata serta ingus yang mengalir dari hidungnya, sehingga tampilan Shiro sangat menyedihkan dengan baju yang basah kuyup.
"Ughh...." Lenguhan kecil terdengar dari Rugiel, sontak membuat orang yang ada disekitarnya langsung memfokuskan penglihatannya tidak terkecuali Aquila dan Shiro dengan tampilan kacaunya.
Aquila melepaskan kerah baju Shiro dan langsung menuju Rugiel berada, Shiro melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Aquila, tampilan Shiro saat ini tidaklah penting ketimbang terbangunnya saudaranya dari tidur panjangnya.
"Kamu sudah bangun Rugiel?" Tanya Aquila memastikan apa yang didengarnya.
Sepasang mata terbuka dengan pelan, lalu mengedipkan beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai menjelang siang.
Saat pertama yang Rugiel lihat hanyalah beberapa sosok yang buram, namun setelah menguasai penglihatannya terdapat empat sosok yang tengah menghawatirkan dirinya.
__ADS_1
"Rugiel...... akhirnya kamu bangun..... hiks." Shiro langsung memeluk Rugiel dengan baju basah yang ia kenakan.
"R-rino? Kamu kah itu?" Tanya Rugiel memastikan kalau yang memeluknya adalah saudaranya dan bukan lagi bayang-bayang dalam kesepiannya.
"Rugiel.... aku sangat merindukanmu...huuaaa...." Shiro semakin kencang menangis bahkan lebih keras saat Aquila menenggelamkan dalam gelombang air danau.
"Hiks... aku juga sangat merindukanmu juga Rino hiks...." Kata Rugiel sambil terisak. Tanpa ada angin atau awan, gumpalan awan hitam langsung memenuhi langit yang cerah dan ikut menuangkan air hujan.
"Ahh... betapa mengharukan pertemuan kedua adikku ini." Ucap Aquila sambil menghapus air matanya.
"Nona," Kata Leave sambil menyerahkan saputangan putih.
"Terimakasih kak Leave." Aquila mengambil saputangan yang diberikan oleh Leave.
"Kenapa hujan?" Tanya Minami heran.
Aquila melihat sekitarnya dan apa yang dikatakan kakaknya memang benar. "Tidak apa kak, mungkin cuacanya masih hujan."
"Bagai mana dengan mereka? Aku akan kesana dan mengajak kedua adikku." Aquila meninggalkan Leave dan Minami yang tengah berdiri tidak jauh dari pohon yang dimaksud dengan Leave dan tidak jauh juga dengan Shiro dan Rigiel yang tengah meluapkan rasa rindu mereka yang terpendam lama.
Aquila memeluk kedua adiknya yang tengah menangis itu. "Sudah, Lebih baik kalian berteduh dahulu. Lihat baju kalian basah semu." Ucap Aquila membujuk mereka berdua lalu melepaskan pelukannya dan berdiri.
Shiro dan Rugiel menuruti apa yang dikatakan oleh Aquila, kemudian kedua saudara itu memegang tangan Aquila kanan dan kiri. Lalu mengikuti langkah Aquila menuju pohon yang telah Leave dan Minami gunakan untuk berteduh.
Rugiel masih belum bisa berjalan dengan seimbang, membuatnya kesusahan untuk menyamai langkah Aquila. Aquila melihat adik barunya kesusahan berjalan langsung menggendongnya di punggungnya.
"Untuk sementara, Rugiel tidak perlu berjalan. Biarkan kakak menggendong mu."
Rugiel hanya bisa pasrah dan mengikuti ucapan kakak dari saudaranya Catarino. Shiro menggenggam tangan kanan Aquila dengan erat seakan Aquila akan direbut oleh Rugiel.
Setelah sampai dipohon yang dituju, Aquila menurunkan Rugiel dan mulai mengeluarkan sihir anginnya yang hangat untuk mengeringkan baju basah milik Rugiel. Setelah selesai, Aquila mengeringkan Shiro yang terlihat menggigil kedinginan.
Selesai sudah Aquila mengeringkan kedua adiknya, lalu mulai mengeringkan baju miliknya yang juga basah akibat air hujan. Shiro langsung memegang tangan kanan Aquila dengan erat kembali.
__ADS_1
"Ada apa dengan mu shiro? Ini tidak seperti dirimu." Tegur Aquila melihat tingkah laku Shiro yang terlihat posesif itu.
"Tidak ada, aku hanya ingin dekat dengan kak Aquila saja." Ucap Shiro dengan tatapan tajam kearah Rugiel.
"Kalau begitu, bisakah kamu lepaskan tanganmu itu shiro?" Ucap Aquila dengan senyumannya yang mengancam.
"Tidak, aku ingin terus begini kak."
"Kak? bolehkan aku juga memegang tanganmu juga?" Tanya Rugiel dengan ragu namun tatapan tajam Shiro menandakan kalau dia tidak ingin berbagi.
"Tentu saja," Lalu Aquila mengulurkan tangan kirinya.
"Terimakasih kak."
Minami dan Leave tersenyum penuh dan gemas dengan kelakuan kedua pilar yang merebutkan perhatian nona mereka.
"Mereka terlihat sangat manis." Kata Leave.
"Benar sekali, Jarang sekali nona akur dengan tuan Catarino." Ucap Minami membenarkan ucapan Leave.
"Sepertinya hujan akan reda, tapi mengapa sangat cepat." Leave sambil melihat langit yang mulai membiru dengan cahaya matahari yang mengintip dari balik awan pekat.
"Itu mungkin Tuan Rugiel tidak menangis lagi. Sebab sedari dahulu kalau tuan Rugiel menangis pasti akan turun hujan bahkan bisa menjadi badai petir." Kata Minami memberitahukan Leave yang memang bukan berasal dari Dunia Callista tetapi berasal dari bumi sama dengan jiwa milik Nona mereka yang berasa juga dari bumi.
"Jadi begitu. Pantas para magical beast terlihat biasa saja." Ucap Leave tanda mengerti.
Rugiel masih memegang tangan kiri Aquila dengan wajah yang bahagia, dan mulai melihat sekitarnya yang telah lama tidak diperhatikan. Rugiel takjub dengan apa yang dia lihat. Menara miliknya kembali memancarkan cahayanya dan danaunya menjadi jernih.
"Apa kakak memulihkan semua ini?" Tanya Rugiel tidak percaya.
"Iya, aku hanya tidak suka saja dengan pemandangan suram seperti sebelumnya." Jawab Aquila acuh seakan semua itu bukan dirinya.
"Kakak ini sangat luar biasa." Rugiel melepaskan genggaman tangan Aquila lalu berlari kearah kemenara, sebuah sayap kuning emas kusam muncul dari punggungnya yang terbalut baju sutra yang halus. Kepakan sayap miliknya mengangkat tubuhnya dan terbang menuju menara.
__ADS_1