Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 150


__ADS_3

Hening, tanpa iringan suara kekacauan yang sebelumnya menggema di setiap tempat dari kekaisaran Dahana yang tengah diserang tanpa alasan yang pasti. Deru nafas terengah-engah karena terus menggerakkan tangan dan kaki untuk menghindar dan menyerang kini terdiam karena pengakuan seseorang yang sangat tidak terduga itu.


Wajah tidak percaya, penasaran, dan acuh tidak perduli tertutupi helem perang yang terpasang di setiap orang yang hadir dalam peperangan itu.


"Apa aku tidak salah dengar? Dia putri dari Duke Aisar yang lemah itu?" Tanya seseorang yang ternyata adalah prajurit dari kekaisaran Teranivis.


"Mana aku tahu kawan, aku hanya prajurit baru di rekrut." Kata temannya yang ternyata tidak mengetahui silsilah dari Duke Aisar.


"Percuma saja aku bicara padamu." Katanya dengan kesal.


"Salah siapa kau tanya padaku." kata prajurit baru itu yang tidak mau disalahkan.


"Cih...!!! Jangan mengarang cerita kau iblis. Ah... atau kau hanya memanfaatkan tubuh anak yang malang itu untuk kau kendalikan?" Tuduh sang kaisar Samudra dengan nada yang menghina.


"Kalau aku mengatakan 'ini memang kenyataannya' kau akan apa? Membunuhku?" Kata Aquila dengan senyum yang tidak tulus, dengan kata lain penuh ejekan.


"Tentu saja aku akan membunuhmu. Tidak, semua orang akan membunuhmu dan akan merajam tubuhmu itu." Kata sang kaisar Samudra.


"Tidak akan aku biarkan kau menyakiti adikku.....!!" Teriak seseorang dari kejauhan yang tidak lain adalah kakak Aquila, Erlando Aisar.


Aquila hanya bisa mengerutkan kening, berpikir keras siapa orang yang memanggilnya sebagai adik. Padahal Aquila merasa tidak mempunyai seorang kakak di dunianya dulu. Namun, setelah berpikir sesaat Aquila mengingat orang tersebut.


"Kamu mengenalnya?" Tanya Rin dengan wajah penasaran.


"Tentu saja, dia kakak kandung dari Aquila yang sebenarnya." Jawab Aquila dengan tenang.

__ADS_1


"Siapa kau!? Berani sekali ikut campur urusan yang mulia ini!" Teriak sang kaisar Samudra yang sudah tidak dapat menahan amarahnya.


"Tentu saja ada, wahai yang mulia kekaisaran samudra yang tersohor. Anda ingin menyakiti adikku, maka aku akan membunuhmu meski kau adalah kaisar." Kata Erlando dengan sengit.


"Ternyata keturunan Aisar sangat tidak sopan, yang mulia ini sangat menyesal telah mengajak Duke Aisar dalam peperangan suci ini." Ucap kaisar Samudra penuh dengan sesal.


"Kak, hentikan. Percuma saja kau beradu mulut dengan orang serakah itu." Kata Aquila dengan suara yang halus.


"Eh? Sejak kapan?" Tanya Rin dengan terperangah tidak percaya dengan kata yang diucapkan oleh Aquila.


"...." Aquila hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Rin yang terlihat bodoh.


"Syukurlah kau baik-baik saja." Kata Erlando sambil mengelus kepala Aquila dengan kasih sayang.


"Aku baik-baik saja kak. Lalu, kenapa kakak ada disini?" Tanya Aquila dengan wajah yang penasaran.


"Wah-wah....! Pertemuan antar saudara yang sangat menyentuh. Putra Aisar penghianat kekaisaran dan putri Aisar yang menjadi musuh seluruh kekaisaran. Ah... Jiwaku bergetar, tidak sabar untuk memenggal kepala kalian. Ha... Ha..." Kata kaisar Samudra dengan tawa menggelegar.


"Tidak akan aku biarkan kau menyakiti sahabatku. Meski seujung rambut nya...!!!" Balas Rin dengan mengacungkan pedangnya kearah sang kaisar Samudra.


"Rin, tidak perlu kau berbuat demikian demi diriku. Lebih baik kamu membantu mereka yang kesusahan mengalahkan musuh mereka. Aku menjadi tidak nyaman kepada negeri yang aku singgahi ini." Kata Aquila sambil menahan bahu Rin yang siap menyerang.


"Tapi, dia.."


"Tidak perlu kamu pikirkan itu, aku sudah siap dengan jalan yang aku pilih ini. Aku sudah siap untuk dibenci segala penjuru dunia ini, tapi aku tidak akan membuat mereka menderita lebih lama lagi." Ucap Aquila sambil berjalan kearah sang kaisar Samudra.

__ADS_1


Rambut Aquila yang sebelumnya hitam perlahan berubah menjadi keperakan yang memantulkan cahaya disekitarnya yang berwarna merah dan abu-abu hitam. Seolah mencerminkan kesengsaraan disekitarnya, warna matanya yang sebelumnya biru dan kuning emas kini berubah menjadi merah semua menandakan kalau Aquila sudah siap dengan apa yang dia katakan barusan.


"Aquila, apa maksud dari perkataan mu itu? Aku tidak akan mengizinkanmu untuk menghadapi kaisar Samudra, biarkan aku saja yang menghadapinya...!" Kata Erlando dengan lantang.


"Ha? Memang kau mampu menghadapinya? Lebih baik kau pergi dari sini dari pada menghalangi ku." Kata Aquila dengan melirik tajam Erlando.


Tentu saja Erlando sangat terkejut dengan perubahan sikap dan raut wajah Aquila yang tidak kenal belas kasih, namun terlihat sedikit memohon diwajahnya.


"A-aku hanya..."


"Tidak perlu, pergi saja kau, bantu yang lain. Kau tidak perlu menghawatirkan aku." Potong Aquila dengan wajah datar dan suara yang tidak berperasaan.


Aquila langsung berjalan dengan percaya diri menghampiri kaisar Samudra yang memandangnya penuh dengan penghinaan, seolah Aquila adalah sebuah wabah yang harus segera dimusnahkan.


"Aquila..." Kata Erlando yang sangat tidak percaya dengan tindakan adiknya itu yang berbahaya itu, dan terutama pada sikapnya yang berubah dalam sekejap mata.


"Tidak perlu kau risaukan dia. Kau harus percaya dengan apa yang dia lakukan. Lagi pula dia adalah sahabatku, dan aku sangat percaya dengan nya. Dan terutama dia adalah adik mu. Tunjukan semangatmu, kalau kau itu adalah kakaknya yang sangat percaya padanya." Kata Rin dengan menepuk bahu Erlando dengan bangga.


"Ayo kita lakukan Coco, kita buat bangga Aquila dengan apa yang kita lakukan untuknya.!" Kata Rin kepada seekor serigala salju yang berdiri disampingnya.


"AAAUUUUU......!!!!!" Serigala itu pun melolong, menjawab perkataan Rin barusan.


Rin pun langsung melesat kencang bersama dengan serigala salju itu, dan meninggalkan jejak berupa serpihan salju.


Erlando terdiam, setelah kepergian Rin bersama dengan serigala salju itu. Setelah cukup lama terdiam ditempat yang sama, akhirnya Erlando langsung berdiri dan langsung menarik pedangnya.

__ADS_1


"Aku adalah kakaknya, aku harus membuat adikku bangga dengan apa yang aku lakukan untuknya. Aku akan tetap mendukungmu apa pun jalan yang kamu pilih Aquila." Kata Erlando dengan memandangi tempat yang menjadi saksi pertempuran Aquila dan kaisar Samudra.


__ADS_2