
Pohon Willow menjuntaikan daunnya yang indah, di batangnya terdapat permata hijau dengan cahaya redup dan terlihat menghitam. Akarnya membentuk seperti singgasana alam yang indah dengan berbagai bunga dan tumbuhan yang terangkai dengan sangat indah.
Masing-masing dari Dewa dan Dewi duduk di singgasana dengan hewan tunggangannya yang berada disisi masing-masing mengeluarkan aura yang agung dan suci.
Seorang gadis menatap mereka dengan penuh tanda tanya yang sangat besar dengan misteri yang belum dia ketahui jawabnya. Yang ia lihat hanyalah sebuah senyuman lembut dan kerinduan yang mendalam.
"Jadi, bisakah kalian memberi tahu ku, tentang tujuan sebenaranya dari semua ini?" Tanya Aquila dengan penuh harap.
"Orunmla, tolong ceritakan lah. Aku tidak yakin kalau Khronos akan menjelaskan tentang permainannya untuk menguji Messiah ku." Ucap seorang dewa perang dengan hewan tunggangannya seekor elang hitam.
"Baiklah, aku harap dirimu tidak akan marah Messiah. Karena dia sangatlah suka bermain-main daripada serius."Ucap Dewa Orunmla sambil membuka sebuah buku yang selalu ia bawa.
Setelah itu muncullah sebuah gambar seperti proyeksi tiga dimensi yang membuat Aquila merasa bernostalgia dengan peralatan elektronik saat bersekolah. Namun setelah lama melihat apa yang Aquila lihat, ia ingin sekali memukul orang yang telah mempermainkan waktu dalam kegelapan yang dingin yang membuatnya putus asa.
Setelah selesai melihat apa yang ia lihat dari buku milik Dewa Orunmla. Tatapan tajam milik Aquila langsung menusuk Dewa Khronos, namun orang yang mempermainkannya malah asih melihat bunga teratai yang ada ditangannya dan menghitung kelopak bunga teratai ungu itu.
"Apa aku boleh memukulnya?" Tanya Aquila dengan tangan yang mengepal erat.
"Bagiku tidak masalah, kau menghajarnya sampai puas aku akan sangat bahagia." Kata Dewi Afrodit dengan kaki yang menyandar di tubuh ular phyton dengan santai.
"Kamu sangat tega sekali pada ku Afrodit, padahal aku yang tampan ini hanya ingin bermain saja." Belanya untuk dirinya sendiri.
"Sudahlah, kalian jangan ribut. Kita sudah tidak memiliki banyak waktu untuk menemui Messiah kita. Aku harap kalian mengerti." Ucap Dewi Callista menengahi perdebatan antara Dewa Khronos dan Dewi Afrodit yang sangat terlihat bermusuhan dimata mereka berdua.
__ADS_1
"Hem... Lain kali aku akan menghajarmu." Ucap Dewi Afrodit dengan sengit kepada Dewa Khronos.
"Lain kali aku juga akan membalas perbuatan mu saat ini, ingat itu..!" Ucapnya dengan nada bermusuhan.
"Ah.... Kalian selalu saja begini...." Keluh Dewi Kichijouten sambil memijat pelipisnya.
"Yang satu keras kepala, yang satunya lagi sangat sombong." Kata Orunmla sambil mengetuk kan jarinya.
Aquila merasa seperti melihat Shiro dan Rugiel yang sedang bertengkar, namun yang dilihatnya hanyalah pertengkaran antar dewa dan Dewi yang tidak akur.
Dewi Callista tersenyum canggung kepada Aquila yang terlihat tidak percaya dengan kelakuan kedua saudaranya itu. "Maafkanlah kelakuan mereka anakku, mereka berdua selalu saja begitu bila bertemu." Ucap Dewi Callista kepada Aquila.
"Ah, aku mengerti yang Dewi Callista katakan. Mereka terlihat seperti anak kecil yang berebut permen. Hahaha permen ya..?" Kata Aquila dengan mendongakkan kepala untuk menahan agar air matanya tidak mengalir.
"Kenapa kamu menangis, apa si kurang ajar itu menyakitimu?" Ucap Dewi Afrodit langsung turun dari singgasananya dan memeluk Aquila dengan erat.
"Tidak, aku tidak menangis atau debu masuk dalam mataku. Aku hanya rindu saja pada dunia asliku." Ucap Aquila dengan jujur.
"Maafkan kami yang telah memaksamu untuk menyelamatkan dunia kami. Aku sebagai Dewi didunia Callista tidak bisa berbuat apa pun untuk mengatasi para manusia yang sudah keluar dari batas-batas yang telah ditentukan." Ucap Dewi Afrodit sambil membelai lembut rambut Aquila yang hitam malam.
"Aku tidak menyalahkan mu atas apa yang aku tanggung. Sebenarnya aku juga sangat benci dengan mereka yang berbuat seenaknya terhadap alam dan bahkan dengan sesama mereka pun sangatlah kejam." Aquila teringat dengan para budak yang diperlakukan dengan tidak sewajarnya sebagai manusia.
"Sebenarnya kekuatan kami semua sudah melemah, termasuk juga dengan Dewi Callista sendiri." Dewi Afrodit sambil melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kenapa kalian bisa melemah, padahal kalian semua adalah pencipta dan pengatur dunia ini?" Tanya Aquila dengan heran.
"Mudah saja anakku, keserakahan, kebencian, dendam, kemarahan, kekuasaan, kekejaman dan nafsu yang bisa membuat kami semua melemah. Karena sebab itulah, penyeimbang yang kami turunkan menjadi alat untuk mereka yang sudah buta segala hal kebaikan dan hanya ditutupi keserakahan dan yang lainya." Ucap Dewi Callista dengan sendu.
"Messiah ku, aku minta maaf atas pembuatan ku sebelumnya. Aku hanya menguji mu apakah kamu layak untuk menerima berkahku." Dewa Khronos sambil turun dari singgasananya dan diikuti juga dengan yang lainnya.
"Setidaknya aku tau apa tujuan yang aku emban saat ini, dan juga aku tidak akan mengambil keputusan secara buta." Senyuman Aquila mengembang dengan tulus.
"Terimakasih, karena kamu mau menerima tugas yang berat yang kami letakkan dipundak mu. Kami terpaksa melakukannya karena keadaan yang memaksa." Ucap seorang Dewi dengan tungngannya berupa seekor angsa putih yang cantik.
"Dan ini waktu yang tepat untuk memberikan kekuatan kalian kepada Messiah, karena waktu kita sudah tidak lama lagi." Dewa Khronos sambil melihat bunga teratai yang ada ditangannya.
"Aku mengerti, ayo kita segera lakukan." Ucap seorang Dewi dengan rune bunga Camellia yang berada dibelakangnya, lalu dia mengarahkan tangannya kearah kening Aquila.
Cahaya lembut langsung memasuki tubuh Aquila dan perasaan Aquila dipenuhi oleh kasih sayang dan cinta. Setelah dirasa cukup, Dewi Cinta langsung menarik kembali tangannya dan kemudian disusul dengan Dewa Dewi yang dengan kekuatan khusus mereka.
Setelah selesai menerima kekuatan dari para Dewata dan Dewi, dan kini tiba giliran Dewi Callista. "Tidak banyak yang bisa aku berikan kepadamu nak, tapi Wister akan selalu ada disisimu." Kata Dewi Callista, lalu naga Zamrud langsung Kemabli ketubuh Aquila dan menjadi zirah kembali.
"Aku hanya bisa memberikanmu ini. Dan maafkanlah aku yang telah mempermainkan mu sebelumnya." Kata Dewa Khronos sambil meletakkan bunga teratai ungunya ditangan Aquila dan berubah menjadi cincin dengan bunga ungu.
"Aku tidak menyalahkan mu, setidaknya aku tau apa tujuanmu memundurkan waktu diruang gelap dan dingin itu." Kata Aquila dengan senyuman yang sangat tulus.
"Waktunya telah tiba, aku sangat mengharapkan Messiah ku untuk dunia yang baik." Dewa Khronos dengan senyuman, lalu kabut muncul entah dari mana langsung menutup mereka semua secara perlahan.
__ADS_1
"Hiduplah dengan baik, dan suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. kembalilah, mereka sudah menunggumu." Ucap Dewi Afrodit sambil melambaikan tangannya.
"Kalian semua tidak perlu cemas, aku akan hidup dan melakukan yang terbaik." Ucap Aquila dengan berteriak, lalu pandanganya mulai kabur dan kemudian kembali gelap.