
Meskipun malam telah menjadi tenang dan membuat orang-orang terbuai dalam kegelapan yang membuai untuk menuju sang mimpi yang indah. Bintang bersinar dengan terang yang bertempat di gugus nebula yang berwarna magenta cerah dengan Cahaya yang lembut untuk mendampingi sang rembulan yang berbentuk bulan cembung.
Suara katak dipinggir sungai mengalun dengan sangat merdu dengan suara jangkrik sebagai pengiring simfoni sang katak. Kunang-kunang berterbangan seakan menari didalam simfoni alam yang merdu.
Riak air bergelora dengan sangat lembut membawa sebuah daun yang kuning untuk membawanya dalam perjalan menuju samudra, namun tenggelam dalam buaian air yang tenang.
Malam yang tenang membuat cerita tersendiri untuk mengisi kesepian alam yang tandus disebuah kuil rusak, dan membuat cerita berbeda dari hingar-bingar kota yang penuh cahaya emas yang memantulkan cahaya bulan keperakan.
Namun, terdapat cerita kesedihan dari orang-orang yang kehilangan kebebasan untuk hidup dan beruba henjadi boneka yang berbentuk manusia. Tempat yang penuh dengan emas dan permata menjadi saksi bisu yang tentang kejadian yang sebenarnya.
Dilantai marmer yang dingin dengan darah yang masih mengalir membasahi marmer putih membentuk sungai merah. Seorang manusia tergeletak dengan lemah dan kesadarannya pun ikut melemah karena darahnya telah terkuras habis karena luka yang menganga dibeberapa bagian tubuhnya yang tertutupi oleh baju yang dikenakannya.
Sedang, orang-orang yang melihatnya merasa kasihan dan ada juga yang menghina. Yang ada dalam ingatannya hanya penyerangan berutal dari seekor ular yang besarnya seperti pilar rumah dan kemudian menyeretnya dengan kasar.
Lalu melemparkan dirinya yang sudah tidak berdaya diubin yang dingin dihadapan orang-orang yang terlihat buram dimatanya. Namun seorang wanita dengan rambut yang berbeda menghampirinya dan mengucapkan kata yang tidak dimengerti.
Lalu sebuah rune dengan cahaya yang lembut merasuki setiap sel tubuhnya dan memperbaiki jaringan tubuhnya yang rusak dan kemudian pandangannya yang buram menjadi jelas kembali.
Namun dia terkejut karena ular yang menghajarnya masih ditempat itu dan berdiri dibelakang seorang gadis berwajah dingin dan terdapat dua magical beast yang berada dalam dekapannya.
Namun, yang lebih menakutkan baginya adalah pandangan tidak percaya dari orang-orang yang berada didalam ruangan itu dan memandanginya dengan tatapan hina dan kebencian.
"Pak tua, silahkan tanyakan sepuas hatimu." Ucap Aquila yang diangguki oleh ayah Sehetpra Lufni.
"Kalian, bawa penghianat itu kedalam penjara. Dan jangan biarkan dia mati bunuh diri." Perintah ayah Lufni dengan tatapan tidak percaya, karena pemuda itu adalah salah satu pengikut putranya sendiri.
__ADS_1
Dua orang prajurit langsung mendirikan pemuda yang tergeletak diubin marmer yang dingin dengan kasar, dan menyeretnya kedalam penjara bawah tanah.
"Terimakasih nona, kerena telah memberikan hadiah yang sangat kami butuhkan untuk mengetahui si penghianat dalam rumah ku ini." Ucap ayah Lufni dengan membungkuk membentuk busur empat puluh lima derajat.
"Tidak perlu dipikirkan, aku hanya membantu saja." Kata Aquila dengan acuh.
"Tanpa dirimu, aku pasti akan kesulitan menemukan bukti untuk menangkap dalang yang sebenarnya. Sekali lagi terimakasih nona."
"Terserah kau saja pak tua. Aku akan kembali kekamarku. Ayo kak Nami." Kata Aquila dengan wajah tidak perduli dan langsung berlalu begitu saja.
Setelah Aquila dan Minami pergi meninggalkan tempat itu, orang yang ada dalam ruang perjamuan itu langsung mengeluarkan ucapan ketidak kesukaan terhadap tingkah Aquila yang tidak sopan.
"Kalian diam! Aku tidak suka kalian merendahkan dermawan anakku. Bahkan kalian tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan anakku dan kalian malah menghalangiku untuk menyelamatkan putraku. Oh, atau kalian lah yang telah merencanakan semua ini?" Tanyanya dengan wajah yang kecewa.
"Mereka benar kakak, nyawa anakmu yang lemah tidak sebanding dengan keuntungan lelang esok hari. Dan tentu saja aku yang meminta mereka untuk menghalangi mu untuk mencari anak terkutukmu itu." Kata seseorang yang memakai jubah hitam yang baru saja muncul.
"Adik ketiga! Kenapa kamu tega sekali melakukan hal ini kepada keponakanmu sendiri?" Tanya ayah Liufni tidak percaya.
"Aku tidak memilki keponakan yang lemah dan memiliki kutukan kakak pertama. Yang aku inginkan hanyalah keuntungan dari rumah lelang kelurga kita." Ucapnya dengan sombong dan merendahkan seakan nyawa keponakannya tidak berharga.
"Tega sekali paman ketiga. Bukankah kamu sangat menyayangiku?" Tanya Lufni dengan tidak percaya.
"Heh! Aku tidak akan pernah melakukan hal itu, yang aku inginkan hanyalah kekayaan dan keuntungan. Bukan karena aku menyayangimu anak bodoh!" Ucapnya penuh hinaan dan merendahkan.
Lufni yang mendapat tamparan kenyataan dari mulut pamannya yang dia anggap sebagai ayahnya ternyata hanya ingin memanfaatkannya saja.
__ADS_1
"Sepertinya dermawan mu itu sangat cantik, dia pasti akan suka tidur dengan ku." Ucapnya dengan tatapan cabul.
"Jangan harap paman dapat menyentuh Darmawan ku meski hanya sehelai rambutnya!" ucap Lufni dengan penuh ketidaksukaan.
Namun, seekor kucing putih langsung mencakar wajah pria yang mengenakan jubah hitam dan darah segar langsung mengalir dengan deras membentuk anak sungai dipipinya.
"Kucing sialan, aku pasti akan merajammu!" Ucapnya dengan amarah yang meluap.
Namun, kucing putih itu malah menjilati kukunya yang baru saja menggores pipi mulusnya dan kemudahan memandangi orang itu dengan tatapan mengejek, setelah itu kucing putih langsung melarikan diri meninggalkan tepat itu.
"Hei! kucing sialan! jangan kabur..!" Teriakannya sambil mengacungkan pedangnya.
"Jangan harap paman bisa melukai kucing itu. Maka paman harus menghadapi aku dulu." Ucap Lufni dengan wajah yang serus.
"Anak terkutuk! Apa yang bisa kamu lakukan. Menahan satu serangan ku saja kamu pasti akan kalah." Ucapnya dengan sombong.
"Paman, jangan berbangga diri." Ucap Lufni memperingati.
"Dasar anak terkutuk, mati saja ditangan pamanmu ini!." Ucap orang itu yang tidak lain adalah pamannya sendiri yang sudah mengarahkan pedangnya kepada Lufni.
Tranggg......!
Dentingan benda tajam langsung menggema karena benturan benda tajam. Paman ketiga Lufni tidak percaya kalau serangannya dibelokir oleh Aquila yang baru saja meninggalkan tempat itu.
Sebenarnya ayah Lufni telah mengangkat senjatanya untuk melindungi anaknya. Namun telah didahului oleh orang yang dianggap sebagi sang penyelamat putranya. Yaitu Sanga Messiah, Aquila Aisar dengan aura yang dingin.
__ADS_1