
Gelap, dan bau busuk yang menyengat. Dua kata itu yang terpatri erat di pikiran Aquila yang sedang menyusuri reruntuhan istana kerajaan Candanya yang kini hanya menyisakan pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya.
Pecahan bangunan memenuhi lantai yang sudah hancur tidak beraturan dan didukung juga dengan kegelapan yang menyelimuti lorong. Sangat cocok sekali untuk menguji Indra pendengaran yang sedang diandalkan dalam kegelapan seperti itu.
Namun hal itu tidak berlaku bagi Aquila, ia bisa melihat dalam kegelapan dan Indra pendengarnya juga ikut menajam, suasana yang sebelumnya sepi tanpa suara kini menjadi gaduh dengan desisan ular dan geraman binatang yang tidak diketahui wujudnya.
"He... jadi dia hanya berpura-pura agar Adrian lengah dan menyerangnya dengan brutal." Kata Aquila yang sudah sampai dimana tempat beradanya Adrian dan manusia dengan kepala serigala lengkap dengan cakar dan ekor.
"Kak Aquila, aku akan membantu Adrian. Saku takut dia akan terluka, tingkat sihir dari mahluk itu lebih besar dari pada milik Adrian." Kata Shiro yang mengamati pertempuran itu dengan mencemaskan salah satu saudaranya itu yang hanya sebuah pecahan jiwa dari tubuh aslinya.
"Jangan kamu remehkan dia Shiro, percayalah dia tidak akan terluka meski dia kalah dalam kekuatan." Kata Aquila dengan yakin dengan pandangan terarah pada pertempuran antara Adrian dan manusia yang sudah menjadi setengah serigala.
"Kakak, aku tidak meremehkannya, aku sangat yakin dengan Adrian, tapi saat ini dia sangat lemah dan akan berakibat fatal bila dia terluka." Kata Shiro meyakinkan Aquila, lalu merubah ukuran tubuhnya menjadi ukuran normal bukan ukuran kecilnya.
"Baiklah, lakukan sesuka hatimu." Kata Aquila dengan tersenyum.
Saat Shiro akan menuju ke pertempuran yang sedang berlangsung, Shiro langsung berhenti ditengah jalan karena tidak percaya kalau Adrian berhasil mengalahkan manusia jadi-jadian itu dengan lilitannya dan membuka mulutnya lebar untuk mengancam.
"Bukankah aku sudah mengatakannya Shiro. Sudahlah, aku harap kamu tidak meremehkan saudaramu yang lain." Kata Aquila menasehati Shiro yang masih diam mematung tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Aquila mengucapkan sebuah mantra dan sebuah bulatan cahaya berpendar dengan terang ditangan Aquila dan menerangi seluruh ruangan yang sebelumnya gelap gulita. Dan kini tampak jelas ruang pertempuran Adrian dan manusia jadi-jadian itu.
Tubuh Adrian yang lumayan besar dengan panjang sampai enam meter melilit manusia jadi-jadian yang bertubuh besar yang sedang meronta melepaskan diri dari lilitan Adrian yang mengekangnya.
"Ghhhrrr...." Geraman mengancam dan cakarnya terus mencakar tubuh Adrian untuk melukainya, namun sayangnya itu tidak berhasil sebab sisik Adrian sangatlah keras meski hanya sebuah pecahan jiwa dari tubuh aslinya.
"D-dia menyerap permata kehidupan Vent Leger, kakak bagai mana ini?" Ucap Shiro dengan nada ketakutan.
"Cih, Shiro. Dulu kau sangat percaya diri bisa menyelamatkan mereka, dan kali ini kau malah meringkuk ketakutan. Kau sama sekali tidak seperti apa yang aku harapkan." Kata Aquila dengan nada mengejek.
"Apa kau sama sekali tidak mempercayai ku?" Tanya Aquila kepada Shiro yang seakan meragukan kepercayaan yang sudah dia berikan kepadanya.
"B-bukan begitu kak..." Jawab Shiro menyangkal pertanyaan kakaknya tentang kepercayaan yang telah dia berikan pada Aquila, tapi kasus kali ini sangat berbeda dari biasanya dan beresiko tinggi untuk memulihkan saudaranya yang sudah menghilang dan hanya menyisakan permata kehidupannya saja.
Aquila tahu kalau semua itu memerlukan pengorbanan yang sangat besar, namun Aquila memiliki berkah dari para Dewa dan Dewi. Cukup mengunakan mana nya saja bisa memulihkan apa yang Aquila inginkan, dan bila mana nya tidak cukup, maka organ dalam Aquila akan terluka parah sebagian pengorbanannya.
"Adrian, lepaskan dia." Perintah Aquila pada Adrian yang masih melilit erat manusia jadi-jadian itu hingga tidak bisa bergerak.
Adrian pun langsung melepaskan orang yang didalam lilitannya dengan melemparkannya dengan keras dengan suara dentuman ringan. Lalu Adrian langsung menuju Aquila yang tengah berdiri di hadapan manusia setengah serigala itu dengan permata kehidupan dikeningnya yang berwarna abu-abu bening.
__ADS_1
Adrian berdiri dibelakang Aquila dan didampingi Shiro yang mencemaskannya karena Shiro langsung menjilati kepala Adrian dengan kasih sayang sebagai saudara penjaga kedamaian alam yang mulai rapuh.
Adrian yang mendapatkan perlakuan demikian dari Shiro mendesis senang. Dan kini giliran Aquila mulai mengambil permata kehidupan dari Vent leger sang penguasa angin dengan paksa, dan tentu saja diiringi jeritan kesakitan dari orang yang telah berubah menjadi manusia setengah serigala itu.
Setelah selesai mengambil permata kehidupan itu, orang itu langsung tidak sadarkan diri karena yang menampung kekuatannya dan mengubahnya menjadi bukan manusia dan bukan hewan yang sudah lama memenjarakannya akibat keinginan untuk menjadi orang yang terkuat di dunia Callista.
Namun semua itu menjadi semu dan meninggalkan duka dan nastapa karena keinginannya untuk menjadi yang terkuat, dia membantai baik saudara, anak, istri, pengawal, pelayan bahkan rakyatnya menjadi genangan darah dan tumpukan tulang di balik istana megah yang kini sudah menjadi puing-puing bangunan yang menyisakan duka yang menggores nurani yang dalam.
Semua ingatan dari orang yang sudah terkapar tidak berdaya langsung masuk dalam pikiran Aquila dengan paksa karena permata kehidupan sang pilar angin berada digenggaman nya.
Dan alasan orang itu untuk menjadi kuat, karena tidak ingin dijajah dan menjadi kerajaan yang makmur untuk seluruh penghuninya.
"Impianmu memang mulia, tapi kamu melakukannya dengan cara yang salah. Dan kini kamu akan sendirian, orang-orang yang kamu cintai sudah meninggalkanmu dibawah tanganmu yang sudah berlumur darah." Kata Aquila menatap sendu orang yang berada dibawahnya yang tidak sadarkan diri.
"Kak Aquila, bisakah kakak menolongnya?" Tanya Shiro yang sedang dililit Adrian dengan ukuran tubuh lebih kecil dari sebelumnya.
"Aku rasa tidak, aku tidak bisa menolongnya. Hanya kak Nami yang bisa menolongnya." Jawab Aquila dengan menatap Shiro.
"Shiro, bawalah dia ke tempat kak Leave dan yang lain. Aku akan mengurus saudaramu ini." Kata Aquila yang berjalan meninggalkan Shiro dan memasuki ruang yang lebih gelap dari sebelumnya.
__ADS_1
"Kak ! Kak Aquila harus kembali dengan selamat...!" Teriak Shiro yang sudah ditinggalkan Aquila dibalik kegelapan yang tidak diketahui.
Namun tidak ada jawaban dari Aquila, Shiro langsung membawa orang yang tidak sadarkan diri dan mengantarkannya ke tempat para saudaranya yang lain yang bertempat di luar dari istana yang hancur itu. Setelah mengantarkan orang itu, tanpa basa-basi Shiro langsung kembali masuk bersama Adrian yang ditatap penuh pertanyaan dari Leave dan para saudaranya yang lain.