Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 49


__ADS_3

Rugiel mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Shiro dengan seksama dan wajah yang imut nan polos itu. "Tapi, kak Aquila tidak berwarna merah bata, hanya wajah kak Aquila yang terlihat merah dengan rambut kak Aquila yang acak-acak. Apakah seperti itu Rino?"


"Itu hampir mirip, kalau saja rambut kak Aquila warna merah, pasti akan sama dengan orangutan." Ucap Shiro sambil menggaruk dagunya dengan kaki belakang.


"Ternyata. Kucing kecil kotor ini harus dikasih pelajaran, benarkan?" Suara Aquila tertahan dengan senyuman yang mengerikan, membuat Rugiel yang melihat wajah Aquila langsung menyusutkan tubuhnya yang kecil kepinggiran dari sarang itu.


Shiro yang melihat kelakuan Rugiel merasa bingung dan bahaya yang akan segera menimpa dirinya yang berasal dari belakangnya. Kepala Shiro menengok kebelakang dengan kaku karena kemarahan Aquila sangat terasa bagi Shiro dan Rugiel.


"Jadi, apa aku terlihat seperti orang utan, Shiro?" Tanya Aquila kembali dengan senyum yang lebih mengerikan dari sebelumnya.


Leave menutupi bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tawanya, dan baru kali ini Leave melihat nonanya dikatai sebagai orangutan. Padahal di bumi saat nonanya bersekolah tidak ada yang berani memprovokasi atau mengatainya dengan buruk. Aquila atau Dita dibumi terkenal diantara teman sejawatnya sebagai anak pendiam namun mengerikan.


Pernah sekali, seorang teman sekelasnya yang mengejeknya sebagai anak yang miskin karena dia masuk ke sekolah elit dengan beasiswa dan tidak pantas bersekolah ditempat itu. Dan berkata juga kalau derajatnya sama dengan hewan yang ada di hutan dan tidak memerlukan pendidikan sama sekali.


Rin yang tidak terima dengan hinaan anak laki-laki terhadap sahabatnya itu langsung membela Dita yang tengah terdiam yang menandakan kalau dia sedang menahan amarahnya. Namun, bukanya jera malah mendorong Rin sampai menabrak meja yang ada dibelakangnya dan membuat Rin tidak sadarkan diri.


Dita yang melihat sahabatnya pingsan langsung segera menghampiri Rin dan akan membawanya keuks namun dihalangi kembali oleh anak laki-laki itu. Sedangkan teman sekelasnya yang lain hanya asik menonton penindasan dan perundungan yang terlihat nyata didepan mata mereka. Seakan mata mereka telah buta oleh kelakuan anak laki-laki itu.


Anak laki-laki itu langsung meludahi wajah Dita dengan hinaan diwajahnya yang tidak terlalu tampan alias sangat jelek dengan tahi lalat yang besar dipipi kirinya serta gigi depannya yang maju kedepan, Dita yang sudah tidak menahan lagi rasa marahnya langsung menurunkan Rin dan langsung menampar wajah anak laki-laki itu hingga gigi gerahamnya lepas dari tempatnya dan kemudian menggendong Rin dan keluar kelas yang seketika langsung sepi, dan Dita segera mengantarkan Rin keuks seakan Perbutan barusan bukan dirinya.

__ADS_1


Sejak saat itu tidak ada yang berani lagi menghina Dita dan malah terlihat menghindari Dita. Orang tua anak laki-laki itu mengadukan perbuatan Dita ke kepala sekolah, namun bukti yang terlihat disisi tv berkata lain dengan apa yang diucapkan oleh orang tua anak laki-laki itu. Semenjak itu, teman sekelas Dita tidak tau kalau orang yang mereka hina ternyata adalah seorang karate pemegang sabuk hitam kecuali Rin seorang.


Leave yang mengingat masa lalu nonaya saat dihina kini melihat Shiro dengan rasa kasihan. "Andaikan tuan Shiro tidak memprovokasi nona, pasti lain ceritanya." Kata Leave dengan suara lirih namun dapat didengar oleh Shiro yang ketakutan karena senyuman khas Aquila saat marah.


"Ka-kak..., Apa a-ku mengucapkan hal y-ang salah?" Tanya Shiro sambil melihat wajah kakaknya yang akan mengeluarkan api dari matanya yang indah.


"Jadi, Adikku yang manis ini tau dengan kesalahanya?" Aquila bertanya kembali ke Shiro yang terlihat ketakutan meski kekuatan sihirnya lebih besar dari pada Aquila, namun tekanan dan aura yang dikeluarkan Aquila seperti orang yang telah membunuh ribuan orang.


"A-aku tidak t-tau kak, tapi aku m-melihat orangutan itu ditv dirumah kakak dibumi." Kata Shiro dengan wajah polos tidak berdosanya.


"Lalu, apa begitu mirip hingga kucing kecil sepertimu mengataiku seperti orangutan?"


"Tapi, secara tidak langsung kamu mengatakan kalau aku mirip. Bukankah begitu Rugiel?" Pandangan tajam langsung menusuk Rugiel yang menyusutkan dirinya dipinggiran sarang agar tidak terkena dampak amarah kakaknya itu.


"Kakak...... Aku tidak tau apa itu orangutan. Apakah aku salah bila bertanya?" Kata Rugiel membela dirinya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Memang tidak salah bertanya. Tapi...." Ucap Aquila dengan senyum yang terlihat akan menghukum mereka berdua.


"Shiro, Rugiel kemarilah." Kata Aquila dengan nada memerintah. Seekor kucing dan Griffin berjalan dengan ragu-ragu untuk mendekati Aquila yang tengah tersenyum misterius itu. Dan insting mereka mengatakan untuk segera lari dari tempat itu, namun tubuh mereka berjalan sendiri tanpa kehendak mereka.

__ADS_1


"I-iya kak..." Rugiel yang sudah sampai didepan Aquila langsung duduk manis tanpa disuruh, namun dalam pikirannya berkata lain.


"Shiro, kali ini aku memaafkanmu karena rasa ingin tahu Rugiel. Namun, jika kamu samakan kakakmu ini sebagai perbandingan dengan yang lain. Hukuman yang lebih berat akan segera menghampiriku. Dan kali ini aku akan menghukum kalian secara ringan." Kata Aquila dengan wibawa namun senyuman misterius miliknya yang membuat kedua pilar itu merinding.


Ditangan Aquila keluar cahaya biru dan kemudian sebuah air membentuk lingkaran seukuran bak mandi dihadapan Shiro dan Rugiel.


"Masuklah." Perintah Aquila.


"Tapi kak, kenapa harus air?" Tanya Shiro tidak mengerti.


"Kakakmu ini ingin adik-adiknya menjadi bersih, lihatlah bulu kalian sangatlah kotor."


"Tapi kak, bulu Giel tidak bisa terkena air." Tolak Rugiel dengan mata yang berkaca-kaca dan air matanya sudah menumpuk di pelupuk mata dan sebentar lagi akan jatuh.


"Bulu mu sangat kusam Giel, lihatlah buluku. Sangat cantik bukan." Kata Shiro dengan percaya dirinya.


"Rino, bulu mu juga." Rugiel sambil menunjuk ekor Shiro yang sudah berwarna coklat karena terkena debu.


Aquila sudah tidak sabar untuk memandikan kedua adiknya dengan dalih hukuman karena telah berani mengatainya sama dengan Orangutan. Padahal Aquila tidaklah terlalu marah dengan ucapan Shiro, sebab dahulu ia mendapatkan hinaan dan cacian yang lebih parah yang hanya diketahui oleh Leave dan Rin sahabatnya di bumi.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak *****ya😉*******😉😉😉**


__ADS_2