
"Setidaknya jangan sakiti anakku, biarkan aku saja yang menanggung penderitaannya." Kata ayah Likta mengiba.
"Dimana kesombongan mu yang kau tunjukan kepada ku tuan? Kini kau mengiba demi anakmu yang telah melampaui batas. Bukan kah kau mengatakan kalau diriku ini adalah sampah masyarakat?" Kata Aquila dengan senyum meremehkan.
"Nona, bisa kah kamu melepaskan adikku? Aku tau kalau perlakuannya padamu sangatlah tidak sopan." Kata Lufni memohon.
"Baiklah, tapi. Aku akan memberikannya sedikit pelajaran. Archane lalukan!" Sontak saja ucapan Aquila langsung membuat orang yang ada didalam ruangan itu membelak tidak percaya. Mereka kira Aquila akan melepaskan begitu saja, ternyata pikiran mereka sangatlah jauh dari kenyataan.
Laba-laba Archane langsung mengigit salah satu tangan dan kaki Likta untuk melakukan perintah Aquila yang sebelumnya membuat lumpuh dan kini hanya membuat saraf anggota gerak lumpuh beberapa hari saja dan tentu saja dengan efek samping pembuluh Vena menjadi terlihat jelas seperti akar pohon yang menyebar dengan warna biru gelap yang mencolok dikulit Likta yang berwarna kuning Langsat.
"Agghhhhh......! Ayah.... Tolong aku....!" Teriak Likta histeris karena tidak bisa mengerakkan anggota tubuhnya yang membuat siapapun menjadi kasihan.
"Putriku...Tenanglah nak, ayah akan membawamu ke kuil Orunmla untuk meyembuhkan mu. Pasti Panasea akan menyembuhkan mu." Ucapnya dengan percaya.
"Ayah, aku tidak mau lumpuh. Aku tidak mau... Hiks, Bagaimana aku akan menghadapi putra mahkota nanti saat festival doa nanti hiks..." Ucap Likta dengan tersedu-sedu.
"Kau jalang....! Aku akan membalas penghinaan mu hari ini..!" Teriak likta dengan kebencian yang memancar Daris kedua matanya yang penuh air mata.
Setelah mengatakan umpatan, Likta langsung dibawa ayahnya pergi meninggalkan tepat perjamuan itu dengan masam serta kebencian yang tertanam dengan erat dihati mereka berdua yang terlebih dahulu membuat masalah pada orang yang tidak bisa menerima penghinaan.
"Nona, terimakasih atas kebaikanmu telah membiarkan nyawa keponakanku. Dia memang sangat manja sebab dia adalah satu-satunya putri dari keluarga kami yang rata-rata semuanya adalah laki-laki." Ucap ayah Lufni dengan rasa syukur.
"Oh, mana aku tau dengan urusan keluarga mu, aku hanya tidak suka dengan perlakuannya yang merendahkan orang lain. Lain kali kau pak tua harus mendisiplinkan setiap anggota keluargamu, tidak perduli perempuan atau laki-laki." Tanggap ucapan ayah Lufni dengan tidak perduli. Orang-orang yang mendengarkan ucapan Aquila yang tidak sopan kepada pemimpin mereka langsung melemparkan tatapan menghina atas ketidak sopanaan Aquila.
__ADS_1
"Pasti akan saya lakukan nona, maaf atas kejadian malam in-"
SSSTTTT......
Sebelum menyelesaikan ucapannya, desisan ular terdengar sangat keras dan tanah sedikit bergetar dengan hiasan dalam ruang itu bergoyang tidak peraturan.
Para penjaga di ruangan itu langsung mengangkat tombak mereka dan memasang tameng dengan gemetar, sebab dihadapan mereka terdapat ular yang sangat besar merayap melalui atap yang sengaja tidak diberi penutup.
Namun, ular itu tidak menyerang mereka melainkan melemparkan seseorang yang sudah babak belur dengan darah yang berceceran menggenangi seluruh tubuh orang yang tergeletak lemah dengan mata yang akan menutup kapan saja.
Merasa tugasnya telah selesai, ular itu langsung menghampiri Aquila yang sedang menyesap secawan teh bunga Krisan yang harum. Secara spontan prajurit langsung melindungi Aquila bahkan dengan nyawa mereka akan melayang kapan saja.
"Nona, tolong segeralah pergi dari sini." Ucap prajurit itu dengan panik. Namun orang yang dicemaskan malah terlihat santai seakan itu bukan ancaman.
"Buat apa aku pergi, dia adalah temanku." Ucap Aquila dengan santai. Akan tetapi, prajurit yang mendengarkan ucapan Aquila menjadi linglung. Dan tentu saja semua orang yang hadir ditempat itu, kecuali Lufni dan Minami.
"Hemm."
Mereka semua masih tidak percaya kalau itu adalah salah satu bagian Aquila, dan tentu saja membuat mereka terkejut dan seakan kesadaran mereka melayang karena kenyataan dihadapan mereka.
Ular tersebut tidak lain adalah the king of gold yang Aquila selamatkan dipasang pasir yang terikat rune perbudakan yang bersemayam dikepala ular itu. Ular the king of gold sangat bahagia karena dianggap teman oleh sang Messiah, dan tentu saja ekornya bergoyang dengan semangat dan tidak menghiraukan kalau bangunan yang ada disekitarnya hancur berantakan.
Hal itu membuat ayah Lufni ingin menangis karena kerusakan bangunan yang ia bangun dengan susah payah karena batu marmer yang terpasang sangat langka dan mahal. Ia ingin mengeluh tapi tidak berani karena segan kepada sang pemilik peliharaan itu.
__ADS_1
"Kerja bagus, dan hentikan ekor mu itu." Kata Aquila memuji, namun diakhir kalimatnya terselip nada yang dingin.
Ular itu dengan sedih menurunkan ekornya dan kemudian merayap kearah Aquila dengan kepala terkulai lemah. Namun, belaian lembut langsung membuatnya semangat kembali.
"Nona, apa dia budakmu?" Tanya salah satu orang yang terlihat tua.
Aquila yang sangat tidak suka dengan kata 'budak' langsung melemparkan belatinya kepada orang yang barusan berbicara. Dan hanya memotong beberapa helai rambut orang itu.
Orang tua itu terlihat tidak percaya dengan perlakuan Aquila yang meleparkan belatinya kepada dirinya. "N-nona, a-apa yang kau lakukan?!" Tanyanya dengan wajah ketakutan.
"Tidak ada, hanya saja aku tidak suka dengan ucapanmu. Apa kau mau menjadi target latihan ku?" Ucap Aquila dengan senyum sinisnya.
Orang tua itu langsung jatuh lemas karena perkataan Aquila yang sangat kejam, dia tidak menyangka kalau ucapannya membuat gadis yang tidak diketahui asal usulnya menjadi marah.
"Nona, siap orang yang dibawa oleh temanmu itu?" Tanya ayah Lufni dengan penasaran.
"Kamu bisa melihatnya sendiri, aku harap kamu akan suka dengan hadiah yang aku berikan pada mu." Ucap Aquila dengan acuh dan tangannya mengelus bulu Rugiel dengan lembut.
Orang-orang yang mendengarkan ucapan Aquila menjadi merinding ketakutan, dia memberikan orang yang sekarat sebagi hadiah, bukankah itu sama saja dengan mengibarkan bendera perang?
"Nona,apa kah kamu yakin dengan hadiah yang kamu berikan?" Tanya ayah Lufni dengan tidak percaya.
"Tentu saja, karena aku tau yang kalian butuhkan bukti untuk membongkar siapa penghianat dalam rumah lelang kalian dan dalang dari penculikan tuan muda kalian." Ucap Aquila sambil mengambil buah anggur dan memasukannya dalam mulutnya.
__ADS_1
Lufni dan ayahnya menjadi terkejut dengan apa yang dikatakan Aquila, bahkan mereka berdua belum mengucapkan sepatah kata tentang mencari sang penghianat dalam rumah lelang dan penculikan sang putra semata wayangnya itu.
"Kalian tidak perlu terkejut, aku tau dari raut wajah kalian." Ucap aquila tersenyum dengan sangat manis, namun yang dia ucapkan hanya kebohongan semata. Sebab dia mengetahui hal itu dari pembicaraan orang yang kini tengah sekarat dengan orang yang menutupi seluruh tubuhnya dengan jubah hitam yang sebelumnya berbicara dibawah pengawasannya.