
"Kini tiba saatnya aku kembali Messiah, jagalah dirimu." Dewi Callista sambil menyerahkan sebuah bunga Peony dan menghilang dengan diiringi dengan kupu-kupu yang menyebar.
Setelah kupu-kupu itu menghilang, Aquila berdiri sendiri dan dihadapannya masih menjulang tinggi pohon Willow. Aquila berjalan kearah pohon Willow itu dan menyentuhnya.
"Aku akan kembali lagi untuk mengunjungi mu." Kata Aquila dengan iringan angin yang menggoyang kan dedaunan itu, seakan-akan menanggapi ucapan Aquila.
Aquila menutup matanya, lalu dia menghilang secara perlahan dengan seruan angin yang menenangkan.
Saat membuka matanya kembali, Aquila disebut dengan pemandangan kamarnya yang masih sama seperti sebelumnya.
Bunga Peony dalam genggamannya berubah menjadi sebuah tongkat kecil seperti tusuk rambut dengan sebuah bunga di ujungnya, Aquila memasukkannya tongkat itu dalam zirahnya yang ringan.
"Aku akan melakukan yang terbaik, dan aku akan menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Untuk dunia yang lebih baik." Tekat yang membuat Aquila ingin menyelesaikan sesegera mungkin.
Lalu Aquila keluar dari kamar dan langsung menuju keruang makan, dan di tempat itu Leave dan Minami masih setia menunggu kedatangan Aquila.
Leave dan Minami terperangah melihat tampilan yang Aquila kenakan. "Ada apa dengan pandangan kalian?" Tanya Aquila dengan heran kearah mereka berdua dengan mulut yang terbuka.
Mereka berdua masih belum tersadar dari rasa kagum dan hal itu juga membuat Aquila menjadi kesal.
"Kalau penampilanku aneh bilang saja, tidak perlu terkejut dengan mulut yang menganga seperti itu." Sarkas Aquila.
Leave langsung menutup mulutnya dan memalingkan muka karena malu, sedangkan Minami masih belum sadar dengan sekitarnya. Aquila langsung duduk di kursi dengan santainya dan acuh dengan sekitarnya.
"Nona, kamu tidak aneh sama sekali. Tapi sangat cocok dengan mengenakan pakaian ini." Puji Leave dan masih memandangi Aquila tanpa berkedip.
"Heemm, lalu kau. Tidak ikut bergabung." Sambil menegur Minami yang masih berdiri di samping Leave yang sudah duduk dihadapan Aquila.
"Ah, maafkan saya nona. Anda tidak perlu merisaukan saya." Tolak Minami dengan sopan.
"Aku merasa tidak enak, lebih baik kamu ikut bergabung. Tidak ada yang melarang."
Minami masih ragu untuk bergabung dengan mereka, karena Minami merasa sangat tidak pantas duduk dengan kakak junjungannya.
__ADS_1
"Kenapa? duduklah. Aku tidak menerima penolakan." Aquila menatap tajam Minami.
"Duduklah, jangan membuat nonaku marah." Kata Leave membujuk, karena dia tau betul dengan sifat tuannya.
"Ta-tapi, saya tidak pantas duduk dengan anda." Suara Minami yang lirih dan gagap.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, bagiku semua mahluk hidup itu sama saja. Tidak ada yang tinggi atau rendah, tapi yang membedakannya hanyalah Budi pekerti."
Minami merasa sangat terharu dengan ucapan Aquila, baru kali ini dia mendapatkan perlakuan yang tidak membedakan ras dan derajatnya. Tanpa Minami sadari, air matanya mengalir dengan deras. Minami yang menyadari kalau dia menangis, dengan sigap dia menghapus air matanya dengan punggung tangannya dengan kasar.
"Terimakasih nona, saya akan duduk." Sambil menggeser bangku disebelah Leave dan mendudukinya.
Mereka bertiga memakan makanan yang telah disiapkan dengan khidmat, tanpa ada suara percakapan kecuali dentingan alat makan.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Minamai langsung membereskan dan Leave pun membantu Minami. Sedangkan Aquila duduk di sofa sambil membaca buku yang ia bawa dari perpustakaan.
Disaat mereka tengah asik dengan kegiatan yang mereka kerjakan,..
BRRAAKK.......
"Awwwww.....!!!" Suara yang nyaring dan kesakitan yang berasal dari pintu.
Aquila mengerutkan kening karena ia paham dengan suara yang sangat ia kenal, yang tak lain kucing kecilnya yang nakal dan sekarang sudah menjadi remaja yang imut.
"Kakakkkk....! bisakah kamu tidak melemparkan buku dimuka ku....!!!???" Suara Shiro yang begitu nyaring.
"Siapa suruh membuka pintu seperti membuka batu, dan mengejutkan ku yang tengah fokus membaca." Kata Aquila tidak terima.
Shiro langsung terdiam, memang salahnya karena terburu-buru untuk membuka pintu dengan keras. Dan juga dia sekarang sudah sangat lapar sehingga melupakan cara membuka pintu.
"Kruuukkk...." Suara yang begitu nyaring dan dapat didengar oleh semua orang dalam ruangan itu.
"Oh, pantas saja. Ada yang lupa membuka pintu." Aquila sambil tertawa geli.
__ADS_1
Shiro merasa malu karena godaan Aquila, dengan muka yang merah Shiro berjalan dengan cepat kearah dapur yang bergabung langsung dengan ruang tamu.
Aquila yang melihat Shiro dengan muka merah, dia pun mengabaikan dan mengambil buku yang ia lempar dan melanjutkan kembali membacanya yang tertunda.
Shiro langsung duduk di kursi dan meminta Minami membuatkan makan malam seperti biasanya yang berupa roti panggang dengan isian telur mata sapi dengan sedikit sayuran, dan tak lupa dengan segelas susu hangat.
Setelah menyelesaikan makan malamnya sendiri, Shiro menghampiri Aquila yang masih fokus membaca dan ditemani secangkir teh bunga kamomil yang membuatnya tenang.
Aquila yang merasakan kehadiran adiknya langsung menutup buku yang ia baca dan meletakkannya dimeja.
"Shiro, dari mana saja kamu?" Tanya Aquila dengan penuh selidik.
"Aku hanya berkeliling hutan saja kak, sudah lama aku tidak memantau para magical beast yang tinggal di hutan ini." Jelas Shiro yang tak lain sosok penguasa hutan Catarino itu sendiri.
"Kenapa tidak mengajakku Shiro, aku juga ingin melihat-lihat juga."
"Eh, itu.... Aku tidak bisa menggangu kakak yang tengah fokus membaca di perpustakaan siang tadi. Jadi aku tidak mengajak kakak. Lain kali aku akan mengajak mengelilingi hutan ini. Aku janji." Kata Shiro meyakinkan Aquila yang cemberut, sangat kontras sekali dengan sikapnya dengan Minami yang terkesan dingin.
"Kakak mendapatkan pakaian itu dari mana? Itu sangat cocok sekali dengan kakak." puji Shiro namun penasaran dengan asal usul pakaian itu.
"Benarkah..?" Kata Aquila dengan semangatnya.
"Lupakan. Shiro, bagaimana rencana penyelamatan saudara-saudaramu?" Tanya Aquila mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak yakin kakak, pertama-tama aku harus memulihkan kekuatanku dulu. Dan kakak juga harus mempelajari semua buku yang ada di perpustakaan menara. Itu setidaknya memerlukan waktu yang lama."
"Hem, aku tau Shiro. Tapi jika kita berusaha dengan tekun pasti kita bisa menyelesaikan semuanya dan menyelamatkan saudaramu. Aku yakin itu." Kata Aquila dengan semangat yang membara yang terpancar dari kedua matanya yang indah meskipun berbeda warna, namun sama dengan milik Shiro.
"Aku akan berusaha kak, aku pasti bisa menyelamatkan saudaraku yang lain." Harapan dan semangat yang terpancar dari raut wajah Shiro yang imut membuat Aquila mencubit pipi Shiro dengan gemas.
"Baiklah, untuk besok kita harus berusaha lebih giat. Dan saatnya tidur. Kak Leave, dan kau bisa tidur." Aquila sambil menunjuk Minami.
"Dan Shiro, selamat malam." Aquila sambil mencium kening adik kecilnya.
__ADS_1
"Selamat malam." Jawab Shiro sambil melangkah kan kakinya kearah kamarnya yang ada di samping rak buku.
Aquila dan Leave pun berjalan kearah tempat tidur mereka dilantai dua, sedangkan Minami menghilang entah kemana.