Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 38


__ADS_3

Permukaan danau yang tenang memantulkan apa yang ada diatasnya, seorang anak kecil dengan sayap yang ada di punggungnya terus mengepakkan sayapnya. Angin yang dihasilkan oleh kepakan sayap membuat riak kecil dipermukaan danau.


Capung yang hinggap dibunga teratai terbang sesaat setelah itu kembali lagi untuk bertengger di kelopak bunga teratai yang mekar. Katak pun menceburkan dirinya kedalam danau karena terkejut dengan suar kepakan sayap Rugiel.


Rugiel kemudian memijakkan kaki ditanah yang mengambang diudara lalu membuka pintu ornamen pohon Willow. Dorongan kecil dari tangan itu membuka pintu yang berat, deritan suara pintu ganda menandakan kalau pintu itu terbuka dengan sempurna.


Didalam menara itu terdapat beberapa rak buku yang rapih tanpa debu yang menempel, terdapat tumbuhan bonsai menghiasi sudut ruangan itu.


Aquila dan Shiro menyusul Rugiel yang pergi kemenara sendirian, Aquila mencari keberadaan Rugiel yang tengah berdiri dirak buku sambil mengecek buku-buku yang rapih tertata ditempatnya. Didalam ruangan itu terdapat tangga sama seperti dimenara hutan Caatarino. Tata letak barang hampir serupa namun ada beberapa yang berbeda.


"Kenapa kamu sangat terburu-butu Giel?" Tanya Shiro penasaran.


"Tidak, aku hanya ingin melihat saja sebelum meninggalkan menara ini Rino." Jawab Rugiel.


"Aku rasa semuanya masih sama seperti dahulu, tidak ada yang berubah."


"Memang tidak banyak, tetapi aku sudah lama tidak melihat-lihat. Sebab sebelum aku kehilangan pikiranku sendiri, para manusia ada yang memasukinya. Setelah itu aku tidak tau lagi." Ucap Rugiel sambil mengecek satu demi satu buku yang ada didalam rak.


"Giel, tenanglah. Kalau manusia itu ingin memasukinya pasti tidak bisa membuka pintu mu yang berat itu." Kata Shiro sambil menunjuk pintu ganda yang ada didepannya.


"Haaahhhh... syukurlah kalau begitu. Maafkan aku Rino, aku hanya terlalu panik saja." Ucap Rugiel sambil menghembuskan nafasnya.


"Tidak apa." Shiro sambil menepuk pundak Rugiel.


"Bukumu lumayan banyak juga, bolehkah aku mengambil beberapa saja Rugiel?" Tanya Aquila dari samping tak buku yang berada disamping tangga.


"Kakak boleh mengambil semau kakak." Dengan wajah yang berbinar, Aquila segera mengambil beberapa buku yang menurutnya menarik.

__ADS_1


"Kau tau Giel, kak Aquila itu penggemar buku. Dimenaraku dulu, aku sampai kewalahan untuk menghentikan kak Aquila untuk beristirahat atau berlatih, kecuali kalau hari menjelang malam." Kata Shiro sambil berbisik ketelinga Rugiel.


"Benarkah?" Ucap Rugiel tidak percaya.


"Shiro, aku mendengarkan apa yang kamu katakan.!" Teriak Aquila dibalik rak buku.


Buku kuduk Shiro segera berdiri. "Kak kita sangat mengerikan, jadi kedepannya Giel harus hati-hati." Rugiel hanya bisa mengangguk saja.


Aura berat langsung menyapa Shiro yang membuatnya merasakan bahaya dibelakangnya. "Shiro, jangan mengatakan hal yang aneh tentang diriku" Suara Aquila tiba-tiba terdengar berat ditelinga Shiro.


Tubuh kaku Shiro berusaha untuk menengok kan kepalanya kearah suara yang berbisik di telinganya, wajah Aquila terlihat menyeramkan bagi Shiro. Dengan mata yang melotot dan senyuman khas Aquila saat marah membuat Shiro langsung bersembunyi dibalik Rugiel agar menjadi tamengnya.


"Kali ini aku memafkanmu. Ah sudahlah, ayo kita keluar." Ajak Aquila.


"Kakak dan Rino keluarlah dulu, aku akan berkeliling sebentar." Tolak Rugiel sambil menaiki tangga.


"Jangan terlalu lama ya Giel." Kata Shiro menyusul Aquila Aquila yang tengah menyandar santai.


"Kakak dan Rino tidak perlu cemas, aku tidak akan lama." Kata Rugiel, lalu melanjutkan langkah kakinya menyusuri anak tangga.


Setelah menyusuri anak tangga menara itu, Rugiel sampai dimana terdapat sebuah pintu berukiran sederhana pohon Willow dengan daun yang menjuntai, Rugiel mendorong pintu itu dan memasuki ruangan yang ada dibalik pintu.


Didalam ruangan itu terdapat permata berwarna kuning yang merupakan inti kehidupan milik Rugiel. Jika permata itu hancur maka sang pemilik akan ikut hancur. Sebelum Rugiel ditaklukan untuk menjadi alat perang. Saat Rugiel bertarung dengan jendral kekaisaran selatan karena menolak untuk membantu kekaisaran selatan untuk menguasai kerajaan light elf yang bertetangga dengan kekaisaran selatan.


Karena menurut Rugiel alasan untuk menghancurkan kerajaan light elf itu tidaklah masuk akal, hanya perkara sebuah buah yang diambil tanpa izin dari kekaisaran selatan. Dalam pikiran Rugiel apakah mereka begitu kikir hanya sebuah buah mereka menagih dengan nyawa.


Setelah bernegosiasi yang lama, Rugiel dengan tegas menolak membantu mereka, akan tetapi jendral yang meminta bantuannya dengan kesombongan dan egoisnya tetapi menginginkan Rugiel mengikuti permintaanya, tidak! lebih tepat memerintah Rugiel.

__ADS_1


Rugiel yang tetap kukuh menolak dengan tegas, membuat jendral kekaisaran selatan langsung menyerang dengan brutal. Rugiel hanya bisa mengelak dari serangan yang dilontarkan kepadanya.


Setiap pilar dilarang untuk menyakiti manusia, karena tugas setiap pilar adalah menjaga alam bukan untuk mengahancurkan. Dan dengan terpaksa juga Rugiel melepas inti permata kehidupannya agar tidak jatuh ke tangan orang yang berambisi menghancurkan penjaga alam, yaitu light elf itu sendiri.


Namun tidak disangka kalau jendral kekaisaran selatan itu mampu mengalahkannya dengan cara mengancamnya akan menghancurkan seluruh bangsa elf. Pelepasan inti permata kehidupannya mengorbankan tingkat sihirnya menjadi tingkat raja, hal itu juga sebanding dengan keamanan alam dalam pengawasan nya. Tapi tidak disangka jendral kekaisaran selatan menghianati dan membumihanguskan seluruh light elf dan dark elf.


Kekecewaan yang Rugiel rasakan menghilang dengan orang yang mereka semua tunjuk sebagai Messiah dan disetujui juga oleh Dewi Callista sebelum kesadarannya menghilang.


"Syukurlah, orang yang telah kami tunjuk sangat memenuhi harapan kami." Kata Rugiel sambil mengambil inti permata kehidupannya yang bersinar terang.


Permata kehidupan milik Rugiel melayang dikedua tangannya yang mungil lalu mengarahkannya tepat didadanya, permata itu menyatu secara perlahan dengan tubuhnya. Secara perlahan juga tingkat sihir miliknya juga meningkat ke tingkat dewa seperti sedia kala.


Setelah dirasa sudah menyatu dengan inti permata kehidupannya, Rugiel keluar dari ruangan itu dan menuruni anak tangga yang banyak untuk menuju lantai bawah. Rugiel melihat Aquila dan Shiro yang tengah berbicara santai dan bercanda didepan pintu.


"Kamu sangat lama Giel. Apa yang kamu lakukan didalam?" Tanya Shiro penuh selidik.


"Tidak ada, hanya ingin melihat saja wilayah milikku dari menara ku ini." Elak Rugiel setengah berbohong.


"Hemmm...? Mencurigakan apa ka-" Belum selesai melanjutkan perkataannya, tangan Aquila memukul kepala Shiro.


"Cerewet, lebih baik kita turun dan membantu para magical beast dan hewan buas yang meminta kita untuk membantu mereka, bukan berdebat kan hal yang tidak penting Shiro." Kata Aquila sambil mengacak-acak rambut putih bergeradasi biru pucat milik Shiro.


"Kak Aquila, sakit. Mengapa akhir-akhir ini kakak sering memukulku!" Protes Shiro sambil memegang kepalanya yang dipukul oleh Aquila.


"Itu karena kamu semakin cerewet saja, sudahlah kita turun." Ajak Aquila, lalu melompat dengan santainya.


Rugiel tersenyum dengan bahagia dan mengikuti Aquila turun dari menara yang berada diatas danau dan tak lupa Shiro yang masih menggerutu kesal dengan Aquila.

__ADS_1


__ADS_2