Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 114


__ADS_3

Suasana yang sebelumnya sangat tidak tepat untuk sekedar berkata, kini menjadi tawa jenaka karena tingkah konyol dari Soleil yang terus menerus memanggil Aquila dengan namanya dulu, yaitu Dita. Tentu saja Aquila hanya bisa pasrah, bagaimana pun ia menolak tetap saja Soleil bisa menyanggah semua tolakan itu.


Dan sekarang hubungan antara Aquila dan Vent Leger sudah membaik, tidak ada permusuhan seperti sebelumnya. Sedangkan Raja dari kerajaan Candana telah berpamitan untuk pergi menggelana untuk mencari jawaban sebenarnya dari tindakan Sang kaisar Samudra yang menghasutnya untuk membunuh dan menyerap permata kehidupan sang pilar yang mereka banggakan itu.


Tentu saja Aquila membiarkan keinginan dari seorang yang tersisa dari sebuah kerajaan yang telah runtuh dan menyisakan sejarah pilu yang membekas di sanubari hati yang telah kering bersama dengan Laba-laba Archane yang telah menemukan orang yang ingin dia ikuti setelah Minami. Dan tujuan Aquila kali ini adalah menuju tempat dimana tubuh asli Adrian berada yaitu kekaisaran Zemlya yang terkenal sebagi negeri tanpa siang.


Perjalanan mereka telah berlalu dalam beberapa bulan dan telah memasuki musim dingin. Butiran salju turun melayang-layang seperti untai kapas yang tertiup angin musim panas. Namun suhu nya sangatlah dingin menusuk kulit yang terbalut mantel hangat yang tebal.


Semua nampak putih bersih sepanjang mata memandang, baik pohon, batu, tanah bahkan pinggiran sungai pun ikut memutih. Aliran air di sungai sangat tenang dan butiran salju turun ke sungai dan menghilang.


"Huhh... Andaikan macan itu tidak hilang ingatan. Aku Ingin sekali musim dingin kali ini tidak seperti ini." Keluh Helios.


"Ya, tentu saja kita harus bersabar Lio, tidak ada jalan pintas untuk menyadarkan dirinya dari pengaruh jahat manusia yang memperbudak dirinya." Kata Vent Leger menjawab perkataan dari Helios yang sangat menyukai kehangatan.


"Ah, kak Aquila, tolong peluk Giel. Giel sangat kedinginan." kata Rugiel sambil menggelayut manja di samping Aquila yang berjalan menunggangi Leave dan berdampingan dengan Minami.


"Huh, dasar manja. Leil juga ingin dipeluk juga oleh kak Dita..." Kata Soleil yang menarik tangan Rugiel yang masih setia menempeli Aquila seperti getah karet yang sudah mengering.


"Kak... Giel sangat kedinginan. Biarkan Soleil, jangan hiraukan dia." Kata Rugiel sambil menghempaskan cengkraman Soleil pada tangannya.

__ADS_1


"Aku rasa mereka tidak akan mengalah sebelum kak Aquila memperingati mereka." Ucap Helios kepada Shiro dan Vent Leger, sedangkan Adrian tertidur pulas dalam jubah hangat milik Aquila dan tidak terusik dengan kedua saudaranya yang terus berseteru untuk mendapatkan kehangatan di musim dingin yang sangat dingin.


Rambut Aquila yang berwarna perak menyatu dengan putihnya salju yang hinggap di rambut nan panjang miliknya. Netra matanya yang berwarna merah darah seperti mawar merah yang terbungkus oleh kain putih. Tatapannya yang dingin langsung memandang tajam pada Rugiel dan Soleil yang masih berdebat untuk mendapatkan perhatian darinya.


Namun, tatapannya yang dingin diabaikan oleh kedua bocah yang masih terus berseteru tidak jelas menurut Aquila. "Ne.. kalian. Bisakah kalian diam?" Tanya Aquila dengan datar.


"Kakak.... peluk aku. Udaranya sangat dingin hingga membuat buluku menjadi ikut dingin." Kata Soleil menjawab pertanyaan Aquila dengan santainya dan tidak menghiraukan tatapan dingin seperti musim dingin yang masih berjalan di dunia Callista.


"Tidak. Mintalah pada Shiro atau Eger." Tolak Aquila dengan wajah acuhnya.


"Kakak jahat. Aku hanya ingin dipeluk olah kak Aquila seorang saja. Dan kenapa Adrian diperbolehkan untuk berada di dalam jubah kak Aquila?" Protes Soleil.


"Baiklah, ubah bentuk kalian, agar mudah menggendong kalian." Aquila hanya bisa pasrah saja, dan dengan berat hati menggendong kedua adiknya yang sudah berubah dalam bentuk kecil mereka yang berupa Griffin dan kura-kura.


"Aku kira kak Aquila akan menolak mereka sepeti biasanya. Ternyata aku salah." Kata Vent Leger yang berada dibelakang Aquila yang menunggangi Leave yang dituntun oleh Minami.


"yah, begitulah, Kak Aquila itu susah untuk ditebak. Tapi aku suka sisi baik dari kak Aquila meski ditutupi raut wajah datarnya itu." Kata Helios menyahuti apa yang dikatakan oleh Vent Leger.


"Sepetinya kalian sangat suka menggosip." Tegur Shiro yang sedari tadi diam mendengarkan pertengkaran Soleil dan Rugiel yang ingin diperhatikan oleh Aquila, dan juga Helios dan Vent Leger yang masih belum terbiasa dengan kata dan tindakan Aquila yang susah di tebak, termasuk juga oleh Shiro yang sudah lama mengenal orang yang dia anggap sebagai kakaknya itu.

__ADS_1


"Aku tidak menggosipkan kak Aquila. Aku hanya tidak dapat memahami kak Aquila yang sangat berbeda setiap waktu. Kadang baik, kadang acuh, kadang marah. Hal itu membuatku menjadi bingung Rino." Kata Helios yang disetujui juga oleh Vent Leger yang baru saja bergabung dengan mereka.


"Ya, aku mengerti. Bagiamana pun juga, kak Aquila adalah kakak kita semua selepas dari dirinya yang tidak kita pahami. Yang terpenting bagi ku, kak Aquila hanya menjadi kakak ku selamanya." Kata Shiro dengan senyum bangga dengan keputusan yabg telah dia tegakkan dalam hatinya setelah pertemuaan pertama mereka.


"Cih.. Tidak perlu kamu katakan Rino, aku juga sudah tahu tentang hal itu." Kata Vent Leger dengan cemberut.


"Eger..! Kamu sama sekali tidak berubah ya. Masih tetap kasar seperti dahulu." Kata Helios dengan menarik telinga berbulu di kepala Vent Leger.


"Aaa.......Dddd.... Sakit Lio. Apa kamu tidak kasihan denganku?" Tanya Vent Leger dengan wajah yang meringis kesakitan.


"Hah... Kalian, sama sekali tidak berubah ya. Masih suka bercanda. Tapi hal itu lebih baik." kata Shiro sambil berjalan mendahului mereka berdua yang berada dibelakang Shiro.


"Rino apa yang kamu katakan? Aku tidak dapat mendengarkan apa yang kamu katakan..!!" Teriak Vent Leger yang masih setia menyentuh telinganya yang masih berdenyut nyeri.


"Rino....!! Katakan sekali lagi....!!" Teriak Helios sambil berlari kecil menyusul Shiro yang sudah didampingi Aquila yang memandang lurus jalan yang dilalui mereka semua.


Shiro hanya menegakkan kepala melihat kedua saudaranya itu yang menyusulnya dengan langkah kaki kecil mereka, lalu kembali meluruskan pandanganya menyusuri jalan penuh dengan salju putih yang sudah menebal.


Cahaya merah kejinggaan nampak jauh dari pandangan mereka, namun setelah berjalan sedikit lama, akhirnya mereka sampai pada sebuah gapura yang mewah dengan lentera bergantung rapih dan sebuah gerbang hitam dengan ornamen ular besar berwarna ungu nampak dominan dari pada warna hitam yang sudah menjadi latar belakang dalam ornamen itu.

__ADS_1


Diluar gerbang bersinar dengan cahaya putih, namun setelah gerbang itu dibuka, hanya kegelapan dan cahaya kecil berwarna merah memberi kesan seram pada pendatang yang baru memasuki kawasan kekaisaran Zemlya yang terkenal dengan kekaisaran tanpa siang.


__ADS_2