
Malam telah berlalu dihutan light elf, dan kini pagi menjelang dengan suasana yang ramai dengan kicauan burung yang beragam bagaikan konser alam dengan iringan suara daun yang bergoyang tertiup angin pagi yang sejuk.
Bau harum bunga yang mekar menarik perhatian hewan untuk mendekatinya untuk menghisap nektar yang terdapat didalam nya, dengan imbalan serbuk sari para bunga dibawa dan ditempatkan dibunga yang lain untuk membuahi putik bunga agar menjadi buah dimusim yang akan datang.
Sangat sederhana, namun dampak yang sangat besar bagi lingkungannya. Burung Kolibri dan burung madu terbang disekitar tempat mereka tinggali, menghampiri bunga yang ada disekitarnya yang tengah mekar dengan warna warna cantik yang menghiasi alam.
Ulat daun asik menggerogoti daun muda yang segar terkena embun pagi yang sejuk. Burung pemakan serangga terbang dan menangkap ulat daun yang tidak dia sadari langsung meluncur diperut burung itu. Cicitan anak burung terdengar untuk meminta makan kepada induk Meraka yang tengah kembali membawa ulat daun yang lain. Begitulah alam, saling melengkapi namun terlihat kejam pada yang lain.
Aquila yang tertidur di samping sarang Shiro dan Rugiel sejak semalam. Minami dan Leave tidur dibawah pohon yang ditempati Aquila takut bila sang nona terjatuh dari pohon. Sangat mustahil bukan?
Gajah obsidian dan rubah api berdiskusi dengan para magical beast tentang rencana mereka mengusir manusia yang menebang pohon dihutan Roa yang notabennya adalah rumah mereka. Namun belum menemuka ide sama sekali, karena para manusia itu sangat licik.
"Bagaiman? Apa kita menunggu nona Messiah terlebih dahulu?" Tanya salah satu magical Beast yang mengikuti rundingan itu.
"Lebih baik kita tanyakan dahulu kepada nona Messiah. Dan tupai bunga, bukankah kamu telah melihat nona Messiah bertarung dengan para manusia itu?" Tanya rubah api.
"Benar tuan, tapi hanya sekilas saja. Pada saat itu saya langsung kembali untuk memberitahukan nona rusa untuk membantu nona Messiah yang tengah bertarung. Saat saya kembali, pertarungan antara manusia dan nona Messiah sudah selesai dengan para manusia yang kelelahan dan dimarahi oleh manusia gendut itu." Jelas tupai bunga.
"Jadi begitu, baiklah. Kita diskusikan hal ini setelah nona Messiah saat bangun. Ada yang keberatan?" Kata rubah api memutuskan namun masih bertanya akan keputusan yang lain.
"Kami tidak keberatan dengan keputusan tuan." Kata magical beast yang lain.
Stelah itu, para magical beast berkumpul dimana Messiah mereka tertidur dengan tanda kedua orang yang dekat dengan Messiah mereka yang tertidur dibawah pohon.
Minami yang pendengaran sangat sensitif langsung terjaga dari tidurnya dan melihat para magical beast yang tengah berkumpul dihadapan mereka dengan bentuk setengah lingkaran. Kemudian Leave terbangun dari tidurnya dan membuka matanya yang indah dengan pancaran kesejukan di keheningan.
__ADS_1
"Ada perlu apa?" Tanya Minami sambil melihat para magical beast dan dibarisan dibelakangnya berkumpul hewan buas.
"Kami hanya ingin menunggu nona Messiah, apa kami menganggu nona?" Tanya mereka dengan was-was.
"Tidak. Kalau begitu tunggulah nona sebentar lagi." Kata Minami, lalu pergi dari tempat itu untuk mencari air untuk perbekalan air minum mereka yang akan habis.
Para magical beast dan hewan buas yang ada ditempat itu langsung diam, karena hewan suci dihadapan mereka sangat suka keheningan kecuali jika berbicara dengan nona Messiah mereka.
"Kenapa kalian jadi diam?" Tanya Leave terheran, padahal tadi mereka sangat ramai dengan adanya Minami.
"Apa kami tidak akan menggangu nona rusa?" Tanya Gajah obsidian dengan ragu.
"Tidak juga, aku tidak melarang kalian bila kalian saling berbicara satu sama lain." Ucap Leave dengan lembut.
"Lalu kenapa nona pada saat itu tidak mengizinkan kami bersuara pada saat itu?" Tanya si berang-berang ekor ikan yang penasaran.
"Jadi, kami boleh berbicara nona?" Tanya katak ungu.
"Tentu saja, asalkan jangan terlalu berisik." Kata Leave mengizinkan mereka.
"Terimakasih nona." Ucap mereka serempak.
Lalu Leave berubah menjadi sosok manusia nya dengan tanduk kristal yang menghiasi keningnya dengan rambut putih yang terurai dan langsung menaiki pohon itu dengan sihir tumbuhan yang ia kuasai dengan segera ranting pohon menjulur kebawah membentuk tangga dari tanah ketempat Aquila tertidur.
Tinggi matahari sudah mencapai tinggi ujung tombak yang menandakan waktu fajar telah berlalu dan kini akan menuju pagi yang cerah. Shiro mulai membuka matanya dan mengedipkan beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang ada disekitarnya, dan kemudian Rugiel juga mulai membuka matanya yang berwarna kuning itu.
__ADS_1
Setelah mereka menyesuaikan cahaya ditempat itu, Meraka langsung menyadari tempat yang mereka gunakan adalah sebuah sarang burung yang dianyam rapih dan dua ekor burung bertengger ditepi sarang itu.
Salah satu burung itu mulai bercuit seakan mengucapkan selamat pagi kepada penghuni sarang itu. Shiro dan Rugiel merasakan hal yang sama, yaitu terkejut dan dalam pikiran mereka 'Apa aku diculik?' tapi sangat mustahil dengan ukuran kedua burung kecil itu. Sedangkan berat Shiro dan Rugiel lebih beratus-ratus kali lipat dari berat kedua burung itu.
"Oh, jadi kalian sudah bangun?" Tanya seseorang yang suaranya sudah mereka kenali, siapa lagi kalau bukan kakak tercinta mereka.
Wajah yang terlihat malas, rambut yang panjang kini kusut Karen tiupan angin semalam. "Selamat pagi kak." Sapa Shiro kepada Aquila.
"Selamat pagi." Rugiel mengikuti Shiro yang menyala Aquila.
"Selamat pagi juga, apa adik-adikku tidur dengan nyenyak?" Aquila menyapa salam dark adik-adiknya itu.
"Aku merasa, tidurku sangat nyenyak Kak." Jawab Rugiel.
"Tapi kenapa aku tidur di sarang burung?" Tanya Shiro terheran.
"Bukan apa-apa. Yang penting kalian tidur dengan nyenyak meski kalian tidur di sarang burung." Kata Aquila ambigu. Lalu sebuah suara menyapa Aquila yang tengah asik berbicara itu.
"Selamat pagi nona, nona terlihat sangat kacau sekali." Sapa Leave yang berada dibelakang Aquila.
"Benarkah? seperti apa?" Tanya Aquila dengan penasaran.
"Kakak terlihat seperti orang utan yang ada ditv milik kakak dulu." Kata Shiro tanpa rasa bersalah di wajah kucingnya yang imut itu.
"Apa? kamu bilang apa barusan! Kamu samakan aku dengan orang utan?!" Aquila naik pitam dengan ucapan kurang ajar dari kucing dihadapannya itu.
__ADS_1
"Orang utan itu apa?" Tanya Rugiel dengan polos karena belum pernah mendengarkan tentang orang utan.
"Orang utan itu seekor moyet dengan rambut berwarna merah bata dan rambutnya sangat lebat namun acak-acakn. Nah kak Aquila sangat persis dengan orang utan itu." Jelas Shiro dengan percaya diri dan wajah tanpa dosanya itu.