Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 148


__ADS_3

Hembusan angin membawa kabut asap dari benteng terluar kekaisaran Dahana. Suara adu pedang dan tombak terdengar meski dari kejauhan, hujan anak panah tidak pernah berhenti membentuk rumput yang kaku menancap di setiap bangunan atau orang-orang yang belum sempat menyelamatkan diri mereka.


Hawa panas dan dingin sangat terasa secara bersamaan karena perbedaan element dari kekaisaran Dahana dan Samudra. Teriak lantang dari prajurit kekaisaran Dahana terdengar untuk menambah semangat yang membara untuk membela tanah air mereka yang tengah diserang oleh musuh yang menantang.


Hiruk pikuk kekacauan semakin jelas dengan kehadiran sesosok manusia yang memakai armor putih menunggangi serigala berwarna putih dengan butiran salju disekitarnya. Dia adalah sang pahlawan, Laurena Rintania dari kekaisaran Samudra.


"DASAR PENGHIANAT....!!!" Teriak penuh amarah dari Helios yang menatap Rin tajam.


"Oh..? Benarkah? Apa aku pernah bertemu dengan kalian? Bukankah ini kali pertama kita bertemu?" Tanya Rin dengan suara yang tidak bersahabat.


"..." Helios hanya bisa diam dengan menahan amarahnya yang sudah sampai diubun-ubunnya, namun di tahan oleh Shiro yang menggelengkan kepalanya.


"Oh, Kenapa? Bukankah aku benar?" Tanya Rin dengan suara yang dingin.


"Kita memang baru pertama kali bertemu. Namun, kenapa sang pahlawan mendatangi kita dengan hawa permusuhan?" Tanya Leave yang sudah berada didepan dengan wujud manusianya.


"Tentu saja karena dia, bukankah dia berada dibelakang kalian?" Ucap Rin dengan sinis.


"Dia? Siapa yang kau maksud?" Tanya Leave Tidak mengerti.


"Tentu saja sang iblis penghancur, bukankah kau dengar, cepat keluar jangan bersembunyi saja dibalik mereka!?" Kata Rin dengan menunjuk reruntuhan bangunan dengan pedangnya yang berada dibelakang Leave dan para pilar dunia Callista.


"Oh... Jadi aku sudah ketahuan ya? Apa kabar Sang pahlawan?" Sapa Aquila dengan suara yang malas.


Tentu saja sapaan Aquila itu mengejutkan para prajurit kekaisaran samudra dan Dahana yang sedang bertarung itu, sebab mereka tidak menyadari kehadiran Aquila.


"Apa kau tidak terlihat ku baik-baik saja hah, sudah ku duga, kalau matamu itu bermasalah." Kata Rin menjawab pertanyaan Aquila dengan sengit.


"Wah.. Wah.. Apa ini sikap dari seorang pahlawan yang terpanggil dari kekaisaran Samudra? Aku yakin pasti kaisar nya tidak mendidiknya dengan baik." Sindir Aquila.

__ADS_1


"Tahu apa kau tentang Yang mulia kaisar? Jangan sembarangan berbicara omong kosong!" Ucap Rin dengan marah.


Tentu saja perkataan Rin langung membuat prajurit dari kekaisaran samudra terkesima, lantaran mereka tahu kelakuan dari sang pahlawan yang kaisar samudra panggil sangatlah tidak menghormatinya. Dan baru kali ini mereka mendengarkan kemarahan dari sang pahlawan.


"He..? Kenapa kamu yang menjadi marah, atau itu memang kenyataan?" Tanya Aquila memprovokasi.


"TUTUP MULUT MU..!! ATAU AKU POTONG LIDAH MU..!!" Kata Rin dengan suara yang lantang penuh penekanan dan amarah.


"Jangan mimpi, untuk sekedar menyentuh ujung rambutku saja, aku yakin kau tidak mampu." Kata Aquila dengan senyum meremehkan yang terlihat jelas diwajahnya yang ayu.


Rin hanya bisa diam, namun tangannya menggenggam erat pedangnya sampai bergetar menandakan kalau dia sangat marah.


"Kenapa kau tidak menyerangnya, wahai sang pahlawan?" Tanya sesosok lelaki dengan zirah emas menunggangi seekor kuda bersayap dan seekor ular kecil berkaki yang mengeluarkan aura yang sangat berat.


"Yang Mulia kaisar?! Kenapa anda berada disini?" Tanya Rin terheran.


"Tentu saja aku ingin melihat sesosok iblis yang dirumorkan itu. Ternyata dia adalah seseorang gadis yang cukup cantik." Puji sang kaisar samudra namun dengan nada yang acuh.


"Sangat jarang melihat para pilar Callista berkumpul disini." Kata sang kaisar samudra penuh minat.


"Yang mulia, biarkan saya mengurus manusia yang berubah menjadi iblis keji itu yang telah tega membunuh ratusan ribu nyawa kerajaan Zuwei itu." Kata Rin dengan penuh harap.


"Lakukan saja, dan bila perlu tangkap dia hidup-hidup." Perintahnya kepada Rin, namun tatapannya menuju pada pilar Callista yang menatapnya penuh kebencian, terutama Nix yang bersembunyi di balik pakaian Minami.


"Laksanakan!" Kata Rin dengan tangan kirinya berada didada kanannya, sebagai bentuk penghormatan atas pemberian tugas.


"Cih..!! Aku yakin dia hanyalah penghianat yang menusuk kak Aquila dari belakang." Kata Helios dengan marah.


"Sabar dulu Lio, Aku rasa ini bukan penghianatan kak Rin, apa kamu melupakan rencana kak Aquila dan kak Rin waktu itu?" Kata Shiro memberi peringatan kepada Helios.

__ADS_1


"Benar, apa kamu melupakan hal itu Lio?" Tanya Soleil.


"Kalian berdua bagaimana sih, burung siang itu tidak akan mengingat hal yang sepenting itu." Kata Adrian sambil mengejek Helios yang terkadang melupakan sesuatu yang penting bila sudah dimakan amarah nya yang sepanas sinar matahari.


"APA?! Katakan sekali lagi!" Teriak Helios dengan menatap tajam Adrian sengit.


"Apa kau mau mengajakku bertarung?" Tanya Helios tidak kalah sengit.


"Kalian ini...." Ucap Vent Leger sebal.


BUUMM...!!


Serangan mendadak itu tentu saja membuat para pilar menjadi sangat terkejut, dan apa lagi yang melakukan serangan itu adalah seorang yang tidak lain adalah kaisar dari kekaisaran samudra.


Leave dan Minami lah yang menghalau serangan itu, sebab mereka berdua mendapat permintaan dari Aquila untuk menjaga para adik-adiknya itu. Meski mereka dapat melindungi dirinya sendiri, Aquila tetap saja khawatir bila mereka terluka.


"Ara... bukankah itu tidak sopan bila anda menyerang kami bersembunyi seperti itu?" Tanya Leave dengan nada yang lembut, namun langsung ke intinya.


"Nona, tidaklah benar. Di medan perang hal itu wajar-wajar saja. Akan tetapi, menyerang anak-anak kecil itu sangatlah tidak manusiawi." Tambah Minami yang berdiri dibelakang Leave sambil bersedekap dada.


"Nona, apa yang kalian bicarakan itu tidak lah benar, lebih baik kalian menyerah dan ikutlah ke kisaran yang mulia ini. Aku jamin hidup kalian akan senantiasa bahagia." Tawar sang kaisar samudra pada Leave dan Minami.


"Oh, benarkah? Lalu, kenapa anda menyerang kekaisaran Dahana yang damai ini? Bukankah Anda mencari musuh?" Tanya Leave dengan suara yang lembut namun acuh.


"Tentu saja yang mulia ini memiliki alasannya tersendiri. Dan juga, bukan hanya kekaisaran Samudra saja, tetapi kekaisaran Teranivis, kekaisaran Zemelya, kekaisaran selatan serta beberapa kerajaan yang ikut bergabung dalam penyerangan ini." Jawab sang kaisar Samudra dengan bangga.


"Oh, apa karena anda ingin mengambil mahluk suci kekaisaran Dahana, atau.." Kata Minami menebak, namun memang itulah tujuan dari sang kaisar Samudra.


"Ah.. Jadi kamu sudah mengetahuinya ya, apa kau mau ikut bergabung dengan ku?" Tanya sang kaisar samudra.

__ADS_1


"Atas dasar apa? Tidak Sudi aku untuk ikut bergabung dengan manusia yang berpikiran picik seperti mu." Tolak Minami.


"Kalau begitu, maafkan yang mulia ini." Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah mana berwarna biru.


__ADS_2