Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 30


__ADS_3

Kilatan petir terus menjalar didalam awan dan diikuti dengan gemuruh halilintar yang memekakkan telinga, raungan hewan buas terdengar dari dalam hutan yang tidak jauh dari mereka.


Awan hitam itu terus membesar dengan petir yang terus terlihat, sebuah halilintar jatuh menghantam permukaan danau yang bergejolak karena tiupan angin kencang. Setelah kilatan halilintar itu hilang permukaan danau itu mengepulkan asap dan ikut terseret oleh angin kencang.


"Wah... begitu menakjubkan." Aquila kagum dengan kilatan cahaya itu namun Leave dan Minami menatap ngeri kearah nonanya yang terpesona dengan halilintar sebelumnya.


"Rugiel...." Kata Shiro dengan sendu. Aquila yang mendengarkan suara lirih Shiro langsung mengelus kepalanya untuk menenangkan Shiro.


"Tenang saja, kita pasti bisa menyelamatkan Rugiel." Ucap Aquila menghibur.


Angin kencang menderu dengan kencang, pohon tempat Aquila bersembunyi kini menjadi goyah, dengan terpaksa mereka turun dari persembunyian mereka. Para prajurit melihat orang yang menurut mereka asing, namun tidak dengan kucing putih yang ada dipundak seorang gadis.


"Bukankah itu kucing kemarin yang membuat keributan?" Tanya salah satu orang didalam barisan itu.


"Benar, itu kucingnya. Kalau kita dapat menangkapnya pasti tuan akan memberi kita hadiah yang besar." Kata yang lain dengan tatapan yang serakah terhadap Shiro.


Ghauuuu.......


Suara pekikan dan dan raungan terdengar dengan sangat keras dari dalam gua, sehingga mereka mengurungkan niatnya untuk menangkap kucing pembuat onar itu.


Dari dalam gua yang gelap muncul secara samar-samar kepala elang dengan paruh tajamnya, setelah keluar sepenuhnya dari dalam gua terlihat bentuk nyata dari hewan yang terlihat samar sebelumya.


"Apa itu Griffin?" Ucap Aquila tidak percaya.


"Rugiel. Itu Rugiel kak." Kata Shiro berulang. Minami dan Leave menjadi waspada terhadap sekitanya terutama para prajurit yang ingin menerkam kearah mereka.


"Oh... jadi kamu mengantarkan nyawamu kesini." Teriak seseorang yang ada dipunggung Griffin itu.


"Maaf, apa kita saling kenal?" Ucap Aquila dengan santainya dan tak lupa dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Kau masih berlagak sombong di hadapanku....." Jendral kekaisaran selatan naik pitam karena ulah Aquila.


"Sombong? kau bilang aku sombong pak tua? Sedangkan kita baru bertemu sekarang. Jadi tidak ada alasannya aku memberimu salam" Bantah Aquila dengan sarkas.


"Beraninya kamu, padahal kau yang telah membuat anakku mandul!" Dengan raut wajah yang merah padam.


"Oh jadi kamu orang tuanya? Pantas saja dia tidak memiliki sopan santun." Ucapan pedas Aquila langsung membuat jendral itu terdiam.


"Kau.... Griffin serang dia..!" Perintahnya kepada Griffin itu. Lalu mulut Griffin itu terbuka dan sebuah mana berwarna kuning cerah terkumpul didalam mulutnya dan menembakkanya kearah Aquila berdiri.


Shiro dengan sigap berubah menjadi seukuran dengan Griffin itu dan membuat penghalang dari serangan yang mematikan.


BUUMMM.....


Sebuah ledakan besar dan menimbulkan asap hitam yang membumbung tinggi, angin kencang menghembuskan asap itu dan memperlihatkan apa yang ada didalam asap hitam.


Sebuah lubang besar dengan tanah yang hancur, namun orang yang ada didalamnya tidak mengalami cedera. Jendral dan prajurit itu terkejut karena terdapat salah satu pilar yang melindungi Aquila.


Leave dengan cepat membuat sebuah kurungan dari kristal dan mengurung prajurit yang masih mengumpul sedangkan Minami memburu prajurit yang menyerangnya dan membuatnya tidak sadarkan diri sekali pukulan. Setelah itu Minami melemparkannya dengan mudah kearah kurungan yang dibuat oleh Leave sebelumnya.


Aquila mengeluarkan pedangnya dari dalam kalung dimensinya, dan berjalan santai kearah jendral yang masih berdiri disamping Griffin. Pedang Aquila yang menyentuh tanah gersang menimbulkan debu dan Shiro berjalan disamping Aquila.


"Jadi pak tua, kenapa kamu tidak mengurusi pekerjaanmu saja. Kenapa repot-repot mengurusi ku dengan tulang lapukmu?" Kata Aquila dengan hinaan yang terlihat diwajahnya.


"Sombong juga kamu gadis kecil. Lebih baik kamu menyerah saja dan terima nasibmu mati ditangan ku."


"Sayangnya aku tidak mau, memang kamu siapa? Tuhan?"


Griffin menatap tajam kearah Shiro, dan mengepakkan sayapnya yang besar dan lebar lalu terbang kearah awan badai yang masih menggelegar itu. Shiro mengeluarkan sayap putihnya dan ikut terbang ke langit yang gelap.

__ADS_1


Sang jendral mengeluarkan pedangnya yang tergantung di pinggangnya, zirah berwarna hitam menambah kesan mengerikan yang terpancar dari arahnya. Tanpa pembicaraan atau provokasi, sang jendral langsung mengayunkan pedang dinginnya yang tajam kearah Aquila yang masih santai ditempatnya berdiri.


Aquila dengan santai mengindar serangan tajam itu dengan mengeserkan tubuhnya kearah kanan dan menendang punggung sang jendral dengan keras.


Sang jendral tersungkur di tanah yang gersang akibat serangan Aquila dengan darah mengalir dari hidungnya. Sang Jendral kembali menyerang namun kejadian sama seperti sebelumnya terjadi kembali namun dengan pedang menancap di tanah untuk menghindar dari tubuhnya jatuh ketanah.


"Jadi pak tua, lebih baik kamu pulang saja dari pada harus jatuh lagi dan lagi." Ucap Aquila sambil memasukan pedang kedalam wadahnya.


"Jangan banyak bicara..." Sang jendral langsung mengalirkan mananya kepedangnya dan menyerang kembali kearah Aquila.


"Pak tua, kasihanilah tulang yang keropos mu itu." Aquila menangkap tangan sang jendral kemudian memelintirnya kebelakang tubuh.


"Dasar pengecut! Lepaskan aku.!" Sang jenderal berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Aquila.


"Aduh pak tua, jangan banyak bergerak. Nanti patah tulang loh.." Peringatan Aquila ke jendral yang terus berusaha melepaskan dirinya.


Aquila melepaskan cengkraman tangannya dan kemudian menarik lagi tangan sang jendral mematahkannya dengan siku tangannya yang terbalut dengan sarung tangan zirah Wister.


Suara patah tulang teredam oleh suara angin kencang namun teriak kesakitan itu tidak dapat disembunyikan oleh angin kencang itu.


"Aghhh...."


"Sudah ku bilang kan, jangan banyak bergerak. Pak tua tidak percaya sih." Kata Aquila cuek dan membersihkan tangannya dengan menepuk berulang kali.


Rasa sakit ditangannya tidak bisa memendam kemarahan akan hinaan yang terus terucap dari Aquila. Lalu mengambil pedangnya yang terjatuh ditanah gersang dan menyerang kembali. Aquila dengan santai terus menghindar dan mengambil pedang yang dia masukan lalu dengan santai mengayunkan untuk menangkis.


Pedang sang jendral terpotong menjadi dua, padahal pedang milik Jendral sangatlah tebal daripada milik Aquila.


"Uups.. Maaf aku tidak sengaja." Ucap Aquila cuek lalu mengayunkan pedangnya kembali dan memotong tangan kanan jendral dengan pedangnya.

__ADS_1


"Ughhh pasti sangat sakit." Kata Aquila pura-pura semua itu bukan salahnya.


"Aghhh..... kamu berani sekali melakukan hal ini kepada ku!?" Teriak frustasi sang jendral karena tangan kanannya terputus. Dengan darah yang mengalir dari lengannya dan tangan kiri yang patah membuat sang jendral tidak dapat melawan dan hanya bisa bersimpuh menahan rasa sakit dari kedua tangannya.


__ADS_2