Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 54


__ADS_3

Seketika dalam tenda itu langsung hening, kecuali suara tangisan terisak dari para budak yang ketakutan. Namun suara tawa menghina langsung keluar dari mulut manis namun sadis Aquila.


"Ha... Ha... Ha.... Sayangnya belum waktunya bagiku untuk mati atau menjadi hantu. Jika aku matipun kamu akan ikut denganku ke neraka." Ucap Aquila dengan tertawa dan diikuti juga kedua hantu yang mengerikan, seakan menyetujui ucapan Aquila. Bangsawan itu memandang mereka secara bergantian dengan wajah yang merah padam meski cahaya sangatlah minim.


"Sudah berapa lama kamu melakukan proyek ilegal ini?" Tanya Aquila lalu mengambil anggur yang terletak didekat kursi berlapis emas dan permata itu.


"Itu bukan urusanmu. Lebih baik kamu menyerah saja anak kecil. Semua ini adalah perintah dari rajaku." Ucapnya dengan penuh bangga.


"Oh, ternyata kamu anjing yang penurut ya. Pantas saja tidak ada surat izin untuk mengahancurkan hutan ku ini." Aquila dengan tatapan kasihan dan ejekan terhadap bangsawan itu.


"Memang siapa kamu! Semua urusan wilayah rajaku ada ditangannya. Dia mau ingin menghancurkan hutan ini, itu kehendaknya bukan urusanmu." Ucapnya dengan sengit dan penuh kebencian terhadap Aquila yang terlihat mengejeknya dengan tatapan mata yang tajam.


"Siapa aku? Aku hanyalah seorang yang tidak suka kerusakan hutan. Dan tentu saja semua hewan buas dan magical beast memanggilku Messiah. Kau tau artinya kan?" Kata Aquila dengan senyum miring nya.


"M-messiah! Lelucon yang sangat lucu. Aku tidak yakin kalau kamu seorang Messiah. Dia tidak mungkin masuk menjelajahi hutan dengan sendirian. Dia seharusnya berada dikuil untuk berdoa dan meneriakkan berkat kepada setiap orang yang berkunjung. Dan pakaianya tidak sepertimu tidak mewah sama sekali. Itu menandakan kalau kamu hanyalah bocah tengik yang mengaku-ngaku sebagi Messiah. Tch...! Lebih baik mati saja kamu...!"Ucapnya panjang lebar kemudian setelah mengatakan ucapan terakhitrnya, dia langsung menyerang Aquila dengan pedang ditangannya.


Saat pedang itu hampir menyentuh Aquila, laba-laba Archane langsung memblokir serangan itu dengan lengannya yang keras, dan membaut bangsawan gemuk langsung terpental akibat serangan dadakan tadi.


"Sungguh biadab. Lebih baik kamu bertarung denganku, jangan bersembunyi dibelakang laba-laba peliharaanku.!" Katanya sambil menunjuk Aquila tidak terima dengan perlakuan laba-laba Archane miliknya dulu.


"Siapa kau, memerintahkan tuanku Messiah untuk menurutimu." Laba-laba Archane membalas perkataan bangsawan itu.


"Kamu bisa berbicara..?!" Teriak bangsawan itu dengan sangat terkejut.

__ADS_1


"Sepertinya pengetahuanmu sangat lemah. Tentu saja magical beast bisa berbicara." Ucap Aquila mengejek.


"Ah nona, perkataan mu selaulu saja seperti biasanya. Sangat tajam." Ucap seorang gadis dengan tanduk yang sebelumnya sangatlah mengerikan dengan wajah pucat dan darah mengalir dari mata, hidung, mulut dan telinganya dan sekarang terlihat halus, dan sangat cantik dengan kulit yang putih.


"Kalian...! berani menipu bangsawan ini..!" Ucapnya sambil melototi Leave dan Mianami yang kini sudah kembali ke penampakan semula.


"He he, om muka rambut. Begitu mudahnya dirimu mu dipermainkan oleh ku, berarti dirimu telah kalah dan bersiaplah menerima hukuman yang telah kamu ucapkan sendiri." Ucap Aquila sambil memainkan sebuah gelas yang terbuat emas.


"Kak Nami..!"


"Ya, nona."


"Seperti yang dia minta, potonglah bagian tubuhnya yang berharga." Perintah Aquila Yaang langsung disanggupi oleh Minami.


"Aku mohon, Jagan lakukan hal itu. Aku akan memberikan seluruh kekayaanku kepadamu." Ucapnya sambil bersujud dihadapan Aquila yang tengah terduduk ditempat duduknya dengan aba-laba Archane yang berdiri dibelakang Aquila.


"Aku tidak memerlukan hartamu, aku hanya menghukum orang yang bersalah dan mengambil yang apa aku harus ambil. Termasuk juga hutan ini." Aquila menolak dengan tegas namun terdengar sembrono.


"Tolong lepaskan lah aku, aku akan segera pergi dari hutan ini dan tidak akan kembali lagi kehutan ini." Ucapnya dengan penuh permohonan.


"Lalu, bagaimana dengan pohon yang kau tebang, bagaimana dengan magical besar dan hewan yang tinggal disini yang telah kamu bunuh sebelumnya? Bagaimana kamu bisa melupakan hal begitu penting." Ucap Aquila dengan nada yang begitu marah dan kekecewaan.


"Aku mengaku salah, aku mengaku salah. Tolong lepaskan aku, aku hanya mengikuti perintah rajaku saja. Semua ini adalah salah rajaku." Elaknya dengan mengambinghitamkan rajanya sendiri.

__ADS_1


"Aku anggap rajamu juga salah, dan kamu juga salah. Kak Nami, hukum dia!" Kata Aquila dengan tegas.


"Baik nona." Minami langsung menebaskan belatinya kearah kaki bangsawan itu. Dengan sekali tebasan, kaki kanan nya langsung terputus dan mengeluarkan darah merah yang banyak dan membuat budak yang ada didalam tenda itu ketakutan dan ada jua yabg sudah tidak sadarkan diri akibat kekejaman yang mereka lihat.


"Agh..... kaki ku...! Kakiku......!!" Bangsawan gendut itu langsung memegangi kakinya yang telah terputus dan dengan suara yang memperlihatkan rasa sakit yang nyata dan keputuasaan yang mendalam.


"Itu hukuman kecil dariku. Aku harap kamu bersyukur dengan hukuman yang aku berikan. Aku tidak mengambil nyawamu untuk semua penghuni hutan ini yang telah kamu bunuh sebelumnya. Dan katakanlah kepada rajamu, aku akan mengambil adikku yang sudah lama ditangan kalian semua." Aquila mengatakan dengan bijaksana namun dengan ancaman diakhir kalimatnya.


"Terimakasih atas kebaikan nona,saya akan menyampaikan pesan nona kepada raja saya." Ucapnya dengan nada bergetar namun dalam hatinya sangat lah marah dengan perlakuan Aquila yang telah membuatnya tidak dapat berjalan dengan normal.


"Serigala, antarkan dia kembali ke tempatnya, lalu pulanglah dengan selamat." Perintah Aquila kepada serigala abu-abu yang juga ikut dalam permainan Aquila untuk menakut-nakuti orang yang ada di hutan yang sudah gundul itu tanpa pohon meski hanya semak saja yang tertinggal.


"Baik nona." Ucap serigala abu-abu dan langsung mengigit celana bangsawan itu dan melemparkan kepunggungnya untuk diantar pulang ke kerajaan Zuwei.


"Nona, apa tidak apa-apa dengan membiarkan nya hidup, nona terlalu baik." Ucap Minami tidak terima kepada Aquila yang masih asik makan buah anggur.


"Biarkan saja kak, itu akan menjadi peringatan kepada mereka agar tidak melakukan hal yang sama. Tapi aku tudak yakin dengan orang yang haus harta." Kata Aquila cuek.


"Lalu bagaimana dengan mereka?" Tanya Leave kearah para budak wanita yang berada disudut tenda itu dengan berkerumun ketakutan.


"Lepaskan saja mereka."


"Apa tidak masalah nona. Mereka itu budak bila kembali lagi pasti akan dijadikan budak lagi, lantaran tanda budak mereka terlihat." Kata Minami.

__ADS_1


"Kalau begitu biarkan mereka tinggal disini. Mudah bukan. Sekalian mereka merawat pohon yang akan tumbuh dan membantu para magical beast untuk menjaga hutan ini." Minami dan Leave menganggukkan kepala menyetujui usulan Aquila.


__ADS_2