Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 84


__ADS_3

"Jangan sembunyi kau makananku..! Biarkan aku memakan mu dan menjadi abadi bersama! ha ha ha..!" Teriaknya dengan mengobrak abrik tempat itu dengan gila.


Sebenarnya Aquila masih didalam ruangan itu, entah kenapa pintu yang dia buka sebelumya telah menutup kembali dan tidak bisa dibuka. Bahkan rune yang menyegelnya sudah berbeda dan bahkan lebih sulit dan memerlukan mana yang banyak.


"Keluar kau! Jangan bersembunyi...! Biarkan aku memakan mu dan memuaskan rasa laparku ini.!"


"Apa suaramu tidak ada habisnya? Aku yang mendengarkan suaramu saja membuat telingaku sakit." Kata Aquila dengan suara malas dan menyandarkan tubuhnya didinding.


"MAKAN.....!" Teriaknya, dan langsung berlari kearah Aquila yang sedang menyandarkan dirinya untuk menerkamnya, namun kejadian yang sama terulang lagi, dia memakan serpihan kayu.


"Kasian sekali, sayangnya aku bukan makananmu. Melainkan malaikat mautmu!" Ucap Aquila dengan menyerang manusia yang berubah menjadi iblis haus akan darah manusia.


"Huwek! Sialannn.....!!! Aku akan mencabik-cabik dan menguliti mu....!!!" Ucapnya dengan amarah yang besar, karena serangan Aquila yang membuatnya merasakan sakit di punggungnya dan membuatnya memuntahkan makanan yang terakhir dia telan.


"Cih, merepotkan saja. Aku baru tau kalau ada mahluk kaya begini, sungguh merepotkan saja!" Keluh Aquila sambil terus menghindar dari sabetan cakar panjang itu.


Pria itu sudah kehilangan kewarasannya dan terus menerus menyerang Aquila dengan sangat cepat, hak itu juga yang membuat Aquila mulai kewalahan untuk menyerang balik.


"Ghhhhrrr.........!!!!!" Teriakan yang sangat nyaring dan kesakitan.


"Huh, untung sempat membuatnya. kalau tidak mungkin aku akan mati." Kata Aquila dengan nafas lega.


Aquila pun berjalan kearah pria yang sudah berubah menjadi monster itu dengan santai, dan tentu saja dengan sebuah katana yang berada di genggaman tangannya.


"Gheerrrrr..!" Geraman itu terdengar mengancam agar Aquila tidak mendekatinya, namun Aquila hanya mengacuhkan ancaman itu dan mengangkat katananya.


"Aku tidak tau apa tujuanmu, tapi yang kamu perbuat sangatlah diluar kemapuan manusia. Kau ingin menjadi abadi? omong kosong! Tidak ada mahluk yang abadi!" Ucap Aquila dengan memotong salah satu kepala manusia yang sudah menjadi tengkorak.


"Ghhheeerrrr......!" Teriaknya kesakitan.

__ADS_1


"Kamu memakan mahluk hidup dengan cara yang biadab, aku sangat membenci tindakan mu yang seperti ini!." Ucap Aquila dengan nada yang dingin dan wajah darat dan kembali memotong salah satu kaki monster itu.


Teriakan kesakitan kembali terdengar bahkan berturut-turut, hingga hanya suara geram lemah yang terakhir kali terdengar.


"Sebenarnya aku tidak suka melakukan hal seperti ini, tapi kau memaksaku melakukan hal ini. Jadi maafkan aku karena membunuh impian konyolmu itu." Ucap Aquila dengan memotong kepala pria itu dengan sekali tebasan.


Bau amis darah langsung menyebar dengan bersama matinya manusia yang berubah menjadi monster karena ambisinya untuk menjadi abadi dengan menumbalkan mahluk lain menjadi makanannya.


Aquila langsung membakar semua anggota tubuh yang terpotong, dan juga tulang belulang dari hewan atau magical beast. Aquila berdoa dalam hatinya untuk mendoakan jiwa dari para korban dari ambisi bodoh dari orang yang ingin abadi itu.


Setelah dirasa cukup, Aquila meranjak dari tepat itu dan mulai pergi untuk melihat pintu yang sama saat dia masuk didalam ruangan itu. Tidak ada halangan atau rune yang membuat nya kewalahan. Bahkan pintunya terbuka dengan sediri dan menampilkan ruangan yang cukup indah dengan dekorasi berbagai bentuk dengan lapisan emas dan taburan permata yang membuat siapa pun akan tergoda untuk menyentuhnya dan membawanya pulang.


Rasa waspada Aquila lebih tinggi dari rasa penasarannya akan benda yang berlapis emas itu, Aquila hanya mengabaikannya dan terus berjalan untuk sampai di pintu berikutnya yang terbuat dari kaca yang buram.


Meski pintu itu terbuat dari kaca,Aquila tidak bisa melihat apa yang ada dibelakang pintu itu, yang hanya terlihat hanyalah bayangan buram miliknya. Secara spontan pintu kaca itu terbuka dan memperlihatkan kepada Aquila, yaitu sebuah mahluk kura-kura dengan tempurung berbentuk seperti lapisan bulu sayap yang disusun rapih dengan kaki dan leher yang dirantai dengan emas yang berkilau.


Merasa namanya terpanggil, Kura-kura itu membuka matanya dengan lemah dan mencari siapa yang memanggil namanya yang sudah lama hilang bersama hilangnya menara miliknya.


Dia sang pilar bumi dengan lemah mengedipkan matanya untuk menjawab pertanyaan Aquila. "Aku tidak menyangka kalau dirimu akan dikekang seperti ini, tenang lah aku akan membebaskannya dan membawamu kepada saudaramu yang lain. Percayalah padaku." Ucap Aquila dengan senyuman yang meyakinkan.


Kura-kura itu hanya bisa menganggukan kepalanya degan lemah, karena kekuatan dan mana nya sudah hampir habis karena dia sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh gadis dihadapannya itu, karena tanda bulan sabit dan warna mata nya menunjukan kalau dirinya adalah seorang Messiah.


"Kalian berdua, apa mendengarku?"


"Ada apa nona, ehhh........?! kenapa kita ada disini?" Tanya seekor burung putih yang tidak lain adalah Doujo.


"Kak Doujo, kenapa kamu sangat berisik." Ucap Douji dengan nada malas nya.


"Lupakan tentang itu, beritahu aku bagaimana cara melepaskan rantai yang mengikat nya. mengerti?!" Ucap Aquila dengan serius.

__ADS_1


"B-baik nona, Douji ayo lakukan."


"Dengan senang hati kakak, aku sudah lama tidak mengerakkan tubuhku ini." Sahut Douji dengan sangat bersemangat.


"Tuan, tolong tahan rasa sakitnya. Dan biarkan kami berdua membantumu melepaskan rantai ini." Kata Doujo dengan keyakinan.


"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Aquila.


"Nona, bukankah tongkat itu selalu nona bawa?" Tanya Doujo.


"Tentu saja, dia selalu aku membawanya." Kata Aquila sambil mengeluarkan tongkat berukuran kecil dengan pahatan berbentuk bunga anggrek bulan dengan warna biru.


"Douji, ayo kita lakukan. Selanjutnya nona harus membebaskan tuan Soleil dengan mana milik nona, kami berdua akan bergabung dengan tuan Soleil." Ucap Doujo kemudian terbang bersama Douji menuju tempat dimana Soleil berada.


"Aku pasti bisa melakukannya, Shiro dan Rugiel telah menunggumu. Bertahanlah sedikit lagi, aku akan melakukan apa yang aku bisa Soleil." Ucap Aquila dengan penuh keyakinan dan tekat.


"Nona, kita mulai." Ucap Doujo dan Douji yang mulai berubah menjadi cahaya dan terbang menyelimuti tubuh besar Soleil dengan cahaya.


Aquila mulai menggoreskan telapak tangannya dengan ujung tongkat kecil, dan kemudian menggenggam rantai emas yang mengikat Soleil. Secara perlahan darah milik Aquila menghilang dan kemudian mana Aquila terserab dalam jumlah banyak.


Hal ini membuat wajah Aquila menjadi pucat dengan keringat dingin yang menghiasi dahinya. Untung saja hal itu berlangsung dengan sangat cepat, rantai yang mengikat Soleil lepas dan menghilang dan digantikan dengan seekor kura-kura kecil yang imut dengan tangan seperti sayap lengkap dengan cakarnya.


Soleil



Doujo dan Douji


__ADS_1


__ADS_2