Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 124


__ADS_3

Tiupan angin berhembus dengan sangat kencang, dan membuat ranting pohon berderak dengan nyaring menimbulkan suara berisik yang mengerikan. Suara gagak masih terdengar sangat jelas bersama dengan kepakan sayapnya yang berwarna hitam segelap langit pada kekaisaran Zemlya.


Rembulan ungu yang menggantung di Cakrawala disembunyikan oleh segerombol awan gelap dan juga bersamaan dengan wajah anak-anak yang menyembunyikan wajahnya pada pelukan sang bunda atau ayahanda dengan berderai air mata yang membasahi pakaian yang dikenakan.


Tawa mengerikan menjadi alunan simfoni dari alam bawah yang muncul di alam fana yang masih dihuni mahluk yang bernyawa. Derit suara lampion yang bergoyang tidak beraturan memberi rasa mengancam yang tidak dapat dikatakan oleh orang-orang yang menyaksikan peristiwa yang terjadi pada saat itu.


"Ha... Ha... Ha.... Sudah lama sekali aku tidak menapakkan diri di sini. Bagaimana kabar kalian mahluk rendahan kekaisaran Zemlya, putra mahkota menyapa kalian!." Teriak seorang yang melayang diudara dengan rambut yang acak-acakan tidak jelas, seperti sarang burung namun dengan wajah yang rupawan.


"Pu-putra mahkota..? Kenapa dia ada disini, bukankah dia di Kurung oleh yang mulia kaisar?" Tanya seseorang dari balik kerumunan.


"Benar.. Atau jangan-jangan dia telah melarikan diri dari kurungan yang mulia Kaisar. Matilah kita.. Kita harus pergi dari sini..." Ucap seseorang wanita dengan mengendong anaknya yang masih menangis sesenggukan dengan panik, tentu saja membuat orang yang ada disekitarnya menjadi panik dan segera melangkahkan kaki mereka dengan tergesa-gesa.


Namun sayang beribu sayang, mereka tidak dapat melarikan diri karena terdapat sebuah array yang menghalangi mereka menjauh dari tempat berlangsungnya festival lentera yang sekarang berubah menjadi festival kematian.


"Kalian mau lari kemana, sambutlah putra mahkota kalian dan mari merayakan festival kali ini dengan darah dan air mata..... Ha ha ha...." Ucapnya dengan tawa yang sangat memberikan bagi yang mendengarkannya.


Lalu sebuah rune melayang di langit tepat di atas kepala orang yang mengatakan dirinya sebagi putra mahkota kekaisaran Zemlya. Semua itu memanglah kebenaran yang semua orang di kekaisaran Zemlya mengetahuinya, putra mahkota mereka menjadi gila akan haus darah dan pembantaian semua orang di suatu kerajaan pada beberapa tahun yang sudah berlalu.


Dia melakukannya dengan tangan nya sendiri, tanpa ada rasa kasihan atau iba yang terlihat hanyalah tawa bahagia yang tidak semestinya orang normal lakukan. Dan tentu saja sang kaisar merasa marah dan kecewa dengan anak pertamanya yang dia angkat sebagai putra mahkota, lalu memasukan putra mahkota kedalam kurungan yang dulu ditempati oleh Adrian yang dijadikan bahan percobaan untuk membantunya abadi dan tentu saja dengan darah dan daging dari bayi. Dan tentu saja yang membuat Adrian menjadi menderita adalah ulah sang putra mahkota kekaisaran Zemlya yang mengunakan darahnya terus menerus.

__ADS_1


Tatapan penuh kebencian terlihat jelas dari balik tubuh Aquila yang terdapat Adrian yang bersembunyi karena saat ia sangatlah lemah meski semua lukanya telah pulih. Aquila yang merasakan tangannya dicengkeram erat menjadi penasaran apa hubungan Adrian dengan orang yang berada di awang-awang.


"Adrian, tenanglah, aku ada disini untuk melindungi apa pun yang terjadi." Kata Aquila menenangkan dengan menyentuh tangan Adrian yang masih menggenggam tangannya dengan erat.


Adrian memandang wajah Aquila yang memandangnya dengan penuh kasih sayang dan juga senyum tulus yang tidak pernah luntur dari wajahnya yang ayu.


"Kak, tetaplah disini bersamaku. Aku tidak mau menjadi bahan percobaan mahluk keji itu." Kata Adrian dengan tatapan memohon.


"Tenanglah, kita akan melindungi mu, jadi jangan tunjukan wajah takutmu itu." Kata Helios yang hinggap di pundak Adrian.


"Benar. Lagi pula dia hanya sendiri. Dan kita ada banyak." Kata Rugiel dengan jenaka, namun dalam sekejap wajah Rugiel berubah menjadi tidak percaya, sebab dari dalam rune yang melayang di udara keluar beratus-ratus mahluk yang tidak dapat dikatakan sebagi mahluk hidup atau mati.


"Selama aku masih bernafas. Tidak akan aku biarkan salah satu dari mereka menyentuh kalian. Jadi tenanglah." Kata Aquila dengan serius.


"Nona, apa kita akan diam saja atau kita membantu mereka?" Tanya Leave kepada Aquila yang memperlihatkan wajah datar dan dingin.


"Kita harus melindungi mereka, mereka tidak ada hubungannya dengan dia. Aku serahkan mereka semua pada mu kak." Kata Aquila dengan tatapannya pada orang yang melayang diudara bebas dengan mengeluarkan tawa yang tidak pernah berhenti.


"Bisakah kau berhenti. Tawa mu itu merusak pendengaran ku!" Kata Aquila dengan nada yang rendah namun terdengar sangat keras.

__ADS_1


Sontak membuat putra mahkota kekaisaran Zemlya berhenti sesaat, setelah itu tertawa kembali dengan lebih keras.


"HA....HA....HA.... Hei...! Anak kecil kau memiliki nyali yang besar juga, sepertinya kau sangat pantas menjadi salah satu bonekaku yang cantik. HA..HA..HA.." Tawanya dengan semakin membahana namun membuat pendengaran menjadi berdengung.


"Heh.... Jadi kau menginginkan nonaku menjadi boneka yang sangat jelek seperti ini?" Kata Minami yang tiba-tiba muncul dibelakang tubuh putra mahkota yang sudah menegang karena tidak dapat mendeteksi aura dari Minami.


"Dan juga, kau telah berani membuat para bayi menderita untuk kau jadikan tumbal keabadian mu dan kau jadikan boneka yang sangat tidak sedap dipandang mata." Lanjut Minami dengan suara yang terdengar menahan amarah.


"Siapa kau?! Semua ini tidak ada hubungannya dengan mu.!!" Katanya dengan menjauh dari Minami.


"Kau bilang tidak ada? Lalu? Bagiamana dengan dengan orang tua para bayi yang kau sakiti itu?" Tanya Minami dengan wajah yang tertutupi tudung jubah hitam yang hanya memperlihatkan hidung dan mulutnya saja.


"Apa perduli mu. Lebih baik kau menyingkir, jangan halangi jalanku.." Usirnya dengan wajah yang memerah karena marah.


"Oh... Kalau begitu, Izinkan aku memberikan sedikit pelajaran pada orang kejam seperti mu yang sudah tidak bisa dianggap sebagai manusia." Kata Minami sambil mengeluarkan belati kembar yang senantiasa menjadi teman dalam setiap pertempuran.


"Kalau kau memiliki kemapuan, silahkan. Dengan senang hati aku akan menjadikanmu salah satu bonekaku bersama nona mu yang cantik itu.." Katanya dengan senyum miring dan menatap Aquila dengan keinginan untuk dijadikan tumbal berikutnya.


Lalu dari tangan sang putra mahkota kekaisaran Zemlya melayang sebuah rune dengan aura kematian yang sangat pekat dan membuat orang-orang yang berada dibawah nya menjadi sesak nafas dan juga berusaha menghindar dari setiap serangan dari para boneka yang terdapat cakar yang tajam dan beracun.

__ADS_1


__ADS_2