
"Apa kau sudah tidak bisa melihat? Sehingga kau tidak melihat apa yang aku lakukan. Ah... Aku lupa, kalau wajahmu masih mencium bumi." Kata Aquila menanggapi kemarahan putra mahkota kekaisaran Zemlya dengan mengejek dan dengan suara yang terdengar malas.
"Kau, apa tujuanmu mencampuri urusanku?" Tanyanya dengan serius meski wajahnya terbenam dalam tanah yang berbatu.
"Bukankah aku sudah mengatakannya, kau telah membaut adikku yang manis menderita. Apa kau mengerti. Dan juga dengan para bayi yang kau korbankan itu." Jawab Aquila dengan suara yang datar namun menusuk.
"Apa perdulimu dengan para bayi itu, itu urusanku bukan urusanmu." Katanya dengan acuh.
"Namun sekarang menjadi urusanku. Kak Nami, aku serahkan dia padamu, terserah apa yang akan kak Nami lakukan."Kata Aquila sambil melangkahkan kakinya menjauhi putra mahkota kekaisaran Zemlya dan menuju tepi aray yang mengurung mereka.
"Baik nona, akan aku lakukan dengan senang hati." Kata Minami dengan penuh kemenangan, sebab ini adalah yang dia inginkan untuk membalaskan dendam dari jiwa para bayi yang mengerubunginya seperti kunang-kunang.
"Apa yang akan kau lakukan pada dewa ini..?!" Teriknya dengan ngeri karena tangan dan kakinya ditarik secara bersamaan dengan keras sehingga menimbulkan rasa sakit pada setiap pergelangan anggota geraknya.
"Tidak ada, hanya menuruti keinginan dari jiwa bayi-bayi yang malang ini. Mereka ingin melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan pada mereka." Jawab Minami dengan tidak perduli.
Namun tidak dengan wajah sang putra mahkota yang terlihat sangat mengerikan dan secara bersamaan terlihat ketakutan. Karena mengingat apa yang dia lakukan dengan ratusan bayi itu yang dia lakukan dengan keji dan kejam.
"Apa kau ingin melakukannya? Maka ambillah dan lakukan sendiri." Kata Minami dengan tiba-tiba dengan sebuah cahaya kecil yang melayang dihadapannya, dan kemudian Minami memberikan belati yang senantiasa tidak lepas dari genggamannya itu pada cahaya kecil dihadapannya.
__ADS_1
Dan dalam hitungan jari tangan, sebuah luka terlihat di pipi sang putra mahkota kekaisaran Zemlya dan mengeluarkan darah hitam yang mengalir dari luka yang baru saja tergores di pipinya itu.
"Apa yang lakukan padaku?!! Lepaskan aku, atau kau akan menerima akibatnya karena telah berani melukai dewa ini..!!!!" Teriaknya dengan nyalang kepada Minami yang masih terdiam ditempatnya.
"Kau masih saja berkata omong kosong disaat nyawamu diujung tanduk. Kalau kau adalah seorang dewa, maka kau tidak akan melakukan hal yang keji nan kejam pada para bayi yang tidak berdosa ini." Kata Minami dengan suara yang bergetar menahan amarah yang sedari tadi disimpan.
"Cih....!!! Kenapa kau sangat perhatian pada para mahluk lemah seperti mereka, lebih baik kau menjadi pengikutku dan kau akan mendapatkan kekuatan tida tanding." Katanya dengan lantang dan sombong.
"Aku tidak menginginkan hal seperti itu. Buat apa sebuah kekuatan namun kau melakukannya dengan cara yang salah. Lihatlah para arwah para bayi ini, mereka sangat menderita karena semua yang telah kau lakukan pada mereka." Kata Minami dengan mata yang sayu meski tertutupi tudung kepalanya.
"Mereka hanya makhluk lemah dari para mahluk rendahan itu, apa bagusnya memelihara mereka yang hanya mengurangi esensi mana di dunia ini." Katanya dengan tidak perduli dan menjujung tinggi keegoisannya yang semakin menyulut Minami untuk melakukan hal yang sangat ia tahan sejak awal dia mendengarkan tangisan para bayi.
"Jadi, kau ingin melenyapkan seluruh nyawa dengan alibi keabadian. Sangat bagus... kini aku semakin yakin untuk membuatmu merasakan apa artinya hidup dan mati.." Ucap Minami dengan membuka penutup kepalanya dan memperlihatkan wajah dan rambutnya yang berbeda warna itu.
Serangan Minami diselimuti element cahaya yang sangat berlawanan dengan element kegelapan yang digunakan secara salah, sehingga membuat sang putra mahkota merasa sangat tersiksa di seluruh tubuhnya dengan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.
"He-hentikan..... To-long.... he-hentikan.... Aghhhh.......!!!!" Teriaknya dengan memohon belas kasihan, namun diabaikan sepenuhnya oleh Minami yang sudah termakan oleh api amarah yang sudah berkobar dengan sangat besar.
Orang-orang menyaksikan kebrutalan Minami merasa kasihan dan iba pada sang putra mahkota kekaisaran Zemlya itu, namun juga merasa puas karena seseorang telah memberikan pelajaran padanya yang sudah membaut mereka merasa sangat ketakutan dan teror selama bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
"To-tolong he..hentikan..... Ja-jangan siksa aku seperti ini..... Bu-bunuh sa-ja aku..... Bunuh saja aku.....!!!!" Teriaknya memohon belas kasihan disela-sela serangan fisik yang dilakukan oleh Minami.
"Terlambat.... sudah terlambat. Aku tidak akan membuatmu mati.... Ha....ha....ha..." Kata Minami yang sudah mulai mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sedangkan Leave hanya bisa diam dan mambantu para korban dari serangan boneka itu dengan sabar.
Aquila hanya menatap datar adegan kekerasan itu seakan dia hanya melihat sebuah film live action setelah menghancurkan aray penghalang, dan sesekali melirik Leave yang membantu orang-orang yang terluka.
Sedangkan Shiro dan yang lainnya hanya bisa diam, namun tidak dengan Adrian yang bergetar ketakutan di balik punggung Aquila. "Semuanya akan baik-baik saja setelah ini. kekaisaran ini akan kembali keadaanya semula bahkan matahari pun akan hadir disini dan biarkan bulan beristirahat di keheningan angkasa. Jadi kamu tidak perlu takut lagi Adrian." Kata Aquila yang menenangkan.
"Benarkah kak, semua akan baik-baik saja?" Tanya Adrian dengan harapan terpancar dari matanya yang sudah merindukan kehangatan sinar matahari.
"Tentu saja, aku kan sudah ada disini. Jadi Matahari akan hadir untuk menghangatkan wilayahmu yang dingin ini Adrian." Kata Helios dengan bangga akan tugasnya itu.
"Ya, aku juga akan membantu. Itu kan salah satu tugasku juga." Kata Shiro dengan tegas.
"Kalian bisa melakukannya setelah kak Nami puas melepaskan amarahanya pada manusia biadab itu untuk mewakili jiwa dari para bayi yang malang itu." Kata Aquila yang masih dipeluk oleh Adrian yang sudah mulai tidak gemetar ketakutan.
"Huh. Kenapa elf itu tidak langsung membunuh manusia itu. Aku sudah sangat bosan." Keluh Vent Leger dengan menyandarkan tubuhnya di batang pohon yang sudah ditutupi butiran salju halus.
"Giel juga, kaki Giel susah sangat sakit." Kata Rugiel sambil memegangi kakinya yang sudah kesemutan.
__ADS_1
Aquila yang mendengarkan keluhan dari Vent Leger dan Rugiel, hanya menghela nafas dan pergi ke mana Minami berada dengan kegilaannya menyerang sang putra mahkota dengan kekuatan fisiknya.
"Kak Nami sudah cukup. Biarkan pihak kekaisaran yang mengurus sisanya." Kata Aquila dengan tenang, seperti sebuah mantra, Minami langsung berhenti dari kegilaannya itu.