
Suasana dalam ruangan itu begitu hening, bahkan mereka yang ada didalam ruangan itu harus menahan aura penindasan nan dingin dari Aquila dan Vent Leger. Minami dan Leave tidak mampu untuk menahan nya, dan mereka berdua memutuskan untuk menunggunya diluar ruangan yang penuh penekanan itu.
Shiro juga tidak menyangka kalau tingkat sihir dari Aquila telah meningkat, sedangkan tingkat sihir Vent Leger berada pada tingkat yang sama tetapi berbeda dan pengalaman. Mereka semua berada ditingkat sihir dewa dan tentu saja bisa menahan meski aura sangat dingin menusuk kulit.
"Bukankah kau sudah tau, kalau aku ini hanyalah manusia. Kenapa kamu menanyakan hal yang tidak penting." Jawab Aquila dengan wajah datar nan dining berbeda sekali saat bersama dengan Shiro dan yang lainnya, tentu saja membuat Vent Leger bingung.
Vent Leger kira kalau manusia yang ada dihadapannya itu lemah, ternyata sangat kuat meski berada ditingkat dewa dengan level yang berbeda. "Aku sudah tau kalau kau itu manusia, yang aku tanya kan siapa kamu."
"Kenapa aku harus menjawabnya, dan siapa aku bukanlah orang yang mudah kau singgung." Kata Aquila dengan wajan datar nan dingin.
"Cih...!!! Apa susahnya tinggal mengatakan saja. Ternyata kamu sama saja dengan manusia yang lain.!" Kata Vent Leger dengan penuh kebencian.
"Heh, kau katakan aku sama? Dari mana? kau mengatakannya dengan sangat percaya diri." Kata Aquila dengan nada menyindir.
"Ya, kau sama dengan yang lain, hanya memanfaatkan para saudaraku untuk memenuhi ambisimu saja dan kemudian setelah kau mencapainya kau akan membuang kami. Bukankah semua manusia itu hanyalah sampah yang harus dimusnahkan."
Aquila langsung mencengkram leher serigala yang ada dihadapannya itu, dia tidak perduli bila akan menyakiti Vent Leger yang notabennya adalah saudara Shiro yang dia anggap sebagai adiknya sendiri termasuk dengan yang lainnya.
"Ya, aku memang memiliki ambisi. Dan aku tidak membutuhkan kekuatan dari mereka atau dari mu, dan aku bukanlah sampah seperti mereka." Kata Aquila dengan nada yang datar tidak ada emosi yang terkandung dalam setiap perkataannya. Seolah bukan dia yang barusan mengucapkannya
"Lantas, kenapa kamu membawa mereka ikut denganmu?"
__ADS_1
"Heh, kau pikir kenapa? tanyakan saja pada mereka." Jawab Aquila, kemudian langsung meleparkan tubuh serigala nan besar itu dihadapan Shiro dan yang lainnya yang berada tidak jauh dari mereka.
Brraakk....!!!
Suara benturan yang cukup jelas dengan sisa debu yang melayang akibat dari benturan itu. Vent Leger tidak menyangka kalau dia akan dilemparkan dengan kejam dan tidak ada perasaan. Shiro dan Rugiel sudah terbiasa dengan kelakuan Aquila yang bila sudah disulut amarahnya namun tidak dengan Helios, Adrian dan Soleil, tentu saja mereka sangat lah terkejut dengan perlakuan yang diterima Vent Leger.
"R-r-rino, a-apa itu k-kak A-aquila?" Tanya Soleil dengan nada yang bergetar ketakutan.
"Iya, lebih tepatnya saat kak Aquila marah." Jawab Shiro berbisik.
"Aku baru tau kalau kak Aquila akan jauh lebih menyeramkan saat marah, lain kali aku tidak akan membuatnya marah." Kata Helios yang mendengarkan bisikan Shiro pada Soleil.
Suara bisikan Shiro juga dapat didengarkan oleh Vent Leger yang masih tersungkur didepan mereka, namun tidak ada yang berani yang menolongnya karena tatapan Aquila penuh dengan peringatan.
Vent Leger langsung berdiri dan menghampiri Shiro yang berdiri tidak jauh darinya dan dibelakangnya bersembunyi semua saudaranya yang lain. "Kenapa kalian semua mengikuti manusia itu, bukankah kalian harus tetap tinggal di wilayah kalian sendiri?"
Pertanyaan yang penuh dengan nada penasaran dan kerinduan yang tersirat, namun ditutupi dengan nada yang dalam dan datar tidak perduli seakan itu bukanlah dari kepentingan Vent Leger.
"Giel hanya ingin mengikuti kak Aquila kemanapun kak Aquila pergi. Bagi Giel, kak Aquila adalah yang terpenting dan Giel tidak ingin berpisah dengan kak Aquila." Kata Rugiel yang berada di samping Shiro.
"Bagiku, kak Aquila itu kehidupanku, tanpa kak Aquila aku tidak bisa bebas seperti sekarang, meski kak Aquila galak tapi sebenarnya dia sangat menyayangi kita dan tidak membeda-bedakan. Bukankah begitu Lio, Adrian?" Kata Soleil dengan penuh keyakinan dalam suara yang tenang dan tulus, dan tentu saja Aquila merasa sangat tersentuh dengan apa yang mereka katakan.
__ADS_1
Hawa dingin yang dikelurkan oleh Aquila mulai menghilang, dan terasa jauh lebih hangat. Aquila juga tidak menyangka kalau dirinya akan dianggap sangat penting bagi mereka dan Aquila kira mereka mengikutinya hanya paksaan bukan karena keinginan dari diri mereka sendiri.
"Kenapa? Kenapa harus manusia yang tidak memiliki perasaan seperinya? Bukankah lebih baik bila kalian tetap berada di wilayah kalian sendiri?" Tanya Vent Leger dengan suara yang penuh ketidak percayaan dengan apa yang dikatakan oleh Rugiel dan Soleil.
"Ini adalah kebenaranya Eger. Kak Aquila tentu saja memiliki perasaan. Bila tidak, kak Aquila mana mungkin mau membantu kita sejauh ini dan menyelamatkanmu tanpa meminta imbalan. Dan kamu sudah tau dengan mata kepalamu sendiri saat kak Aquila jatuh dalam tidur panjangnya." Jawab Shiro.
Vent Leger terdiam dalam ucapan yang dikatakan oleh Shiro, dan memang benar Vent Leger melihat sendiri saat Aquila tidak sadarkan diri dengan wajah pucat, nafas lemah dan dengan detak jantung yang akan berhenti sewaktu-waktu bila ditinggalkan tanpa pengawasan. Dan setelah semua yang dikatakan oleh Shiro, Rugiel, Soleil, Vent Leger mulai mengerti yang dikatakan oleh mereka saat pertanyaan yang sepintas keluar dari mulutnya itu.
Vent Leger berbalik arah menuju Aquila yang masih setia berdiri dengan bersedekap dada dan tentu saja dengan tatapan yang dingin terarah pada serigala abu-abu dengan corak bulu yang unik yang sekarang sedang berjalan kearahnya.
"Siapa nama mu di duniamu dahulu?" Tanya Vent Leger setelah berdiri tepat dihadapan Aquila.
Sebenarnya Aquila pun bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh serigala abu-abu itu yang sangat berbeda dengan apa yang Aquila banyangkan, yaitu nama aslinya sediri saat berada di bumi dulu.
"Dita Andriyani." Jawab Aquila acuh namun dengan wajah yang tegas.
"Nama kak Aquila kenapa hampir sama dengan Adrian?" Tanya Soleil kepada Shiro.
"Ya, kenapa aku juga baru tau nama asli kak Aquila? Rino kau licik sekali tidak memberi tahu kami tentang nama asli kak Aquila." Protes Helios.
"Kalian sendiri yang tidak bertanya, jadi jangan salahkan aku, salahkan diri kalian sendiri yang tidak bertanya." Sergah Shiro yang tidak mau disalahkan.
__ADS_1
Vent Leger tidak menyangka kalau pertanyaannya itu membuat Helios dan yang lainnya menjadi sangat terkejut, sebab ini kali pertama kalau dia lah yang menanyakan nama asli dari sang Messiah yang sudah disamarkan.