Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 130


__ADS_3

Aquila dengan mata yang sembab tidak bisa menahan air matanya untuk mengalir membasahi pipinya, langsung keluar dari rumah es yang dibuat lelah Leave, tidak perduli meski badai masih terus bergolak menghantam tubuhnya.


"Nona..... Mau kemana? Kembalilah.... diluar masih ada badai.....!!!!" Terima Minami dari pintu rumah es dengan panik.


Sedangkan Aquila tidak menghiraukannya dan terus berlari membelah deru angin badai. Aquila tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya pada Leave dan Minami. Sebenarnya Aquila sangat senang mendengar kabar tentang sahabatnya itu namun juga sedih karena takdir yang pahit diberikan padanya dan juga Rin.


Aquila hanya ingin terus berlari dan berlari membawa perasannya yang berkecamuk dilema dan melampiaskannya agar tidak melukai orang-orang yang ada didekatnya. Serta air matanya juga tidak pernah berhenti mengalir meski dibekukan oleh suhu yang dingin.


Tanpa disadari oleh Aquila, dia telah berlari sangat jauh dari tempat yang dia gunakan untuk beristirahat. Langkah kakinya pun mulai melambat, dan Aquila pun langsung terjatuh ditumpukan salju yang tebal namun dingin menusuk kulit wajah dan tangannya.


"Kenapa? Kenapa harus begini? Kenapa aku harus bertemu dengannya sebagai musuh?! Kenapa semua ini terjadi......!!!" Tanya Aquila bertubi-tubi dan tidak percaya dengan yang akan dia hadapi dimasa yang akan datang.


"Rin..... Aku sangat ingin bertemu denganmu.. Hiks... Aku ingin kau tetap menjadi Rin yang aku kenal... Hiks.. Aku sangat merindukanmu Rin...Hiks....." Isak Aquila dengan lirih dan tangannya mengepal salju yang dingin itu dengan erat untuk menahan dirinya agar tidak lepas kendali akan dirinya sendiri.


"Ayah... Ibu... Apa yang harus aku lakukan...Hiks... aku tidak mau bila harus seperti ini... hiks... Aku hanya ingin menyelamatkan saudara Shiro... Apa yang harus aku lakukan.....?" Ratap Aquila dengan memandangi langit yang masih tertutupi oleh angin badai yang pekat.


"Rin...!!! Aku harap bisa untuk bertemu dengan mu... Hiks... Aku ingin bertemu denganmu meski hanya sekali....!!" Kata Aquila dengan suara lirih namun penuh dengan permohonan.


"Hei kau....!! Kenapa malah menangis disini. Pulanglah, ini bukan tepat untuk orang lemah seperti mu..!!" Ucap seseorang yang berdiri dibelakang tubuh Aquila dengan zirah yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya kecuali kedua matanya.


Aquila yang mendengar teguran merasa sangat terpukul, sebab dia berada disini untuk melampiaskan rasa sedih, kecewa, dan rindu untuk sahabatnya namun ditemukan oleh orang lain dengan sangat menyedihkan. Tentu saja membuat Aquila langsung menghapus sisa air matanya yang membeku dengan sangat kasar dan menghadap orang itu dengan raut wajah datar dan dingin seperti es.


"Wow... Tenanglah... Aku Tidak akan mencelamu." Ucap Orang yang seluruh tubuhnya dibalut dengan zirah dengan mengangkat tangannya.

__ADS_1


"...." Aquila tidak menjawab, namun masih mencerna suara yang sangat mirip dengan Rin meski wajahnya tidak terlihat.


"Siapa kau?" Tanya Aquila dengan acuh.


"Cih... Kenapa orang-orang didunia ini tidak memiliki sopan santun. Huh.. Rasanya aku ingin pulang dan merawat taman Dita dirumahnya." Kata nya dengan nada yang tidak suka.


"Dasar kaisar keparat. Kenapa dia malah menyuruhku untuk mencari hewan buas yang dia anggap pilar dunia yang sudah dia kendalikan. Kenapa tidak dia sendiri mencarinya." Umpatnya sambil meninggalkan Aquila yang masih melamun dalam ketidak percayaan, sebab orang yang Aquila ingin temui tepat berada didepan matanya.


"Rin... kau kah itu....?" Tanya Aquila dengan suara yang penuh akan kerinduan.


"Kau siapa! Berani sekali memanggilku dengan nama itu..!!!" Jawab nya dengan suara yang marah, sebab nama itu hanya dikatakan oleh orang yang sangat dia rindukan.


"Kau tidak mengenalku Rin?" Tanya Aquila dengan wajah yang sedih.


"Lalu, apa kah kau telah melupakan Dita Andriyani?" Tanya Aquila dengan senyum miris. Namun, dalam sekejap Rin telah dihadapannya dan mencengkeram kerah jubahnya dengan tangan bergetar dengan wajah yang tegang.


"D-dari mana kau tau nama itu?!" Tanya Rin dengan wajah yang tegang.


"Laurena Rintania. Gadis tomboi namun sangat cengeng bila dihadapan Dita Andriyani? Aku tau semuanya tentang mu sampai hal yang memalukan tentang dirimu." Jawab Aquila dengan tenang, namun tidak dengan Rin yang menatap tajam orang yang ada dicengkeramnya itu.


"Jangan kau sebut namaku atau nama sahabatku dengan mulutmu itu. Atau kau akan mati." Kata Rin dengan suara yang menahan keinginannya untuk menghancurkan Aquila.


"Maka lakukanlah, dengan senang hati aku mati ditangan sahabatku sendiri, dari pada aku harus melawan mu saat perang nanti." Kata Aquila dengan senyum pasrah.

__ADS_1


"Hentikan....!!" Teriak Rin dengan menghempaskan tubuh Aquila di tumpukan salju yang tebal.


BUUMMM...


Tumpukan salju yang tebal kini telah berubah menjadi tanah yang berlubang, itu menandakan kalau kekuatan yang Rin gunakan bukanlah sesuatu untuk bermain.


"Uhuk.... Lakukan lah Rin. Aku rela mati ditanganmu asalkan aku bisa melihatmu untuk terakhir kalinya." Kata Aquila dengan darah yang keluar dari mulutnya.


"Hentikan... Jangan kau panggil aku dengan nama itu...!!!" Ucap Rin dengan mengepalkan tangannya dengan keras dan seketika langsung mengarahkan nya pada tubuh Aquila.


"Setidaknya, biarkan aku melihat senyum mu untuk terakhir kalinya Rin dari sahabat mu ini, Dita." Ucap Aquila dengan tersenyum lemah dengan air mata yang mengalir.


Kepalan tangan Rin yang hampir menyentuh tubuh Aquila berhenti dan cengkraman tangan Rin pun lepas dan tubuh Aquila pun jatuh dengan lemah dengan terbatuk serta seteguk darah keluar dari mulutnya.


"Ti-tidak mu-mungkin....!! Ti-tidak mungkin kau D-dita. Dita telah lama meninggalkan ku dan telah menyusul paman dan bibi. Kau jangan membodohi ku...!!" Kata Rin dengan wajah sedih yang tersorot dari matanya dan meninju tanah di samping tubuh Aquila.


Dan Rin pun akhirnya menangis dengan senyap namun air matanya terus berjatuhan dari matanya, sebab kerinduannya dengan sahabatnya itu sudah tidak dapat dibendung lagi.


"Kalau kau adalah Dita, la-lalu kenapa kau meninggalkan aku, ha..?!" Tanya Rin dengan sedikit menyentak.


"Maafkan aku Rin, aku hanya ingin membantu dirinya yang sudah aku anggap seperti adikku. Tentu aku tidak ingin membuat dirimu semakin tertekan, sehingga aku tidak menceritakan semuanya padamu." Jawab Aquila dengan cepat dengan raut wajah yang tertekan.


"Lalu, kenapa kau tidak jujur saja pada ku waktu itu, dan kenapa kamu menyimpannya sendiri, apa aku bukan sahabatmu Dita?!" Kata Rin dengan menyentak.

__ADS_1


"Dan jika kau adalah Dita, kenapa tampilan mu sekarang sangat sangat berbeda. aku sama sekali tidak mengenali mu." Kata Rin kembali dengan tajam.


__ADS_2