
"Aaaggghhhhhh, benar-benar sial...! Jika bukan kejadian tadi malam, aku tidak terlambat bekerja" Dita sedari mengomel dalam benaknya akibat bangun kesiangan.
Sambil terus berjalan cepatnya yang tidak memperlihatkan sekitarnya, tanpa sengaja Dita menabrak seseorang yang berjalan berlawan arah dengannya.
Brukk..!!!
Dita terjatuh dengan tidak baiknya. akibat tabrakan tadi.
"Hei, kalau jalan lihat-lihat...!" Omel Dita yang dalam suasana hati yang buruk itu.
Sedangkan orang yang menabrak Dita, hanya menatap Dita dengan acuh dan melanjutkan perjalannya tadi. Dita yang mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan tersebut hanya mendecih tidak suka dan langsung melanjutkan perjalannya ke tempat toko Dita bekerja.
Sesampainya di toko, ternyata belum membuka tokonya sama sekali. lebih tepatnya Rin baru sampai di tokonya. Rin yang melihat tampilan Dita yang tidak rapih sama sekali, membuat Rin mengerutkan dahinya dan memandang Dita aneh.
"Ada apa dengan pandangan mu itu?" tanya Dita ketus.
"Ada apa tampilan mu itu, seperti kena angin tornado saja?" Rin berbalik bertanya.
"Memang ada masalah dengan tampilan ku ha?" Dita menjawab dengan sedikit tersinggung.
"Kamu ingin tau seperti apa ya? " Tanya Rin menggoda. Dita hanya memandang Rin tajam.
"Hei, jangan menatapku seperti itu." Rin merasa risih ditatap Dita.
" Lebih baik masuk kedalam, dan lihat tapilan mu sendiri, seperti Mak lampir yang kesasar."
"Bagaimana aku mau masuk nona, sedangkan pintu saja belum kamu buka." Dita sambil memegang gagang pintu yang masih terkunci.
Rin hanya menampilkan senyum menjengkelkan yang membuat Dita kesal.
Kemudian Rin langsung membuka tokonya. tanpa basa-basi, Dita langsung menuju ke kamar mandi yang terletak di bagian belakang ruangan tersebut.
Dita yang langsung berjalan kebelakang, membuat Rin hanya bisa menggerutu dan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. sebab melihat kelakuan sahabatnya yang menurutnya aneh. Melihat Dita yang biasanya selalu rapih dan tepat waktu, kini terlambat dengan tampilan acak-acakan.
"Aghhhhhh.....!!!!!"
Rin tersentak mendengarkan suara teriakan Dita yang sangat keras. Rin langsung menuju kamar mandi dan meninggalkan pekerjaannya.
"Heiii, Dita....! Ada apa?" Rin sambil menggedor-gedor pintu tersebut dengan panik.
__ADS_1
"Tidak ada, Rin. Aku hanya terkejut melihat kecoa didinding."
"Dita, kamu jangan berbohong. mana mungkin kamu takut kecoa. yang ada kamu yang menakuti kecoanya. " kata Rin curiga.
"Lanjutkan saja merapihkan penampilan mu, aku mau menata barang-barang dulu." Lanjut Rin sambil berlalu meninggalkan Dita yang di kamar mandi.
Dita hanya terkejut saja akibat penampilannya yang dibilang sangat-sangat berantakan. Selain itu, terdapat tanda aneh berbentuk bulan sabit yang berada di keningnya dan kedua matanya yang sama dengan mata kucing putih yang ditemukannya tadi malam.
Saat semuanya telah rapih, Dita langsung menuju ke depan dan langsung melakukan pekerjaannya sebagai karyawan.
"Cepat sekali kamu Ta, kalau aku pasti lama." Tutur Rin yang takjub dengan kecepatan Dita.
"Kenapa harus lama, nanti kamu semua yang membereskan semuanya." Dita merasa tidak enak bila dia tidak melakukan pekerjaannya dengan baik.
"Kamu selalu saja begitu, santai saja ya." kata Rin sambil memegang bahu Dita.
"Walaupun begitu, tetep saja Rin. Aku harus melakukan yang terbaik untuk mu." kata Dita penuh semangat.
"Terserah mu, tapi jangan terlalu memaksakan diri oke?" Dita hanya tersenyum dan langsung melakukan pekerjaannya yang setengahnya sudah diselesaikan oleh Rin.
Dita merasa sangat diperhatikan oleh Rin, sebab Rin lah yang selalu mengerti yang Dita rasakan sejak dulu. Semenjak meninggalnya orang tua Dita, Rin lah yang selalu menemani Dita disaat senang atau susah.
Setelah selesai Dita langsung menuju meja kasir dimana Rin tengah merapikan barang-barang yang ada.
Biasanya Dita selalu selesai menyusun barang-barang bila Rin selesai membersihkan meja kasir.
"Cepat dari mana Rin, yang setengahnya sudah kamu tata." Dita membantah yang Rin katakan.
"Ta, tumben kamu telat. Biasanya kamu duluan Datang kerumahku?" Tanya Rin penuh selidik.
"Hanya ada masalah kecil tadi malem Rin, tapi cukup membuatku merinding dan ketakutan." jelas Dita.
"Masalah kecil?" Rin merasa penasaran.
"Ya. Tapi tidak masalah, juga hal itu sudah berlalu."
"Ceritakan lah Ta, siapa tau ada solusinya." Kata Rin masih ingin tau masalah yang menimpa sahabatnya tersebut.
Ting...
__ADS_1
Suara lonceng yang dipasang di pintu membuat Dita dan Rin langsung memfokuskan diri dari asal suara lonceng tersebut.
"Selamat datang, dan apa yang bisa saya bantu?" Tanya Dita dan Rin bersamaan dan menampilkan senyum yang ramah.
Dita mengerutkan dahi melihat warna suram yang mengrlilingi seorang pemuda yang masuk ke dalam toko Rin. s Seakan-akan mengalami keputusasaan yang sangat mendalam.
Kemudian Dita melihat Rin, tapi tidak melihat warna yang serupa dengan pemuda tadi.
"Ada apa? Kok kamu pucat gitu Ta?" Tanya Rin khawatir melihat sahabatnya itu.
"Tidak, aku baik-baik saja." Kata Dita meyakinkan Rin.
"Kalau tidak merasa enak badan, katakan saja. Jangan memaksakan diri Ta." Rin masih menghawatirkan Dita yang pucat.
"Benar, aku masih sehat. masih kuat mengangkat galon ini." Kata Dita meyakinkan Rin sambil menggendong galon dengan air penuh.
"Baiklah, tapi bila kamu tidak enak badan jangan paksakan diri, istirahat saja." Rin sambil mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Dita yang aneh itu.
Dan pemuda tadi selesai berbelanja dan meletakkan barang-barang yang akan dibelinya.
Betapa terkejutnya Dita, melihat barang-barang yang dibeli pemuda tadi. Barang-barang tersebut berisikan bahan-bahan yang mengandung racun dan sebuah pisau kecil.
"Apa anda yakin membeli barang-barang ini?" Tanya Dita tidak yakin sambil melirik pemuda tadi.
Pemuda tersebut hanya tersenyum menampilkan wajah yang pucat dan mata yang merah.
Melihat hal tersebut, Dita hanya menghela nafas dan langsung memasukan ya kedalam kantong plastik.
"Semuanya 50.000 ." Kata Dita sambil menyerahkan barang yang dibeli pemuda tadi.
Kemudian pemuda tadi memberikn uang dan langsung pergi meninggalkan toko tersebut.
"Rin, apa kamu gak merasakannya?" Tanya Dita yang menatap Rin.
"Tidak. memang ada apa Ta?" Tanya Rin sambil memegang muka Dita yang semakin pucat.
"Wajahmu semakin pucat saja, padahal tadi baik-baik saja. apa kamu sakit?" Tanya Rin yang semakin khawatir.
"Aku baik-baik saja, mungkin belum minum. Ya! belum minum." Dita sambil tertawa aneh dan berjalan menuju tempat air minum yang berada di ruangan lain.
__ADS_1
"Dasar aneh, biasanya kamu tidak seaneh ini Ta." Rin hanya mengeluarkan kata-kata tersebut dalam benaknya saja. Yang melihat Dita semakin aneh semenjak telat berangkat bekerja tadi.
'Apa hanya aku saja yang dapat melihatnya?' Tanya Dita dalam benaknya yang kacau akibat aura yang di keluarkan oleh pemuda tadi yang menampilkan keputusasaan yang sangat dalam.