Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 39


__ADS_3

Mereka bertiga turun seperti kupu-kupu yang menginjak kelopak bunga yang mekar, permukaan danau yang tenang menimbulkan riak kecil seperti capung mencium air tenang. Angin Musim semi bertiup dengan sejuk mengantarkan kelopak bunga dari tangkainya ke tanah dengan lembut.


Rambut hitam malam Aquila berkibar seperti tirai sutra yang tergantung di jendela, langkah kaki ringan memijak permukaan danau yang tenang. Shiro dan Rugiel berjalan beriringan dengan riang disampingnya Messiah seperti anak itik mandarin yang mengikuti induknya.


Ditepi danau, mereka bertiga ditunggu oleh Minami dan Leave, tidak tertinggal juga dengan rubah api yang duduk manis ditepian danau dengan bunga Bakung yang bergoyang ditiup angin sejuk.


"Apa kalian menunggu kami?" Tanya Rugiel.


"Tentu tuan." Jawab rubah api.


"Hari sudah siang, lebih baik kita beristirahat dulu. Setelah itu kita semua akan berangkat kemana tempat tinggal kalian." Kata Aquila sambil melangkah kakinya sambil meletakkan tangannya di belakang kepalanya.


"Baik yang mulia." Ucap rubah api penuh hormat, namun tatapan tajam yang dia dapatkan.


Wajah rubah api seakan, menanyakan apa salahku? Namun mereka yang mengikuti Aquila hanya menggelengkan kepala, seakan berkata aku tidak tau.


"Tuan, aku rasa anda mengucapkan hal yang sama, dan membuat yang mulia Messiah marah besar tadi malam." Bisik magical beast yang seperti berang-berang namun dengan ekor ikan koi yang berwarna jingga cerah.


"Benarkah, bukankah bangsa manusia selalu suka dipanggil dengan hormat?" Tanya Rubah api dengan wajah yang penuh tanda tanya dan tidak mengerti dengan Messiah mereka.


"Aduh tuan, apa anda melupakan yang nona Messiah katakan?" Rubah api mengelengkan kepalanya tanda bawa dia melupakan atau tidak ingat pembicaraan tadi malam.


"Nona Messiah tidak suka dipanggil yang mulia, karena menurutnya secara tidak langsung anda menyatakan kalau nona Messiah adalah sama dengan manusia yang lain yang suka membuat kacau." Ucap magical beast dengan bentuk katak ungu yang menandakan kalau dia adalah katak yang beracun.


"Aahhhhh..... apa yang sudah aku lakukan...." Teriak rubah api frustasi.

__ADS_1


"Tuan, lebih baik meminta maaf kepada nona Messiah, sebelum nona semakin marah dan tidak mau membantu kita semua." Saran berang-berang ekor ikan koi yang disetujui juga oleh semua magical beast dan hewan buas.


Dengan langkah lunglai dan penuh keputusasaan rubah api menghampiri orang yang telah dia singgung sebelumnya dan kemudian bersujud dan tidak berani mengangkat wajahnya.


Aquila tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh rubah api, ia lebih memilih memakan buah yang selalu ada didalam kalung dimensinya yang sebelumya telah diisi di hutan Catarino dengan bantuan magical beast yang hidup di hutan sebelum meninggalkan mereka.


"Ada apa tuan?" Tanya Leave sambil mengahapiri rubah api yang terlihat putus asa itu.


"Nona Messiah, maafkan atas kesalahan hamba ini. Nona Messiah boleh menghukum hamba sesuka hati nona, tapi tolong jangan tinggalkan kami dalam keputusasaan yang telah kami tanggung selama ini." Ucap rubah api dengan penuh iba dan penyesalan.


"Aku tidak akan menghukum siapapun, merepotkan dan membuang waktuku saja." Kata Aquila acuh.


"Kalau kamu sudah mengetahui kesalahanmu. kembalilah ke tempatmu dan setelah matahari tergelincir dari cakrawala, kamu akan memimpin ketempat mu yang kamu katakan sebelumnya." Lalu Aquila kembali menggigit buah yang ada ditangannya.


"Bagaiman, apa nona Messiah memaafkanmu?" Tanya Katak ungu yang bertengger di batang bunga Bakung ungu dengan penasaran.


"Nona memaafkan ku, dan nona Messiah akan pergi ke hutan Roa setelah matahari bergeser dari cakrawala." Kata rubah api dengan semangat yang membara berbeda dengan sebelumnya yang terlihat putus asa.


"Benarkah?" teriak magical beast yang lain dengan antusias.


"Benar, lebih baik kita istirahat dan mengumpulkan energi. Kita akan merebut kembali rumah kita...!" Teriak rubah api, semangatnya seperti api kecil ditumpukan kayu besar nan kering dan dengan bantuan angin membuat api itu membesar.


Suara gaduh para magical beast dan hewan buas sangatlah berisik, membuat Shiro dan Rugiel tidak bisa tidur siang dipangkuan Aquila. Aquila mengabaikan suara gaduh, Minami dan Leave masih sibuk dengan kegiatan mereka.


"Mereka sangat berisik, telingaku sangat sakit." Keluh Shiro sambil menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Waaaa..... aku tidak bisa tidur hiks." Rugiel sambil terisak.


"Giel cengeng, cuma suara berisik seperti ini kamu langsung menagis." Ejek Shiro sambil terus menutupi telinganya.


"Kakak, lihat Rino hiks, dia mengejekku." Adu Rugiel tidak terima dibilang cengeng oleh Shiro.


Aquila ingin tertawa akibat tingkahnya, namun tidak tega melihat Rugiel yang mengais ambil mengusap air matanya dengan punggung tangan. Alhasil ingus yang mengalir ikut tersapu punggung tangan dan menodai pipinya yang cabi dengan semburat merah.


"Sudah tidak apa, abaikan kakakmu itu. Ayo ikut kakak." kata Aquila sambil mengacak-acak rambut kuning emas milik Rugiel.


"Kak Aquila, aku ikut. Jangan tinggalkan aku sendiri." Shiro mengucapkan dengan nada dramatis.


"Tidak. Aku hanya ingin kakak bersamaku saja. Aku tidak mau kamu juga ikut Rino." Tolak Rugiel sambil memeluk kaki Aquila dengan kencang, percikan listrik seakan keluar dari kedua mata anak yang tengah merebutkan mainan.


Kerutan di dahi Aquila mulai terlihat dan mulai kesal dengan kedua anak remaja bertengkar yang telah ia anggap sebagai adiknya itu. "Giel curang. Kak Aquila adalah kakaku bukan hanya kakakmu saja." Shiro tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Rugiel.


"Tidak, kak Aquila sekarang milikku. Rino, kamu sudah terlalu lama dengan kak Aquila. Sekarang waktunya kamu memberikan kak Aquila kepadaku." Kata Ruguel kekeh dengan apa yang dia inginkan.


"Kak Aquila milikku juga, aku hanya ingin ikut. Kenapa Giel menjadi tidak adil." Mata Shiro mulai memerah dan beberap bulir air mata mulai mengalir dari matanya yang indah.


"Rino, kamu juga tidak adil. Selama ini kamu selalu bersama kak Aquila dan dimanja. sekarang adalah giliran Giel dengan kak Aquila."


"Kalian berdua, bisakah tidak bertengkar?" Lerai aquila, namun diabaikan oleh kedua anak itu, dan seakan ucapan Aquila hanya lah angin lalu.


Kesabaran Aquila sudah menipis, Shiro dan Rugiel masih terus pertengkaran dan tidak ada mau yang mengalah. Kesabaran Aquila sudah habis, kedua saudara itu tidak berhenti dalam waktu dekat, apa yang akan terjadi kemudian?

__ADS_1


__ADS_2