Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 43


__ADS_3

Perjamuan makan malam telah usai, gelap malam menghiasi sudut pandang mata memandang. Para light elf kembali kerumah pohon mereka, magical beast dan hewan buas tidur dilantai hutan dengan rumput sebagai permadani yang hangat.


Buaian angin malam seperti alunan lagu pengantar tidur yang indah. Suara jangkrik sudah lama menghilang karena kelelahan menyanyikan lagu indah mereka, Kunang-kunang masih berterbangan untuk menerangi malam yang tenang dan menemani sampai pagi menjelang dan mengantikan mereka dengan cahaya matahari yang muncul malu-malu dengan cahaya yang menerobos dari balik pepohonan yang lebat seperti tirai.


Kicauan burung mulai terdengar dari segala sudut hutan, Kuncup bunga kini mulai bermekaran menampilkan keindahan nya untuk menyambut pagi yang cerah. Dengungan lebah hutan mulai terdengar seperti simfoni pengiring kicauan burung.


Kelinci hutan mulai keluar dari sarang mereka yang hangat dan mencari makan untuk anak-anak imut mereka. Rusa liar keluar dari persembunyian mereka, lalu menuju sungai untuk minum dan bercermin di aliran sungai yang tenang.


Predator hutan masih bermalas-malasan seperti kucing besar yang bersandar didahan pohon yang dipenuhi dengan tanaman paku ekor kuda yang menjuntai kebawah untuk menyamarkan sang predator dari si mangsa yang malang.


Embun menempel di setiap daun yang tersentuh oleh kabut pagi musim semi yang dingin namun menyejukkan. Permukaan sungai masih mengeluarkan uap pagi dan terus naik keatas lalu hembusan angin mengantarkan sang uap kelangit untuk dijadikan awan yang baru.


Para light elf mulai bangun, dan memulai kegiatan yang sudah dijadwalkan, seperti menyiram sayuran, berburu, membuat rumah atau merajut kain untuk dijadikan pakaian. Magical beast dan hewan buas sudah terbangun dengan alarm alami mereka, Aquila dan rombongannya sudah siap untuk meninggalkan tempat tinggal light elf dan pergi kehutan Roa yang masih jauh dari jangkauan mereka.


"Hiks... nona Minami, jangan pergi, tetaplah disini.... hiks" Seorang gadis elf kecil menangis tidak rela ditinggal oleh Minami yang akan pergi.


"Lalu siapa yang akan menceritakan dongeng bila nona pergi." Kata seorang anak laki-laki.


"Aku tidak mau berpisah dengan nona Minami..... hiks." Ucap gadis kecil sambil berlari dan kemudian memeluk Minami seakan tidak rela.

__ADS_1


"Tenanglah, kakak akan kembali lagi. Jadi jangan bersedih, kakak akan menceritakan dongeng saat kakak kembali nanti." Kata Minami menghibur gadis kecil yang memeluknya dan membelai rambut hijau itu dengan lembut.


"Nona janji?" Tanya nya dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Kakak berjanji." Ucap Minami sambil tersenyum lembut.


"Sudah saatnya kami akan melanjutkan perjalanan kami, jaga diri kalian dan jangan sampai terlihat oleh mereka." Kata Aquila memberi salam perpisahan dan nasehat.


"Terimakasih nona, kami semua para light elf tidak akan membuat mereka mengetahui kami." Kata Lino dengan mantap.


"Samapi jumpa. Ayo kita lanjutkan." Teriakan dari para magical beast dan hewan buas bersahut lalu mulai melangkahkan kaki mereka meninggalkan tempat itu.


"Hati-hati nona, sampai jumpa kembali.!" Teriakan seluruh light elf sambil melambaikan tangan mereka melepas kepergian sang Messiah.


Rubah api sebagai pemimpin dalam rombongan dan disusul dengan gajah obsidaian dan rusa kristal Leave , sedangkan magical beast dan hewan buas berjalan dengan santai dengan hewan yang berukuran besar mengangkut para hewan yang kecil dan lemah.


perjalanan mereka berlanjut sehari keluar dari hutan dark elf, lalu mereka semua beristirahat dimalam hari diperbatasan hutan dark elf dengan light elf. Pagi menjelang mereka semua kembali melanjutkan perjalan dan mulai menyusuri hutan light elf yang tidak segelap hutan dark elf.


Pepohonan yang tumbuh didalam hutan itu hampir sama dengan hutan Catarino hanya saja tidak ada aroma yang harum dari pohon itu. Hanya cahaya lembut yang muncul dari bunga yang mekar. Hewan-hewan kecil dari rombongan itu mulai bersemangat termasuk juga katak ungu yang melihat bunga argasoka ungu yang memiliki racun yang tinggi dan sumber utama racun di kulitnya yang ungu itu.

__ADS_1


Terdapat beberapa bunga argasoka yang lain dan memiliki warna yang berbeda namun dengan fungsi yang berbeda. Akhirnya rombongan itu memutuskan untuk beristirahat ditempat itu.


Burung Kolibri terbang kearah bunga hydrangea yang berwarna biru yang sama dengan warna bulu burung Kolibri itu, begitu juga dengan burung kecil yang lain mulai melakukan aktifitas mereka untuk mengisi energi mereka yang terkuras dalam beberapa hari terakhir.


Aquila mulai berkeliling untuk melihat bunga yang baru saja dia lihat disekitarnya, dan sementara Leave dan Minami masih beristirahat dalam kelompok itu. Dan seperti biasa, Shiro dan Rugiel tidur panjang untuk menyesuaikan lingkungan yang mereka singgahi karena bukan wilayah mereka. Hal ini berlaku untuk semua pilar bila masuk ke wilayah pilar yang lain.


Saat Aquila asik melihat bunga yang baru dia lihat dan dengan cermat menyentuh dan menghirup aroma yang dihasilkan meskipun samar, Aquila masih bisa merasakan bau harum dari setiap bunga yang ia hirup.


Tongkat kecil didalam zirah Aquila bergerak seakan ada yang menarik tingkat kecil itu, Aquila mengeluarkan tingkat miliknya dan tongkat kecil itu mengarah kesemak-semak bunga yang baru saja Aquila amati.


"Apa yang ada di sana?" Aquila penasaran dengan apa yang ada dibalik semak bunga yang menarik reaksi tongkat pemberian Dewi Callista itu.


Aquila mengulurkan tangannya untuk membuka semak bunga yang rimbun itu. Setelah dibuka, tidak terdapat apa-apa namun tongkat kecil Aquila mulai menunjukkan reaksinya kembali.


Aquila mengikuti arah yang ditunjuk oleh tingkat kecilnya, sekian lama berjalan tongkat kecil itu berdiri dibawah pohon yang sangat besar dengan akar yang menjuntai, daun kering berserakan dibawahnya serta aroma samar yang memasuki hidung Aquila.


Aquila mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang ada diatasnya itu, namun yang dilihatnya hanyalah lumut tebal dengan beberapa tumbuhan paku yang menjuntai kebawah. Beberapa burung kecil namun dengan dua ekor yang panjang menjuntai.


Burung itu terbang sebentar lalu kembali lagi ketempat dia bertengger sebelumnya, Aquila mencium aroma wangi yang samar-samar kembali. Namun sumber wewangian itu tidak terlihat, tapi burung ekor panjang itu terus terbang dan kembali lagi didahan yang dia hinggapi sebelumya.

__ADS_1


Aquila penasaran dengan tingkah laku burung cantik itu, dan juga tongkat kecilnya terus menghadap keatas seakan ada sesuatu di pohon itu. Aquila menggunakan sihir anginnya untuk mencapai dimana burung-burung itu hinggap.


Setelah sampai ditujuannya, ternyata hanyalah sepasang burung kecil dengan ekor panjang yang sangat cantik dan ditempat itu terdapat bunga anggrek bulan warna biru dan harum yang samar-samar sebelumnya berasal dari bunga itu.


__ADS_2