
Sarapan telah usai, Aquila mereka yang sebelumnya berada didalam tenda keluar untuk menghirup udara pagi yang sejuk di musim panas dengan matahari bersinar cerah.
Laba-laba kecil berwarna ungu gelap menempel dipundak seorang gadis bersama dengan dua burung kecil berwarna jingga kemerahan yang berkicau merdu, membuat suasana pagi menjadi hidup dengan suara kicauan kedua burung cantik.
Gadis dengan tanduk rusa berjalan dengan anggun disamping seorang gadis yang menggendong dua hewan yang berbeda warna dan bentuk. Dan tentu saja dengan seorang gadis elf yang selalu menutupi rambutnya dengan tudung hitam.
"Itu nona Messiah!" Seru seorang pria paruh baya yang sedang berdiri diantara pohon yang baru disirami.
Orang-orang yang berada disekitarnya yang mendengar suara teriakan diantara mereka langsung berdiri dan langsung berlari kecil untuk menghadap orang yang telah membebaskan mereka semua dari eksploitasi yang sangat kejam.
Mereka semua berbondong-bondong menghampiri Aquila dan rombongannya dan kemudian bersujud dengan sangat khidmad. Baik pria atau wanita langsung melakukan hal yang serupa.
Wajah Aquila seketika langsung menjadi dingin dan tidak suka dengan kelakuan mereka, seakan dirinya adalah seorang yang gila kehormatan. Leave dan Mianami yang melihat perubahan wajah nonanya langsung mengerti.
"Harap kalian semua berdiri." Kata Minami dengan suara yang keras. Mereka yang mendengarkan perintah dari Minami langsung terbangun dari sujud mereka dan duduk ditempat.
"Kalian jangan merendahkan diri kalian dihadapan kami, terutama nona Aquila. Hal itu membuat nona sangat tidak nyaman." Ucap Leave mewakili Aquila yang terlihat enggan untuk menegur mereka semua.
"Tapi, kami semua tidak layak, dan kami hanyalah budak yang terikat." Kata seorang diantara kerumunan itu.
"Apa kalian bukan manusia?" Tanya Aquila dengan wajah yang datar miliknya yang membuat siapapun yang melihatnya merasa sangat menyeramkan.
"Ka-kami memang manusia n-nona. Ta-tapi kami semua telah kehilangan kebebasan kami." ucapnya dengan suara yang gugup.
"Kata siapa kalian tidak memiliki kebebasan. Kalian memiliki kebebasan itu." Kata Aquila dengan acuh.
"Kalian bisa tinggal disini dan merawan pohon yang baru kalian tanam,dan kalian juga bisa meninggali tempat ini dan bercocok tanam untuk kebutuhan kalian. Dan tentu saja kalian harus akur dengan para magical beast dan hewan buas dan saling melindungi dan tidak menyakiti." Tambah Aquila dan mengarahkan matanya kepada rubah api dan gajah obsidian yang berdiri tidak jauh dari mereka berdiri.
"Kalian semua, mendengarkan apa yang aku katakan?" Kata Aquila dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Kami mendengarkan nona, dan kami sangat berterimakasih telah mengizinkan kami untuk tinggal disini." Ucap mereka semua dengan serempak.
"Apakah nona akan melanjutkan perjalan untuk pergi ke kerajaan Zuwei?" Tanya rubah api.
"Aku sudah tidak dapat menunda lagi. Aku khawatir mereka akan membuat pilar yang lain menderita dengan siksaan karena hawa nafsu akan harta." Ucap Aquila dengan nada yang berat.
"Saya mengerti nona, lalu apa tugas yang akan nona berikan pada saya?" Tanya rubah api.
"Tugasmu hanya melindungi hutan ini, dan usahakan para manusia yang ingin merusak hutan ini dapat kalian usir dan tanpa membunuh. Jika mereka memaksa, maka terserah mu mau kau apakan." Ucap Aquila dengan acuh dan wajah yang datar seakan tidak perduli.
"Kami akan laksanakan nona." Ucap rubah api dan gajah obsidian dengan serempak.
"Kalau begitu, aku titip mereka. Dan sampai berjumpa lagi." Ucap Aquila lalu berjalan kearah barat daya untuk menuju negeri Zuwei yang penuh dengan harta benda dengan gurun pasir yang sangat luas.
Selang beberapa jam perjalanan melalui hutan Roa yang sebelumnya gundul tanpa pohon dan hanya semak belukar berduri yang menghiasi setiap sudut dan terdapat bibit pohon yang baru ditanam dan sudah mulai membesar. Tentu saja semua itu berkat Leave yang sangat dekat dengan alam hijau penuh pepohonan.
Akhirnya mereka sampai dibibir gurun dan hutan Roa. Leave berubah menjadi rusa kristal dan diikuti dengan laba-laba Archane agar mempermudahkan perjalanan mereka yang panjang mengarungi gurun yang luas seperti lautan emas yang berkilau di bawah sinar matahari.
Mereka semua telah mengarungi gurun yang tandus selama setengah hari tanpa beristirahat, namun belum menemukan orang yang melintasi kawasan gurun itu dan hanya beberapa hewan reptil kecil yang terlihat.
Akhirnya mereka menemukan oase yang dikelilingi oleh pohon palem dan kurma yang tumbuh subur dibibir oase yang jernih. Hari pun sudah akan menjelang malam dengan bertanda tenggelamnya matahari dibalik gundukan pasir yang tinggi bersebrangan dengan oase yang tenang.
"Nona, kita beristirahat dan bermalam disini, dan besok kita melanjutkan lagi." Kata Mianmi lalu turun dari punggung laba-laba Archane.
"Tidak masalah. Tempatnya cukup nyaman untuk bermalam ditempat ini." Ucap Aquila dan kemudian turun dari punggung Leave.
"kak Aquila, aku merasakan hal yang buruk akan menghampiri kita." Kata Shiro dengan telinganya yang terus bergerak.
"Kira-kira siapa tamu tidak diundang itu Shiro?" Tanya Aquila penasaran. Namun Minami sudah mengeluarkan belati kembarnya untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
"Apa aku harus memeriksanya nona?" Tanya Mianami menggenggam erat belatinya.
"Tidak perlu kak, dia akan datang sendiri menghampiri kita." Jawab Aquila dengan santai, seakan itu bukan masalah baginya.
"Kak Aquila, selalu saja begitu. Yah, tapi aku suka." Kata Shiro.
"Tapi, Giel takut kak." Ucap Rugiel menyembunyikan wajahnya yang kecil dalam gendongan Aquila.
"Shiro akan melindungi mu. Jadi jangan takut." Kata Aquila menenangkan.
"Kenapa harus aku?" Kata Shiro protes.
"Aku tidak ingin kedua adikku yang imut kotor. Jadi jangan membangkang, oke?" Aquila mengatakan dengan wajah yang sangat datar, seakan ia benci dengan sesuatu yang kotor oleh debu.
Shiro pun langsung diam, dia sangat tau dengan Aquila yang sangat tidak suka dengan sesuatu yang tidak bersih membuat Shiro teringat saat dilempar kesebuah bak mandi dan disambut dengan senyuman mengerikan oleh Aquila.
Mengingat hal itu, membuat bulu di punggung Shiro langsung berdiri dengan tegak karena merinding dan ketakutan.
"Rino, kamu kenapa?" Tanya Rugiel dengan wajah yang penasaran.
"Tidak ada. Hanya saja, jangan membuat kak Aquila melihat bulu kita kotor. Aku tidak ingin menyentuh air dingin." Jawab Shiro dengan wajah yang ketakutan.
"kalau kamu sudah mengerti Shiro, jadi jangan melanggar." Kata Aquila, lalu Aquila mengambil pedang uchikatana dalam kalung dimensi miliknya.
"Kak Leave, tolong jaga mereka." Kata Aquila kepada Leave yang masih dalam wujud Rusa kristal.
"Serahkan saja pada ku nona." Kata Leave dengan tersenyum.
BBUUMMMM......
__ADS_1
Suara ledakan yang keras dengan debu pasir yang membumbung tinggi. Dan diiringi dengan pasir yang jatuh dari ketinggian seperti air terjun namun berupa pasir