
"A-apa itu kamu shiro?" Tanya Dita dengan tubuh gemetar.
"Iya, ini aku kak Dita." Jawab Shiro dengan cepat, dan langsung meloncat untuk memeluk Dita yang masih gemetar karena ingatan yang tidak diketahui memenuhi otaknya.
"...." Ignatius dan Adrian terdiam, begitu juga dengan saudaranya yang lain yang sebelumnya mengaggap Dita adalah musuh namun hilang seketika ketika Shiro yang langsung memeluk Dita dengan sangat bahagia.
"Syukurlah, sepertinya kalian baik-baik saja. Lama tidak bertemu." Sapa ramah Rin, sebab sedari tadi Rin berada di teras rumah dan tidak ikut campur pertemuan antara Dita dan pilar dunia lain.
"Kak Rin...!!" Teriak meraka bersamaan.
"Kenapa kak Rin tidak muncul sedari tadi, Sehingga kejadian seperti tadi tidak diperlukan." kata Sebasta kepada Rin yang hanya tersenyum tidak bersalah.
"Ara.... Bukankah itu bagus, pertemuan yang dramatis...." Kata Rin dengan tertawa jahil.
"Laurent Rin Tania...." Ucap seseorang yang sekarang berada dibelakang Rin dengan aura gelap.
"Ah..... Sepertinya aku salah mengambil jalan...." Kata Rin merinding, karena yang ada dibelakangnya pastilah Dita sahabatnya sendiri yang dia ketahui sangat tidak suka dipermainkan.
"Kenapa kamu tidak bilang, kalau mereka adalah adik-adikku. Kau tau aku ini sudah lama kehilangan ingatan tapi kamu malah asik tertawa melihatku yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak akan membiarkanmu makan malam buatan ku." Kata Dita sambil mengacak-acak rambut Rin karena sangat jengkel dengan kelakuan dari sahabatnya itu.
"Hei.... Jangan begitu. Apa kamu ingin aku mati kelaparan...." Kata Rin sambil memohon dan berusaha melepaskan tangan Dita yang terus mengacak-acak rambut nya.
"Hem....!" Dengus Dita yang belum puas melampiaskan kemarahan nya pada Rin.
"Sudah-sudah, nona sebaiknya membersihkan diri dulu, biarkan saya yang membuat makan malamnya." Lerai Leave.
Setelah mendengarkan saran Leave, Dita pun pergi untuk membersihkan dirinya sendiri sedangkan Leave pergi ke dapur untuk membuat makan malam untuk mereka semua yang dibantu oleh Rin.
"Apa manusia itu kak aquila?" Tanya Rugiel pada Shiro yang berusaha menghentikan air matanya.
"Kenapa kak Aquila sangat berbeda?" Tanya Adrian juga.
"Wujud mereka berbeda namun sifat mereka sama, sebenarnya apa yang terjadi rino?" Tanya Nix.
"Sebenarnya, kak Aquila adalah kak Dita itu berbeda raga, namun jiwa mereka sama. Tapi, kak Dita sudah meninggal dan jiwanya berpindah kedalam tubuh kak Aquila yang sebenarnya telah meninggal di hutan Catarino karena dibunuh oleh ayah dan ibunya sendiri melalui tangan orang lain." Jelas Shiro kepada saudaranya yang tidak mengetahui yang sebenarnya.
__ADS_1
"Kalau kak Dita telah meninggal, kenapa sekarang dia masih hidup?" Tanya Helios.
"Aku juga tidak tahu, tapi aku sangat bersyukur kalau kak Dita masih hidup dan tidak benar-benar meninggalkan kita." Kata Shiro dengan bahagia.
"Tadi dia bilang kalau dia kehilangan ingatannya? dan hanya mengingat Shiro saja tidak dengan kita." Kata Soleil sedih.
"Aku juga merasa bersalah telah mengancam kak Dita dengan meracuninya, apa yang harus aku lakukan Rino, aku tidak ingin di benci kak Dita." Kata Adrian.
"Aku juga, aku tidak bersikap sopan dengan manusia itu tadi." Kata Ignatius.
"Tenanglah, meski kak Aquila seperti itu, dia sebenarnya orang yang baik." Kata shiro meyakinkan.
"Tapi kenapa dia ingin memanggang ku?" Tanya Ignatius ketakutan.
"Sebab kamu terlalu jelek." Kata Sebasta dengan santainya.
"Apa kamu bilang ular bau. Aku tidak jelek, aku adalah burung dengan bulu yang cantik."
"Apa kau sedang menyindirku juga Ignatius." Kata Adrian tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Ignatius barusan.
"Siapa yang bertanya padamu!!" Teriak Ignatius, Adrian dan Sebasta bersamaan. Sontak saja membuat Rugiel langung menciutkan tubuhnya agar tidak terkena imbas kemarahan saudaranya itu.
"Apa mereka bisa diam, aku ingin tidur..." Keluh Vent Leger sambil menguap.
"Oh, kamu sudah bangun." Kata Nix yang mendengarkan keluhan Vent Leger.
"Aku belum bangun." Kata Vent Leger sambil menutup mata lagi. Namun suara berisik karena pertengkaran saudaranya itu membuat dirinya sulit untuk tidur lagi.
Aroma lembut dan menyegarkan masuk dalam Indra penciuman Vent larger dan membuatnya membuka matanya.
"Aroma ini? Bukankah ini aroma kak aquila?" Tanya Vent Leger dalam benaknya. Namun kenyataannya bukan Aquila yang hadir dihadapannya melainkan Dita.
"Kalian sangat berisik. Bisakah kalian sedikit tenang?" Tanya Aquila dengan wajah kesal.
"Kamu bukan kak Aquila, akan tetapi aroma mu sama, sebenarnya kamu ini siapa?" Tanya Vent Leger dengan menghadang didepan Dita.
__ADS_1
"Wah.... imutnya...." Kata Dita sambil mengangkat tubuh Vent Leger tinggi dengan mengabaikan perasaannya yang kacau barusan.
"Hei.... Turunkan aku...!!!" Ucap Vent Leger sambil meronta melepaskan diri dari tangan dita.
"Sayang sekali. Coco..... kamu dimana....?" Kata Dita sambil mencari sosok serigala salju milik Rin.
WOF.....
Seru Coco yang merasa dipanggil oleh Dita dan kemudian muncul dari balik pintu dapur dan menggosok moncongnya di kaki Dita.
"Anak baik..."Kata Dita sambil mengelus kepala Coco, sontak saja membuat Vent Leger dan yang lainnya menjadi iri akan perlakuan Dita yang memanjakan Coco.
"Kakak.... Aku juga ingin di sentuh....." Ucap Adrian sambil menggerakkan tubuhnya yang berupa seekor ular ungu.
"Idih.... Padahal tadi kau ingin menggigitku." Tolak Dita.
"Maafkan aku. Aku kira kakak tadi menyakiti Rino hingga membuatku berburuk sangka padamu." Kata Adrian dengan penuh penyesalan.
"Hem.... bagaimana ya?" Kata Dita mempertimbangkan.
"Kemarilah...." Kata Dita sambil mengeluarkan tangannya pada Adrian yang terlihat menyesali perbuatannya namun ketika Dita memberikannya izin, Adrian pun langsung mengangkat kepalanya dan menghampiri Dita dengan senang hati.
"Shiro, ajaklah mereka makan, kak Leave sudah selesai memasak dan menyiapkan makanan untuk kalian semua." Kata Dita sambil berjalan dimana tempat biasanya makan bersama Leave dan Rin.
"Apa kita merepotkan kakak?" Tanya Soleil.
"Tidak, kenapa kamu berkata demikian kura-kura kecil?" Tanya balik Dita pada Soleil.
"Tidak usah kamu memikirkan kalau itu akan merepotkan ku, aku justru suka kalau kalian disini." Tambah Dita dengan mengelus kepala Soleil, dan kemudian langsung mengangkat tubuh Soleil untuk membawanya dimana saudaranya yang lain telah mendahuluinya.
"Terimakasih kak." Kata Soleil yang merasa terbantu dengan bantuan Dita yang menggendongnya.
Akhirnya mereka memakan makanan yang telah disiapkan dengan lahap, pertikaian kecil tidak bisa dihindari. Namun, dari sanalah kebahagiaan yang tidak dapat terucapkan namun terasa menyenangkan.
Semua harapan dan impian yang Dita inginkan menjadi kenyataan meski hanya sementara waktu sebelum mereka kembali ke dunia Callista.
__ADS_1