Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 102


__ADS_3

Rembulan yang menggantung di angkasa bersama pekatnya malam yang gulita menjadi satu-satunya lentera yang hidup menerangi bumi yang gelap. Namun pemandangan yang mengerikan masih tidak dapat disembunyikan oleh kecantikan bulan sabit yang bersinar bersih.


Tangis permohonan dan hinaan terdengar bersamaan menjadi simfoni alam fana yang penuh penderitaan. Kekejaman seseorang wanita diatas tumpukan mayat memandangi perdebatan dua orang pria dewasa seperti Dewa Ashura yang sedang melihat pembelaan dari terdakwa bersalah.


"Nona, to-tolong biarkan aku menemui anakku. S-setelah itu kau bisa membunuhku untuk menghapuskan dendam dari para rakyat dari kerajaan Tayounokuni yang pernah aku bunuh dahulu. Setidaknya berikan aku kesempatan untuk menemui anakku.." Pinta nya dengan nada yang mengiba.


"Bodoh, buat apa kau mengiba pada musuh. Lebih baik kita mati dari pada menjadi pecundang dinegeri kita." Ucap jendral keenem dengan amarah yang meluap.


"Baiklah, aku merasa sedang berbaik hati. Kali ini aku akan melepaskan kalian karena permohonan mu yang ingin menemui bayi yang sangat kau cintai itu." Ucap Aquila dengan dingin dan acuh, namun disambut bahagia oleh jendral kelima.


"Te-terima kasih nona, a-aku akan mengingat kebaikanmu yang mengampuni nyawaku yang hina ini." Ucapnya dengan penuh syukur dan kemudian bergegas pergi dari sana secepat yang ia bisa sebelum Aquila berubah pikiran.


"Kenapa kau tidak pergi? Apa kamu ingin menyusul kawanmu yang sudah mati?" Tanya Aquila dengan tatapannya yang tajam meski sekitarnya sudah suram.


"Sebenarnya siapa kau, aku tidak pernah melihat gadis yang memiliki mana yang sangat besar dan dapat mengalahkan para jendral yang lain dengan mudah?" Tanyanya penuh selidik.


"Siapa aku? Itu bukan urusanmu. Aku hanya melakukan tugas yang aku terima saja." Jawab Aquila sambil turun dari tumpukan mayat yang ia duduki.


"Tugas? Lalu kenapa kau menyelamatkan pilar yang telah dikontrak budak permanan yang tentu saja sangat mustahil untuk dilepaskan?" Tanyanya kembali.


"Bukankah sudah aku katakan, itu adalah tugasmu. Lalu apa hubungannya dengan mu yang hanya tau membunuh saja?" Tanya balik Aquila dengan sarkas.


"Lidah yang sangat tajam. Sangat tidak sopan berkata dengan orang yang lebih tua darimu." Sindirnya dengan tatapan yang penuh kebencian.


"Aku tidak perduli. Lebih baik kau kembali sebelum aku berubah pikiran untuk membunuhmu." Kata Aquila sambil berjalan menjauh.

__ADS_1


"Kita pasti akan bertemu kembali ditempat yang penuh dengan darah. Aku yakin berita tentangmu akan menyebar dan akan memicu perang karena dirimu dianggap sebagi iblis yang sangat kejam dengan wujud gadis cantik. Dan aku harap kita bisa sebagi rekan di perang yang akan datang." Ucapnya dengan penuh peringatan dan keinginan serta penuh teka-teki. Setelah selesai mengatakan hal itu, jendral keenam langsung pergi menyusul jendral kelima yang sudah mendahuluinya.


"Tidak masalah bila aku menjadi iblis. Asalkan adik-adikku tidak ada yang terluka karena hal itu." Ucap Aquila dengan tersenyum muram.


Aquila rela berkorban nyawa untuk kedamaian dunia yang diambang kehancuran karena ambisi para manusia yang ingin menguasai dunia Callista dengan mengendalikan para pilar. Dan akibat pengendalian para pilar, dunia yang seimbang kini telah runtuh dan terjadi bencana dimana-mana.


Seperti halnya Rugiel, musim semi menghilang, Soleil yang menderita karenanya tersingkir dan terkurung serta permata kehidupannya terebut, lalu Helios yang meninggalkan wilayahnya dan menjadi masa kemarau yang panjang dan dalam waktu dekat akan menjadi gurun yang baru.


Memikirkan hal itu membuat Aquila ingin segera mengakhiri penderitaan para pilar yang belum lepas dari cengkraman manusia yang mengekangnya. Semua lamunan itu segera Aquila enyahkan dan memfokuskan dirinya untuk mengurus mayat yang bertebaran akibat ulahnya sendiri.


Pepohonan hangus, patah dan tumbang tidak tersisa. Serta tanah yang berlubang dan retak dimana-mana membuat jurang baru terbentuk.


"Kak Aquila......!!!!!" Teriakan yang cukup nyaring dan tentu saja Aquila sangat mengenali suara itu yang tidak lain adalah Shiro dan Rugiel.


"Ya, bagaimana lagi, mereka terlalu bersemangat bertemu dengan dewa Ashura. Dan dengan senang hati aku mengantar mereka." Jawab Aquila dengan wajah yang terlalu santai dan tidak keberatan.


"Aku tidak tau kakak kita memiliki kakak yang sangat mengerikan." Kata Soleil dengan wajah polos melebihi Rugiel.


Dan tentu saja ucapan Soleil langsung membuat Aquila terbatuk keras karena tersedak udara yang baru saja dia hirup.


"Kak, aku harap kamu tidak tersinggung dengan ucapan Leil." Kata Shiro dengan wajah yang bersalah.


"Ya, Leil itu saudaraku yang paling imut, bahkan Giel pun iri dengan keimutannya." Ucap Rigiel dengan mata yang berbinar.


"...."

__ADS_1


Aquila terdiam bahkan Shiro juga ikut diam tidak tau untuk menanggapi kedua saudaranya yang polos dan tidak bisa membaca keadaan itu. "Lebih baik kalian pulang, aku ada urusan yang harus aku lakukan." Kata Aquila mengusir.


"Tidak, Giel akan disini bersama kak Aquila." Tolak Rugiel


"Benar, di sana sangat tidak nyaman. Lebih baik bersama kakak meski kakakku mengerikan." Kata Soleil menyetujui ucapan Rugiel.


"Ya, aku juga setuju dengan mereka." Imbuh Shiro yang semakin memojokkan Aquila untuk mengusir mereka kembali ke istana kerajaan Tayounokini.


"Terserah. Asalkan jangan menggangguku." Ucap Aquila pasrah dan pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Kakak mau kemana?" Tanya Rugiel.


"Mengembalikan tempat ini seperti semula, meski sangat merepotkan tapi harus aku lakukan." Kata Aquila yang menyahuti pertanyaan Rugiel.


"Kita akan membatu." Kata mereka bertiga secara bersamaan.


"Baiklah, aku rasa itu akan meringankan pekerjaanku." Kata Aquila dengan senang hati karena uluran bantuan dari ketiga pilar.


Mereka berempat melakukan pekerjaan yang sangat tidak sesuai dengan tubuh mereka, yaitu menguburkan mayat para prajurit Zuwei yang tewas karena asap beracun milik Aquila dan tentu saja dengan bantuan Soleil sebagi sang penguasa bumi, tentu saja dia melakukannya dengan sangat mudah.


Sedangkan Rugiel menangis untuk memanggil awan hujan untuk membersihkan darah yang mencemari tanah setelah Soleil selesai menguburkan jasad. Dan Aquila dan Shiro menanam bibit pohon untuk Menganti pohon yang telah rusak karena perang itu.


Setelah selesai, mereka pun berjalan pulang untuk beristirahatkan tubuh yang lelah, terutama Aquila yang banyak menguras mananya untuk membantai seluruh prajurit Zuwei sendiri tanpa bantuan dari kerajaan Tayounokuni.


Setelah sampai didepan istana kerajaan Tayounokuni, Aquila dan para pilar yang lain disambut oleh rakyat kerajaan Tayounokuni dengan tatapan dan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan meski malam telah berlalu setengahnya.

__ADS_1


__ADS_2