
Awan berarak-arakan di cakrawala yang luas, matahari bersembunyi diantara kumpulan awan yang beriringan, seakan malu untuk memancarkan cahayanya yang terik.
Hembusan angin lembut menerpa pepohonan muda, belalang melompat diantara rerumputan yang hijau disela-sela gang pohon muda. Semut kecil dengan semangat bergotong-royong membawa potongan daun untuk membuat sarang dipohon tua yang bersebrangan dengan pohon muda.
Bunga-bunga musim panas bermekaran untuk menarik kupu-kupu yang berterbangan diudara. Alunan lembut berasal dari dedaunan yang tertiup angin menjadi simfoni musim panas bersama nyanyian Cicada yang nyaring.
Mentari muncul kembali dari balik awan dan memancarkan cahayanya yang kemilau menerangi seluruh hutan Roa yang akan pulih kembali
Orang-orang yang berlalu lalang untuk menikmati makan siang yang telah dibuat oleh para wanita, dan ada pula yang penasaran melihat tenda yang mewah. Setelah selesai makan siang, mereka kembali mengerjakan kegiatan yang sebelumnya tertunda.
Kini didalam tenda menjadi sunyi karena kedatang Leave dengan heboh, dan langsung memeluk Aquila dengan menangis bahagia dengan bangunnya sang nona dari tidur panjangnya yang membuat mereka lelah menunggu.
"Sudahlah kak Leave, aku baik-baik saja. Dan tidak ada yang kurang meski hanya secuil rambutku." Kata Aquila sambil mengelus leher rusa kristal putih untuk menenangkannya.
"Aku hanya khawatir saja nona, aku takut nona akan melupakan segalanya setelah kehilangan kendali atas diri nona." Ucap Leave sambil meninggalkan pelukan Aquila dan kemudian berubah menjadi manusia dan duduk di samping Aquila dengan Shiro dan Rugiel di pangkuannya.
"Apa aku melakukan hal yang buruk kak? yang aku ingat hanya melihat kondisi para budak yang mengenaskan dan membuatku marah, setelah itu....." Kata Aquila terhenti dan memegangi kepalnya yang berdenyut nyeri.
"Nona, jangan berpikir terlalu keras. Lebih baik nona beristirahat dulu. Aku akan membuatkan bubur." Ucap Minami cemas dengan kondisi Aquila yang masih lemah.
"Iya, kakak harus istirahat. Giel dan Rino akan menemani kak Aquila." Rugiel menyentuh pipi Aquila dengan kepala burung nya, Shiro juga melakukan hal yang sama dengan Rugiel.
"Nona harus beristirahat dulu, aku akan membantu Minami membuat bubur dan menganrtakan kemari." Leave dan Minami keluar dari dalam tenda dan menuju dapur darurat yang dibuat oleh para budak pekerja.
Aquila hanya bisa pasrah saja, karena kondisi tubuhnya yang memang masih lemah. Dan hanya ingatan samar tetang kejadian yang membuatnya tidak sadarkan diri dan juga sebuah kilatan ingatan tetang pertemuan dengan para Dewa dan Dewi dunia Callista meskipun hanya ingatan yang buram.
__ADS_1
Aquila mengangkat tinggi tangan kanannya yang pucat dan diantara jarinya, tersemat sebuah cincin berwarna ungu dengan bunga teratai kecil sebagai hiasan.
"Gunakanlah kekuatan kami saat genting dan mempertaruhkan nyawamu. Sekali kamu menggunakan kekuatan itu, maka kamu harus mengorbankan salah satu organ tubuhmu jika mana milikmu kurang. Maafkan lah kami semua, bila Rahmat kami membuatmu menderita dikemudian hari. Itu adalah salah satu jalan agar dunia menjadi lebih baik." Sebuah suara samar menyapa ditelinga Aquila seperti hembusan angin yang lembut.
"Terdengar sangat egois. Tapi apa boleh buat, aku sudah menerima kekuatan mereka dengan suka rela." Kata Aquila dengan suara lirih.
"Kak Aquila mengatakan apa, aku ingin mendengarkannya." Ucap Shiro dengan mata yang berkilau indah.
"Tidak ada, mungkin kamu salah dengar Shiro." Kata Aquila berbohong.
"Bila ada yang sakit, katakan saja kak, Giel akan memijatnya untuk kakak." Rugiel dengan mengangkat kaki depannya, seakan siap untuk memijat Aquila yang berbaring Lemah.
"Pfttt.... hahaha, Kalian berdua tidak usah cemas seperti itu. Lihatlah kakakmu ini, sudah sehat dan kuat." Aquila mengatakan dengan tertawa geli dengan tingkah kedua adiknya itu.
"Kakak.... Aku menghawatirkan kakak, tapi kak Aquila malah menertawakan ku." ucap Shiro dengan cemberut.
Rugiel yang melihat Shiro dibelai oleh Aquila menjadi iri, dan kemudian kaki depannya menyentuh tangan Aquila yang berada di atas perut. Tatapan Rugiel penuh harap terarah Aquila yang terlihat bingung dengan tingkah Rugiel.
"Kamu ingin juga Rugiel?" Tanya Aquila dengan mengangkat salah satu alisnya. Rugiel mengangguk dengan semangat.
"Baiklah." Lalu Aquila mulai mengelus kepala Rugiel dan Shiro secara bersamaan.
Hal itu membuat magical beast yang berada dibalik kegelapan menjadi iri, namun dia sendiri tidak tau harus berbuat apa. Dan kemudiaan mulai memintal benang miliknya dan kemudian merajut benang itu untuk dijadikan kain dan juga mengalihkan perhatiannya dari kemesraan antar saudara.
Kain penutup tenda terbuka, dan kemudian dua sosok gadis cantik memasuki tenda itu dengan semangkuk bubur yang mengepulkan uap dan segelas air putih didalam bambu dan terletak berdampingan dengan bubur diatas nampan kayu.
__ADS_1
"Cepat sekali." Kata Aquila dengan terheran.
"Tidak nona, lebih baik nona memakan bubur ini dan kemudian beristirahat. Agar kondisi nona membaik." Kata Minami sambil meletakkan nampan yang ada ditangannya.
Aquila mulai duduk dengan dibantu Leave agar mudah. Lalu Minami mulai menyuapi Aquila namun ditolak oleh Aquila karena alasan bisa memakan sendiri dengan tangannya.
Namun, Mianmi juga enggan untuk membiarkan Aquila memakan bubur yang masih panas itu sendiri. Akhirnya, Aquila mengalah dan membiarkan Minami menyuapinya hingga selesai.
Setelah itu, Minami dan Leave keluar dari dalam tenda agar Aquila beristirahat dengan tenang dan ditemani oleh kedua adiknya yang imut itu. Leave membawa nampan berisi mangkuk yang kosong dan Minami membawa selebar kain putih bersih yang dibuat oleh laba-laba Archane untuk dijadikan jubah.
Kerajaan Zuwei terkenal sangatlah panas dan gersang, dikelilingi gurun yang luas membentang seperti lautan dengan warna kuning kecoklatan. Hanya sedikit awan yang melintasi angkasa kerajaan Zuwei dan sedikit juga air hujan yang turun untuk membasahi tanah yang kering.
Ditanah gersang dengan pasir yang membentang luas dan pohon kaktus yang menjulang tinggi menantang alam yang panas. Hembusan angin kering menghamburkan debu dipermukaan sebuah kuil yang rusak akibat pemberontakan alam berupa badai pasir yang besar.
Kuil yang rusak, ubin lantai pecah dan keluar dari tempatnya, tiang penyangga keropos oleh usia yang sudah tua, namun aura yang keluar dari dalam kuil sangat lah mencekam dengan kesedihan dari bunga yang layu dipot dengan tanah yang kering.
Dibawah kuil yang rusak, tersembunyi sebuah rahasia yang besar bagi kembalinya keseimbangan alam, dialah sang pilar Soleil yang menunggu untuk dibebaskan dari belenggu keserakahan akan harta dunia dan diperbudak oleh manusia yang kejam.
**Yahhoooo...... Minna-sama. Author kembali lagi. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
Diatas pohon ada buah besar berseri
Buah jatuh ditepi perigi
Salam manis dari author ini
__ADS_1
Untuk besok berjumpa lagi**