
Matahari kembali terbit dari tempat istirahatnya yang nyaman dan mengantikan bulan untuk menerangi alam malam dan menjadi fajar yang sejuk.
Uap air menjadi kabut putih membumbung tinggi keangkasa untuk bergabung dengan yang lain agar menjadi sebuah awan hujan yang dibutuhkan mahluk hidup ditanah yang gersang.
Kicauan burung tidak terlalu terdengar, karena jarak mereka sangatlah jauh dari sebuah tenda yang terlihat mewah namun tanpa penjagaan. Budak pekerja bangun dari tidur nyaman mereka, namun mereka melihat sekitarnya terasa janggal. Biasanya mereka akan dibangunkan pagi buta untuk menebang kayu, namun fajar menyingsing tidak ada satu pun prajurit yang membangunkan mereka dengan kasar.
Yang terlihat hanyalah sebuah tenda yang berjajar rapih namun penghuninya telah pergi entah kemana. Para budak pekerja pun bingung. Namun suara gaduh dari dalam hutan yang belum dijelajahi sangatlah menghawatirkan. Karena para prajurit tidak ada ditempat, mereka ingin melarikan diri, tapi rantai yang mengikat kaki mereka masih melekat erat satu sama lain. Membuat mereka kesusahan untuk bergerak apa lagi untuk sekedar berjalan cepat.
Kegaduhan dari dalam hutan kini memberikan jawaban atas pertanyaan mereka yang penasaran dengan dibalik keributan itu. Magical beast telah Kemabli kehutan mereka dengan sangat semangat, bahkan para magical beast dan hewan buas berangkat ketempat itu sebelum fajar menyingsing.
Mereka semua sangat bahagia dengan kabar yang disampaikan oleh burung kakatua raja dengan bulu hitam legamnya bahwa mereka semua disuruh oleh sang Messiah untuk mendatanginya saat fajar.
Gajah obsidian memimpin mereka semua untuk mendatangi hutan Roa yang telah lama mereka tinggalkan. Dan dipunggung gajah obsidian terdapat bola bulu pulih dan kuning emas.
Para budak menjadi ketakutan karena melihat para magical beast dan hewan buas yang telah lama menghilang semenjak pemburuan liar, kini kembali untuk mengambil tempat mereka dan bahkan untuk membalaskan dendam saudara mereka yang mati mengenaskan tanpa jasad kepada para budak yang tidak tau apa-apa.
Namun pikiran liar mereka langsung dipatahkan karena gajah hitam pekat itu langsung menyapa dengan pertanyaan kepada mereka yang gemetar ketakutan. "Apa kalian melihat nona messiah?"
Mereka secara bersamaan menggelengkan kepala tanda tidak mengerti, namun yang mereka ingat hanyalah seorang gadis dengan rambut yang panjang diikat rendah dengan lonceng disetiap sisi rambutnya.
Dua bola bulu langsung meluncur dari punggung gajah obsidian dan langsung berlari kearah tenda yang terlihat besar dan mewah yang tidak jauh dari mereka semua yang tengah berdiri di samping para budak pekerja itu.
Para budak bingung dengan tingkah kedua hewan lucu dan imut itu yang berlari kearah itu, yang notabennya adalah tempat bangsawan yang memperbudak mereka secara kejam.
__ADS_1
Setelah kedua hewan itu menghilang, mereka semua langsung terdiam karena tidak tau apa yang harus dilakukan. termasuk juga magical beast dan hewan buas.
Kedua bola bulu itu yang tidak lain adalah Shiro dan Rugiel yang sangat merindukan sosok kakak yang telah meninggalkan mereka semalam dan tidak kembali lagi untuk menjemput mereka dan hanya burung hitam yang menyampaikan pesan untuk mereka semua agar menyusul dihutan Roa yang sudah digunduli pohonnya.
Shiro dan Rugiel melihat seorang gaadis dengan seekor rusa putih tengah tertidur, namun tidak ada perempuan elf yang biasanya menjaga mereka.
"Kakak........!!!!!" Teriak mereka bersua secara bersamaan dan langsung melompat diperut Aquila yang tengah tertidur pulas.
"Uhuk...." Suara batuk aquila karena rasa sakit yang berasal dari perutnya yang datar, meski dilindung oleh zirah Wister namun kekuatan dari kedua hewan yang menginjak perutnya sangatlah besar, hingga mustahil bagi sang tunggangan Dewi Callista untuk menahan kekuatan dua pilar itu.
Alhasil Aquila langsung terbangun dari tidurnya dengan suara batuk yang keras karena sakit, suara batukan Aquila langsung membangunkan Leave dan laba-laba Archane yang bersembunyi disudut ruangan yang gelap.
Otak Aquila masih memperoses apa yang barusan terjadi dan sebuah suara langsung menyimpulkan kalau suara itu yang telah membangunkan mimpi indahnya secara paksa. "Kakak, aku sangat merindukanmu. Kakak juga jahat, bukanya kakak yang menjemput kita malah membiarkan burung jelek itu yang menjemput." Keluhan nya sambil duduk santai diperut Aquila yang masih sakit karena ulah kedua bola bulu itu.
"Tentu saja, kak tidur seperti ikan mati yang susah dibangunkan." Kata Shiro dengan percaya diri.
"Giel juga merindukan kakak, Giel tidak bisa tidur nyenyak." Kat Rugiel dengan suara yang imut dan manja.
"Shiro, apa yang kamu katakan?"
"Kakak tidur seperti ikan mati, padahal kakak meminta kita untuk datang saat pagi menjelang. Tapi kakak malah tidur dengan sangat nyenyak seperti ikan mati." Shiro mengatakan dengan penuh percaya diri, dan tidak menyadari perubahan wajah Aquila.
"Ikan mati? Kamu sangat suka mengatakan hal yang aneh Shiro." Ucap Aquila yang tengah duduk di samping Leave yang sudah terbangun karena suara batuk keras Aquila sebelumnya.
__ADS_1
"Kak Aquila, bolehkan Giel duduk sisini?" Tanya Rugiel dengan menunjuk paha Aquila dengan kaki depannya.
"Tentu." Jawan Aquila dengan senyum lembut. Namun Shiro terlihat tidak percaya dengan Rugiel yang mencuri perhatian Aquila.
"Kak Aquila, aku juga ingin...." Shiro sambil berjalan kearah Aquila dengan manja. Namun tangan Aquila langsung mengangkat tubuh Shiro dan memandangnya dengan senyuman miring.
"Kamu bilang, kalau kakakmu ini ikan mati, kenapa malah mendekati, bukan kah begitu Giel?" Ucap Aquila yang di angguki oleh Rugiel yang duduk dipangkuan Aquila.
"Aku bukan bilang kalau kakak ikan mati, cuma tidur kakak seperti ikan mati." Jelas Shiro kepada Aquila yang terlihat mengejek kearah Shiro yang memelas.
Leave hanya bisa tersenyum kecil dengan kelakuan nona dan tuanya, sedangkan laba-laba Archane terlihat kebingungan dengan tingkah pilar utama dan sang Messiah yang tidak akur.
"Apa mereka selalu saja begitu nona? Mereka terlihat tidak akrab." tanya laba-laba Archane.
"Nona Aquila dan tuan Shiro, selalu saja begitu. Jangan dipikirkan, mereka akan baikan dalam waktu dekat." Kata Leave sambil menendang lurus dihadapannya yang terdapat Aquila dengan Shiro yang sedang beradu argumen.
"Nona, sarapannya telah siap. Ah, ternyata tuan Catarino dan tuan Rugiel udah datang." Kata Minami dari balik kain penyekat dan membawa beberapa menu sarapan pagi yang sehat.
Namun bukan sapaan yang diucapkan, tapi malah diabaikan oleh kedua orang itu yang sedang asik berdebat tidak jelas.
"Seperti bisanya Minami, mereka akan mengabaikan mu." Leave mengatakan dengan tertawa kecil.
"Nona, bisa kah nona memisahkan mereka. Kalau terlalu lama, makanan yang aku buat akan dingin." Ucap Mibami dengan memelas.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begini sampai besok juga tidak akan selesai." Ucap Leave sambil melangkah untuk memisahkan manusia dan kucing yang tengah berdebat itu.