Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAN 129


__ADS_3

Hembusan angin begitu sangat kencang, membawa serpihan salju dan ranting pohon yang patah karena tidak kuat menahan laju angin yang sangat kencang. Pepohonan terombang ambang mengikuti alur arus angin yang tidak akan melemah.


Suhu yang begitu sangat dingin mampu membekukan air yang mendidih menjadi gumpalan es dalam waktu yang singkat. Lolongan serigala terdengar diantara suara angin badai yang membuat nyali menjadi kecil dalam kengerian amukan alam yang sedang melampiaskan amarahnya.


Dari balik tirai angin dan salju yang tengah mengamuk, terdapat sekelompok rombongan tengah berjuang melawan ganasnya angin badai tanpa ada rasa takut di wajah mereka. Namun, bila badai belum juga mereda itu adalah ketakutan terbesar mereka dalam mengarungi badai salju untuk mencapai tempat yang mereka tuju.


"Nona, aku rasa kita harus berhenti sejenak, angin badai ini begitu sangat kuat, aku tidak yakin kalau perjalanan dalam badai tidak ada halangan." Kata Leave dengan terus berusaha melawan deru angin kencang yang menerpa tubuhnya itu.


"Baiklah, aku juga sudah tidak tahan berlama-lama dengan cuaca yang tidak bersahabat seperti ini." Kata Aquila sambil menutupi wajahnya agar tidak terkena serpihan salju yang terbawa arus angin yang kencang.


"Tapi dimana? Aku tidak melihat gua atau rumah disekitar sini." Ucap Minami dengan wajah yang terlihat cemas.


"Tenanglah, aku akan mengatasi masalah ini. Yang terpenting, kita harus mencari tempat yang pas untuk kita tempati." Ucap Leave sambil mengamati sekitarnya.


"Kenapa mereka malah tidur semua? Apa kita telah memasuki wilayah pilar yang lain?" Tanya Aquila dengan wajah yang sedikit masam.


"Mungkin saja nona, bukankah tuan Shiro dulu selalu melakukan hal yang sama saat dia berada di tempat saudaranya yang lain?" Kata Leave dengan bertanya kembali.


"Benar juga." Kata Aquila setuju dengan yang dikatakan oleh Leave itu.


"Nona, aku menemukan tempat yang cukup bagus untuk kita tempati sementara." Kata Minami dengan wajah yang berbinar bahagia.


"Tunggu apa lagi, ayo kita segera kesana!" Kata Leave tidak kalah antusias dengan Minami. Mereka bertiga langsung berjalan ke tempat yang ditunjukan telah Minami, dan mereka tiba disebuah pohon yang lumayan besar dan tepat ditepi sungai yang di tepinya telah membeku.

__ADS_1


"Tempat yang cukup strategis untuk kita gunakan sementara, dan juga menunggu mereka bangun dari tidur panjang mereka." Kata Aquila sambil memandangi pohon yang terlihat akrab menurut Aquila.


"Kalau begitu, serahkan saja padaku untuk membuat rumah disini." Ucap Leave, kemudian sebuah rune muncul dipermukaan tanah yang tertimbun salju yang tebal dan sebuah rumah berbentuk lingkaran tersusun dari balok-balok es yang sangat kuat karena didukung oleh element kristal milik Leave.


"Wah nona, ini sangat indah." Kata Minami dengan spontan menyentuh dinding es itu.


"Kalau begitu, segera lah masuk, suhu nya sudah sangat dingin diluar." Kata Leave yang disetujui juga oleh Minami yang sudah membuka pintu yang terbuat dari es itu.


"Aku kira akan dingin, ternyata aku salah, ini cukup hangat." Kata Aquila dengan kagum.


"Benar sekali. Kalau begitu tunggu sebentar, biarkan aku meletakkan kasur dan selimut disini." Kata Minami sambil mengeluarkan beberapa kasur tipis namun cukup hangat dan selimut sebagi pelengkapnya.


"Aku serahkan pada kak Nami dan kak Leave." Kata Aquila dengan tersenyum ringan.


"Nona, apa kita akan melanjutkan perjalanan setelah badai ini merekda?"Tanya Leave yang sudah duduk disampingnya dan juga Minami.


"Ya, bagaimana lagi. Kita tidak bisa menerjang kekuatan alam yang sedang mengamuk seperti saat ini." Kata Aquila dengan suara yang pasrah.


"Nona, aku mendapatkan sedikit informasi dari pamanku saat aku menemuinya untuk terakhir kalinya. Kata paman, kalau kekaisaran samudra tengah memangil seorang saint untuk mengalahkan nona, sebab rumor yang mengatakan kalau nona adalah seorang iblis telah membuat kekaisaran samudra menjadi tidak tenang." Kata Minami dengan wajah yang serius.


"Biarkan saja. Aku tidak perduli bila kekaisaran itu memanggil seorang saint. Yang aku pedulikan hanya kalian dan para adik-adikku ini saja. Tidak masalah bagiku untuk untuk menghancurkan kekaisaran itu bila mereka berani melukai kalian." Kata Aquila dengan tegas dan tekat yang terpancar dari wajahnya yang cantik.


Tentu saja apa yang baru saja dikatakan oleh Aquila membaiat Minami dan Leave tersentuh. Hal itu juga yang membuat mereka yakin untuk melayani dan melindungi Aquila dengan segenap raga dan jiwa mereka hingga darah penghabisan.

__ADS_1


"Nona, terimakasih. Namun, yang aku dengar dia sang saint memiliki keanehan yang sangat tidak mirip dengan seorang saint. Dia memiliki rambut yang pendek, dengan pakaian yang aneh saat dia datang, dan juga tatapannya begitu dingin hampir sama dengan nona." Kata Minami menambahkan yang dia ketahui dari pamannya itu.


"Lantas, apa aku harus perduli?" Tanya Aquila dengan wajah yang tidak berminat atau tidak perduli sama sekali.


"Nona, aku hanya memberi tahukan kepada nona yang aku ketahui. Dan juga nama dari sang saint adalah Laurena Rintania." Kata Minami dengan wajah yang kesal dengan sikap nonanya yang terkadang tidak akan memperdulikan apa yang dia katakan.


Namun wajah Aquila dan Leave langsung menegang tidak percaya dengan nama yang baru saja diucapkan oleh Minami barusan.


"Rin....." ucap Aquila dengan sepintas dengan suara yang lirih.


"Minami, apa kamu yakin dengan nama saint itu? Maksudku nama itu asli atau hanya samaran saja." Kata Leave dengan wajah yang terlihat tengah memastikan sesuatu.


"Apa nona Leave dan nona Aquila mengenal sang saint?" Tanya Minami dengan penasaran.


"Bila itu memang dia, maka takdir telah mempertemukan ku dengan nya meski sebagi musuh bukan sahabat." Kata Aquila dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nona, siapa sang saint itu?" Tanya Minami kembali karena sudah termakan oleh rasa penasaran.


"Dia adalah nona Rin, sahabat sekaligus saudara bagi nona Aquila. Lebih tepatnya dia adalah orang terpenting bagi nona Aquila di dunia yang nona Aquila tempati dulu." Jawab Leave mewakili Aquila yang kini tengah menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan nanti bila nona Aquila dan sang saint bertempur dimedan perang melawan nona nanti?" Tanya Minami memastikan.


"Aku tidak tau. Hanya nona lah yang akan memutuskannya." Kata Leave dengan memasangi Aquila dengan sendu.

__ADS_1


__ADS_2