Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 131


__ADS_3

Aquila langsung terperanjat tidak percaya dengan perkataan Rin yang sama sekali tidak mengenalinya. Memang tampilan Aquila atau Dita sangat berbeda, dulu memiliki rambut hitam kelam kini berubah menjadi perak, dan netra mata Aquila dulu berwarna coklat gelap kini menjadi Semerah darah, tentu saja Rin tidak akan mengenalinya meski wajah mereka sama.


"Maafkan aku Rin, aku akan merubahnya." Kata Aquila dengan senyum kaku. Dan kemudian sebuah rune muncul dikaki Aquila dan perlahan naik keatas hingga kepala Aquila, dalam sekejap tampilan Aquila menjadi seperti dulu.


Rambut hitam kelam terurai dengan dua lonceng kecil disisi kanan dan kiri, dengan netra mata coklat gelap dengan sedikit warna merah dan biru, namun dengan jubah yang sama.


"Tidak m-mungkin... Dita...." Kata Rin dengan tidak menyelesaikan kalimatnya karena dipeluk erat oleh Aquila.


"Aku sangat merindukan mu Rin.. sangat.." Ucap Aquila dengan suara menahan tangis.


"Kau sangat bodoh Dita. Sangat bodoh, hingga menyembunyikan semua ini dari dan menanggung sendiri, sikapa mu ini lah yang membuatku menjadi sangat menghawatirkan dirimu." Umpat Rin dengan memeluk erat Aquila.


"Maafkan aku bila membuatmu kerepotan Rin. Tapi... semua itu harus aku lakukan..." Kata Aquila dengan suara lirih.


Rin pun langsung melepaskan pelukan nya itu, dan melepaskan helem zirah yang menutupi kepala dan wajahnya dan membuangnya dengan sembarang.


"Dengar.. Mulai saat ini kamu jangan menyembunyikan apapun lagi dari ku. Dan jangan pernah meninggalkan ku Dita, kau adalah salah satu saudara ku." Kata Rin dengan menatap tajam mata Aquila dan raut wajah yang serius.


"Maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Aquila dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Bagus, aku sangat merindukanmu tau, tanpa dirimu aku sangat kesepian. Apa lagi aku ditinggal sendiri dirumah, kakak ku telah menikah, ayah dan ibuku sudah menyusul paman dan bibi. Huh... hari-hari ku terasa sangat menyedihkan." Ucap Rin dengan memeluk kembali Aquila dan mengeluarkan keluh kesahnya selama ini.


"Tidak akan. Aku berjanji padamu, aku tidak akan meninggalkanmu seperti dulu. Dan kenapa kamu bisa ada di dunia Callista?" Kata Aquila dengan tegas, dan juga menanyakan prihal sahabatnya bisa datang didunia Callista.


"Aku tidak tau, saat aku akan menyebrang pertigaan jalan, sebuah mobil menabrakku, dan kemudian sebuah cahaya aneh langsung muncul begitu saja dan saat aku sadar aku sudah ditempat yang aneh dan juga orang-orang yang aneh dan memanggilku dengan saint, padahal aku ini hanya manusia biasa." Ucap Rin menceritakan semua yang dia ingat saat dia datang didunia Callista.


"Jadi begitu, lalu kenapa kamu datang di hutan ini?" Tanya Aquila Kemabli.

__ADS_1


"Dan juga, kenapa kamu disini dan menangis?" Tanya Rin dengan menaikan salah satu alisnya untuk menggoda sahabatnya itu.


"Tidak ada, mataku hanya kemasukan salju saja." Elak Aquila dengan cepat, takut kalau dia akan digoda habis-habisa oleh Rin yang mengetahui kalau dirinya menangis.


"Ara... Dita... kamu mencoba untuk membodohi ku ya, sayangnya itu tidak akan bisa. Lihatlah matamu masih memerah." Goda Rin dengan menunjuk pipi Aquila dengan jarinya.


"Aku baru saja menangis tadi, dan kau juga ikut menangis, dari mana coba aku membodohi sahabatku sendiri." Bela Aquila dengan memalingkan muka.


"Ah. sudahlah. Disini sangat dingin dan badainya pun belum reda. Aku harus meyelesaikan tugas dari kaisar kurang ajar itu sebelum besok matahari tenggelam." Kata Rin dengan wajah masam seperti saat memakan lemon yang asam.


"Tugas? tugas apa yang kau dapatkan Rin, siapa tau aku bisa membantu." Kata Aquila dengan menawarkan bantuan.


"Mengambil binatang buas yang katanya adalah seorang pilar. Aku tidak tau apa itu." Kata Rin dengan mengambil helem zirahnya dan kemudian memakinya kembali.


"Kalau tidak salah namanya Nix." Tambah Rin lagi.


"Ya, itu namanya, tapi aku sama sekali tidak tau tempatnya...!!!" Teriak Rin degan frustasi sebab dia berada di sana selama seminggu hingga membuatnya menyerah.


"Rin, apa kamu yakin. Sebab dia adalah salah satu saudara dari adik-adikku." Kata Aquila dengan wajah serius.


"Apa..?! adik? Kau yakin Dita?" Tanya Rin memastikan apa yang baru saja dia dengarkan.


"Ya, Nix sang pilar musim. Salah satu pilar dari sembilan pilar utama dan dia adalah adik dari Shiro." Kata Aquila dengan yakin.


"Shiro... Ah... aku ingat, dia kucing kecil putih itu kan?" Tanya Rin setelah mengingat pertemuan awal mereka saat Dita membawanya ke toko waktu itu.


"Kau masih mengingatnya? Aku kira kau sudah lupa. Kamu kan sering sekali melupakan sesuatu." Kata Aquila dengan nada yang bercanda.

__ADS_1


"Hentikan Dita, aku tau kalau aku memang orang yang pelupa, tapi jangan diperjelas." Kata Rin malu.


"Kenapa? Tapi itu memanglah Rin yang aku kenal, maka aku akan senantiasa menjadi pengingat mu." Kata Aquila dengan tersenyum.


"Baiklah.. Baiklah nona pengingat. Lalu apa yang harus saya lakukan nona pengingat?" Tanya Rin dengan bercanda.


"Jadi, apa mereka memberimu petunjuk tempat dimana Nix berada?" Tanya Aquila dengan suara yang lembut namun masih dapat didengar oleh Rin.


"Kalau tidak salah, Sebuah sungai terbentang di selatan bersama cahaya yang menaungi sebuah pohon. Itu yang mereka katakan pada ku." Kata Rin dengan mengingat petunjuk yang dia anggap sebuah teka-teki.


"Kau tau kan, aku sangat membenci teka-teki."Kata Rin dengan wajah kesal.


"Aku tau kalau sahabatku ini sangat tidak suka dengan teka-teki, jadi biarkan aku membantu mu memecahkannya." Ucap Aquila dengan semangat.


"Aku serahkan padamu Dita. Semangat... Atau aku akan pulang dengan tangan hampa." Kata Rin dengan antusia.


"Serahkan saja pada ku." Ucap Aquila dengan ringan. Kemudian Aquila pun menutup matanya untuk mencari dimana sungai bersama pohon yang dinaungi cahaya. Dan ternyata tempat itu adalah tempat yang Aquila dan para pilar tertidur.


"Aku menemukannya." Kata Aquila.


"Terimakasih Dita, dengan begini untuk sehari kedepannya aku bisa menghabiskan waktu bersama mu." Kata Rin dengan bahagia dan tidak lupa memeluk tubuh Aquila.


"Dengan senang hati aku membantumu Rin. Akan tetapi.." Ucap Aquila dengan tidak menyelesaikan ucapannya.


"Lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa bernafas..." Kata Aquila dengan wajah memerah.


"Ah... hahaha... maafkan aku, aku hanya terlalu bersemangat Dita.."Kata Rin dengan senyum canggung.

__ADS_1


"Ah... sudahlah. Ayo kita ke sana, aku akan memperkenalkanku pada kakakku dan adik-adikku yang lain." Kata Aquila dengan menarik tangan Rin yang terbalut sarung tangan zirah itu.


__ADS_2