Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 29


__ADS_3

Rambut hitam gagaknya berkibar tertiup angin, jubah tidurnya pun ikut berkibar menampilkan pesona kepolosan. Kelopak bunga sakura menerobos masuk melalui jendela dengan bantuan angin sejuk, Minami terbangun dari tidurnya dan melihat sosok yang berdiri didekat jendela tanpa kaki yang tidak menyentuh lantai.


Keringat dingin mengalir didahinya, melihat sosok yang asing berdiri didekat jendela dan mengarahkan punggungnya yang berlubang. Minami bingung dan ketakutan, Apakah itu hanyalah atau kenyataan?


Minami memberanikan dirinya untuk mendekati sosok itu, walaupun dengan kaki yang gemetaran dia melangkahkan kakinya dengan pelan dan tak lupa juga memegang bantal untuk senjata.


Saat cukup dekat, Minami langsung memukulkan bantal itu tepat dikepalnya dengan keras.


"Awuuu....!"


"Ha-hantu be-berteriak...!!!" Minami merasakan hal yang sangat membuatnya ketakutan dan membuatnya jatuh terduduk dengan wajah yang pucat dan badan gemetaran.


Sosok itu membalikkan badan dan melayang kearah Minami, wajah sosok itu tidak terlihat karena membelakangi cahaya yang menerobos melalui jendela kamar yang terbuka.


"Ja-jangan mendekat,...!!!" Panik, itulah yang dirasakan Minami.


"Kakak, kenapa berterik?" Tanya sosok itu dan mendekatkan wajahnya. Karena masih dalam kepanikan Minami tidak dapat melihatnya dengan jelas.


"J-jangan m-mendekat, s-saya bersalah telah memukul nona hantu.!" Dengan mata tertutup erat.


"Kak Nami tega, aku masih hidup. Aku bukan hantu.!"


Minami memberanikan dirinya sendiri untuk membuka matanya dan meyakini kalau sosok dihadapanya bukan lah hantu yang dia lihat sebelumnya.


Rasa takutnya seketika hilang dan digantikan dengan rasa terkejut luar bisa. "Nona, l-lalu dimana hantunya?"


"Hantu? Kak Nami berbicara apa. Disini tidak ada hantu." Aquila heran melihat Minami terus meracau tentang hantu.


"T-tadi h-hantu itu b-berdiri didekat jendela. Lalu h-hantu itu melayang ke arahku." Jelas Minami dengan terbatas.

__ADS_1


Aquila bingung, sebab ia sedari tadi duduk ditepi jendela dan tidak merasakan apapun. "Tidak ada hantu kak, aku tadi duduk dijendela. Dan kak Nami dengan tega memukulku, lalu jatuh terduduk dengan badan gemetaran dan mata kakak terpejam dengan erat."


"Benarkah, jadi yang aku lihat bukan hantu?" Minami bertanya kembali untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Tentu saja."


"Lalu apa yang aku lihat dengan punggung berlubang itu?"


"Maksud kakak ini?" Aquila membalikan badannya dan melihatkan punggungnya yang terdapat sebuah bordiran bunga mawar merah.


Dan seketika Minami merutuki kebodohannya yang tega menuduh Aquila sebagai hantu. "Maafkan aku nona, aku kira nona adalah hantu."


"Tidak apa kak, itu wajar saja terjadi apa lagi kak Nami baru saja bangun dari tidur." Ucap Aquila.


"Kenapa kalian ribut sekali." Tanya Shiro yang terbangun dari tidurnya.


"Bukan apa-apa, benarkan kak Nami?" Aquila tersenyum dengan canggung.


"Huh, kenapa aku punya adik yang sangat narsis."


"Ha ha, tentu saja." kata Shiro sombongnya


"Sudah nona tuan, bukankah kita akan menyusul Jendral kekaisaran selatan." Lerai Minami.


Mereka yang akan berdebat tidak penting segera berhenti, dan Aquila langsung menganti pakaiannya dengan pakaian seperti biasa. Sedangkan Shiro merapihkan bulu halusnya yang berantakan akibat tidur. Minami keluar dari dalam kamar itu dan menuju ke lobi untuk memesan sarapan mereka.


Leave bangun dengan mata yang cerah dan terheran melihat Aquila sibuk membenahi diri dan menyisir rambutnya yang berantakan akibat hembusan angin pagi. Leave turun dari kasur dan merubah dirinya kebentuk manusia dengan gaun putih dan rambut putih mengkilap.


"Nona, biarkan saya membantu mu." Leave mengambil sisir yang ada ditangan Aquila.

__ADS_1


Aquila duduk didepan cermin dan melihat kegiatan leave. "Hei Shiro, menurutmu Rugiel itu bagaimana?" Tanya Aquila.


"Menurutku bocah tempramen itu sangat cengeng, kalau dia menangis pasti akan ada badai petir ditempatnya tinggal. Dan kalau marah dia bisa menghancurkan apapun yang ada disekitarnya. Apa lagi dalam keadaan sekarang, dia pasti akan menyerang secara membabi-buta dan akan selalu mendengarkan orang yang mengendalikannya. Tapi dalam keadaan tersebut dia akan kesakitan." Diakhir kalimat Shiro terdengar sangat sedih dengan kondisi saudaranya Rugiel.


"Oh jadi begitu. Tapi sungguh keterlaluan juga ayah bajingan itu. Tenang saja, aku akan menjemputnya dan menyelamatkannya dari tangan kotor bajingan itu." Ucap Aquila dengan membara.


"Nona terlalu semangat, lebih baik kita sarapan dan mengisi perut nona." Kata Minami dari balik pintu dan memegang nampan yang penuh makanan.


"Benar itu nona, setelah itu nona bisa melepaskan semangat nona." Ucap Leave yang telah selesai mengikat rambut Aquila.


"Terima kasih kak."


Lalu mereka memakan sarapan tanpa ada perdebatan antara Aquila dan Shiro. Setelah selesai sarapan mereka keluar dari penginapan dengan berjalan kaki menuju timur yang tidak jauh dari hutan yang kemarin mereka jelajahi. Dan lokasi danau itu terletak diantara perbukitan yang terlihat jelas dari kota yang mereka singgahi.


Sesampainya dipinggir hutan, Leave berubah menjadi rusa yang besar untuk ditunggangi oleh Aquila dan Minami dan tidak lupa dengan Shiro yang selalu duduk didepan Aquila.


Leave berlari dengan cepat, tanpa rintangan atau hambatan yang menghalanginya, mereka mengambil jalan yang berbeda untuk menghindari pertemuan dengan rombongan jendral kekaisaran selatan yang telah berangkat sebelum matahari terbit.


Setelah melewati hutan dan lembah bukit, mereka sampai ditepi danau yang suram, dengan pohon yang mati dipinggir danau. Rumput hitam menghiasi sisi danau yang berwarna keruh kecoklatan tanpa ada penghuninya. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, terdapat gua yang gelap dengan batu hitam menghiasi sisi guanya.


"Lebih baik kita sembunyi dulu. Aku yakin kalau didalam banyak jebakan." Saran Minami yang lebih peka dengan keadaan yang gelap.


"Aku setuju, kita belum tau keadaan didalam." Aquila sambil melihat sekitarnya, dan ia melihat pohon besar namun daun yang ada di pohon itu menghitam.


"Bagaimana kalua kita sembunyi dipohon itu." Tanya Aquila sambil menunjuk pohon yang ia lihat sebelumnya.


Leave langsung berlari kearah pohon yang ditunjuk Aquila sebelumnya, Aquila langsung melompat kedahan yang tersembunyi diantara dedaunan yang hitam. Dan diikuti juga dengan Leave dan Minami sedangkan Shiro selalu ada didekat Aquila.


Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya rombongan yang mereka tunggu sampai didepan gua tempat Rugiel tertidur. Lalu jendral kekaisaran selatan turun dari kuda yang dia tunggangi dan masuk kedalam gua itu, sedangkan rombongan yang mengikutinya langsung menjauh karena takut terkena sengatan petir yang tiba-tiba turun.

__ADS_1


Mereka cukup lama menunggu jendral itu keluar dari dalam gua, dan terdengar raungan yang sangat mengerikan dari dalam gua.


Tanpa mereka sadari gumpalan awan hitam menggulung menjadi satu, seakan ingin menuangkan air untuk menghancurkan segalanya.


__ADS_2