
Berhari-hari telah berlalu, bahkan musim semi pun juga ikut berlalu dan telah menginjak ke musim panas. Nyanyian serangga musim panas mulai bergema, entah itu siang atau malam. Bagi mereka hanya ingin terus menerus bernyanyi.
Beberapa orang berlalu-lalang melakukan kegiatan nya masing-masing, seperti membersihkan sisa-sisa ranting pohon yang berserakan, menanam benih pohon untuk menganti pohon yang telah ditebang, dan ada juga yang menyirami benih yang sudah ditanam sebelumnya.
Para magical beast telah kembali ketempat seharusnya mereka tempati, dan ada beberapa yang masih menetap ditempat itu untuk menunggu sang Messiah mereka membuka mata. Hewan buas telah menyebar ke setiap ujung hutan Roa untuk mengembalikan ekosistem yang telah lama hilang.
Para budak wanita sedang memasak makan untuk para budak pekerja dan dibantu juga oleh Minami yang sangat handal dalam urusan memasak makanan.
Leave bertugas mengambil air bersama beberapa budak pekerja untuk kebutuhan menyirami bibit pohon atau kebutuhan memasak.
Sedangkan kedua pilar yang selalu mengikuti sang Messiah kini menjadi murung dan menunggu disamping Aquila yang masih tertidur panjang. Laba-laba Archane juga berada ditempat itu dan merajut benang halusnya untuk dijadikan jubah yang ringan dan sejuk.
Semenjak Aquila tidak sadarkan diri, mereka berdua selalu berada disamping Aquila dan tidak pernah keluar dari dalam tenda itu. Minami dan Leave hanya bisa membiarkan kedua pilar itu berada disisi nonanya.
"Tuan Catarino, tuan Rugiel. Waktunya makan siang." Ucap Minami dari balik tirai tenda itu, lalu Mianmi langsung memasukinya tanpa sungkan lagi.
"Minami, apa kah kak Aquila akan terus tidur seperti ini?" Tanya Shiro dengan sendu.
"Bersabarlah tuan, nona pasti akan sadar dari tidurnya." Ucap Mibami sambil menghibur.
"Sudah berminggu-minggu, namun kak Aquila belum sadar. Aku ingin tau, apa yang kak Aquila mimpikan." Kata Rugiel sambil mengelus pipi Aquila dengan kepalanya yang berbulu halus.
"Suatu hari nanti nona akan bangun, bersabarlah tuan dan yakinlah dengan nona." Ucap Minami sambil meletakkan makan siang Shiro dan Rugiel.
__ADS_1
"Nona Nami, apakah jubah ini sudah cukup?" Kata laba-laba Archane yang berada disudut tempat itu yang sedikit gelap, karena laba-laba Archane sangat membenci cahaya yang sangat silau.
"Bawalah kemari, aku ingin melihatnya." Kata Minami, lalu laba-laba Archane keluar dari tempat persembunyiannya dan membawa sebuah kain yang sudah dilipat rapih di punggungnya yang kecil. saat ini laba-laba Archane dalam wujud kecilnya agar tidak memenuhi tempat itu.
Lalu Minami mengambil kain yang ada dipunggung laba-laba Archane dan membentangkannya kain itu untuk mengecek apakah cukup besar atau tidak.
Laba-laba Aarchen mengerjakannya setelah Aquila tidak sadarkan diri dan mengisi waktu luangnya agar tidak bosan.
"Kerja bagus, dan juga ini cukup besar untuk membuat jubah nona. Terimakasih Archane." Kata Minami dengan tulus.
Saat Shiro dan Rugiel memakan makan siang mereka, dan Minami yang masih melihat kain buatan laba-laba Archane sambil melipat Kemabli kain itu. Mereka yang ada didalam tenda dikejutkan suara lenguhan kecil dari orang yang mereka tunggu selama ini.
"Ughh...."
"Kak, kak Aquila, apakah kamu sudah sadar?" Tanya Rugiel dengan bahagia dan sedikit was-was, takut kalau itu hanyalah imajinasi nya saja.
Tidak ada jawaban, hanya deru nafas yang menyala dalam keheningan. Membuat mereka yang menantikan banggunnya sang Messiah menjadi kecewa dalam sekejap mata.
"Aku rasa, Giel harus bersabar untuk menunggu kak Aquila sadar kembali. Rino, bukankah begitu?" Ucap Rugiel sambil memeluk Shiro dengan mata yang berkaca-kaca.
"Giel harus kuat, mungkin kak Aquila tidak bangun sekarang atau mungkin akan bangun besok." Shiro menghibur sabil mengelus kepala Rugiel dengan tangan depannya yang kecil dan putih.
"Aku ingin sekali melihat mata kak Aquila yang indah, meskipun membuatku sedikit takut tapi kak Aquila membuatku nyama seperti menemukan tempat tinggal yang telah lama aku cari. Bukan kah Rino merasakan hal yang aku rasakan?" Rugiel sambil menghapus air mata yang mulai menitik dari matanya yang cerah.
__ADS_1
"Yah... Tidak perlu ditanyakan lagi. Giel tidak perlu sedih lagi, Kak Aquila pasti akan marah kalau melihat Giel menangis, pasti aku yang mendapat marah kak Aquila karena membuat Giel menangis lagi." Kata Shiro menempelkan kepalanya ke kepala Rugiel sebagai bentuk kasih sayang antar mereka berdua.
"Ahhh... kedua adikku sangat imut sekali...." Sebuah suara lembut itu langsung memecahkan kedua hewan yang saling menenangkan satu sama lain.
Wajah mereka berempat langsung menegang. Shiro dan Rugiel langsung melepaskan pelukan mereka dan melihat kearah dari mana suara yang mereka tunggu selama musim semi berakhir.
Minami yang masih memeriksa kain buatan laba-laba Archane langsung mengabaikan kain itu. Dan mereka berdua langsung bergegas disisi orang yang mereka cemaskan selama ini.
"Nona, apa nona sudah baikan? Apa masih ada yang sakit? Apa nona merasa lapar?" Cerocos Minami yang mendahului kedua pilar yang akan bertanya kepada Aquila dengan wajah yang tidak percaya.
"Tenanglah kak Nami, aku baik-baik saja. Dan mungkin aku sedikit lapar." Kata Aquila dengan senyum yang terpasang diwajahnya yang pucat.
"Hhhuuuuaaaaa...... Kak Aquila......!!!!! Giel sangat merindukan kakak.....!!!!" Jerit Rugiel yang seketika pecah, dan membuat orang yang ada diluar tempat itu langsung mengalihkan perhatian mereka dari pekerjaan yang sedang dilakukan dan menjadi melihat tenda yang tidak jauh dari mereka semua.
Leave yang mengenal suara tangisan Rugeil, ia langsung melemparkan air yang ada di punggungnya dan langsung berlari kearah jeritan yang menggema itu.
"Sudah, tidak apa. Kakak ada disini, jadi tenanglah ya." Kata Aquila menenangkan
Rugiel yang menangis histeris dan Shiro yang ikut menangis namun tidak bersuara seperti Rugiel.
"Ada apa?" Leave menerobos pintu tenda dengan tubuhnya yang besar dan membuat orang yang berada didalam tenda diam dalam sekejap mata.
"Kak Leave, Kenapa kakak berlari sangat kencang? sampai melupakan pintu tenda ini?" Tanya Aquila dengan wajah polos dan penasaran.
__ADS_1
"No-nona, syukurlah, nona sudah sadar. Aku sangat khawatir, sangat khawatir..." Ucap Leave dengan memeluk Aquila dalam wujud rusa kristal putih dan dengan deraian air mata yang menggalir dari matanya yang berwarna pink seperti bunga persik yang mekar di musim semi dengan embun yang menempel.