
Pembunuh bayaran terkejut, melihat target mereka menjatuhkan dirinya kedalam jurang. Sedangkan perintah yang diberikan kepada mereka adalah membawa Aquila Aisar ke rumah bordil untuk mempermalukannya. Dan kemudian pihak Duke Albyon Aisar akan membawa Aquila Aisar ke alun-alun kota untuk dihukum gantung. Karena telah mencemarkan nama kediaman Duke Aisar.
Aquila Aisar telah mengetahui rencana ayahnya yang sangat keji tersebut, membuat Aquila Aisar menjadi sangat kecewa, marah, dan sedih. Dan Aquila Aisar memutuskan kabur dari rumah untuk mendapatkan kebebasan nya. akan tetapi, malah dikejar oleh pembunuh bayaran yang disewa oleh ayahnya.
Aquila yang merenungkan nasibnya yang begitu buruk, membuatnya meneteskan air mata.
"Takdirku begitu sangat kejam hiks, bahkan keluargaku membenciku. Tuhan, kenapa engkau memberiku nasib yang begitu kejam. Apa aku salah terlahir di dunia ini?" ratapan yang begitu memilukan, yang membuat siapa pun yang mendengarkan pasti akan merasakan pilu yang mendalam.
"Ya, nasibmu sangat mengenaskan." Aquila Aisar yang mendengarkan suara perempuan yang begitu lembut dan menenangkan.
Saat Aquila Aisar membuka matanya, dia melihat perempuan yang memakai dress putih selutut yang sederhana, rambut yang panjang segelap malam, mata yang berbeda warna serta tanda bulan sabit di dahinya. Serta ada dua ekor hewan yang sangat cantik di samping kanan dan kirinya yang berupa kucing dan rusa.
Kemudian suasana yang tadi gelap mencekam, sekarang berubah menjadi Padang bunga yang indah dan menenangkan.
Pemandangan yang begitu indah membuat Aquila Aisar berlarian kesan kemari dengan tawa bahagianya. Karena Aquila Aisar belum pernah mendapatkan kebahagian yang sebenarnya meskipun hanya sementara.
Perempuan yang tak lain adalah Dita hanya bisa tersenyum melihat kelakuan polos anak kecil yang baru saja mati karena mempertahankan kesuciannya dan penghianatan oleh keluarganya sendiri.
Setelah puas berlarian dan merasa lelah, Aquila Aisar merebahkan tubuhnya di hamparan bunga yang indah. Aquila Aisar membuka matanya dan melihat Dita yang tengah duduk disampingnya.
Aquila Aisar terkejut melihat Dita yang duduk disampingnya, dan ia langsung terduduk di samping Dita.
"Jadi siapa namamu gadis kecil?" tanya Dita sambil menampilkan senyumannya tulus.
Aquila Aisar terbengong, karena baru pertama kali ada orang yang tersenyum tulus padanya selain kakeknya.
Dita hanya tersenyum melihat kelakuan polos gadis kecil yang ada didepannya.
"Ada apa?" Aquila Aisar tersadar dari keterkejutannya karena suara Dita yang begitu lembut.
"Ahhh, ehhh...?" Aquila Aisar tergagap.
"Ada apa?" Tanya Dita kembali.
"
__ADS_1
Tidak ada, apa kakak bidadari yang dikirimkan Tuhan untuk menjemput ku?" Tanya dengan polosnya.
Dita hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Aquila Aisar kecewa karena jawaban Dita, tapi Aquila Aisar langsung memeluk Dita dengan erat. Dita terkejut karena gadis kecil yang memeluknya menangis sesenggukan, Dita hanya tersenyum dan membelai kepala Aquila Aisar dengan lembut.
"Jadi kenapa kamu menangis?" sambil membelai kepala Aquila Aisar.
"Aku hanya kecewa,marah dan sedih kak, kenapa ayah, ibu, dan kakakku, yang begitu tega ingin membunuhku secara tidak hormat." Dengan suara parau nya.
"Padahal yang kuinginkan hanya lah mereka menyayangiku seperti kakekku saja."
Dita hanya mendengarkan dengan tenang keluh kesah gadis yang masih memeluknya dan terus membelai kepala Aquila Aisar dengan lembut.
Setelah selesai mencurahkan keluh kesahnya membuat Aquila Aisar merasa lega. Meskipun Aquila Aisar tidak mengenal Dita sama sekali, tapi menurutnya Dita adalah orang yang baik dan pengertian. Yang membuatnya merasa aman dan nyaman.
"Jadi gadis kecil, siapa namamu?" tanya Dita kembali, karena sekarang Aquila Aisar sudah tenang.
"Namaku adalah Aquila Aisar, kak. dan umurku masih 12 tahun." sambil membungkukkan badannya. Dita langsung memegang pundak Aquila Aisar agar menegakkan badannya.
"jangan membungkukkan badanmu, bersikaplah biasa lah." Aquila hanya terdiam, biasanya dia hanya menatap lantai karena peraturan yang ketat. jika belum diizinkan mengangkat muka, maka dia hanya bisa menatap lantai.
"Nama kakak Dita Andriyani, kamu bisa memanggilku kak Dita." Dita dengan wajah tersenyum.
"Waah..., nama kakak sangat unik ya. sepertinya kakak bukan dari kekaisaran Teranivis." Aquila Aisar dengan semangat.
Dita hanya bisa menutupi mulutnya agar tidak tertawa, Karen sikap Aquila Aisar yang sangat menggemaskan itu.
"Benar, kakak memang bukan dari kekaisaran Teranivis." Aquila Aisar terkejut karena Dita bukan dari kekaisaran Teranivis.
"Jadi kakak dari kekaisaran apa?" Tanyanya dengan penasaran.
"Kakak bukan dari bagian kekaisaran mana pun, lebih tepatnya kakak berasal dari dunia lain." Jelas Dita sambil menerawang jauh.
"Jadi kakak bukan dari dunia ini, lalu kenapa kakak bisa sampai ke sini?"
__ADS_1
"Kakak kesini karena ingin memenuhi keinginan adik kecil kakak yang ingin menyelamatkan dunia ini dari kekcauan." Dita sambil memandang Shiro yang masih terdiam seperti sebelumya, Leave juga terdiam sambil mengawasi sekitarnya.
"Jadi kakak mempunyai tujuan yang mulia ya, aku jadi iri dengan kakak." Kata Aquila Aisar dengan polosnya.
Dita hanya membelai kepala Aquila Aisar.
"Tapi kakak disini hanya sebuah jiwa saja. Tidak dengan tubuh kakak." Suara Dita menjadi kecil karena dia hanyalah sebuah jiwa tanpa raganya.
"Apa kakak mau menggunakan tubuhku?" Tanya khawatir, sebab raganya tak bisa mengelola mana atau pun sihir.
"Apa kamu tidak merasa keberatan bila kakak menggunakan tubuhmu?"
"Tentu saja aku senang kak, meskipun aku telah mati tapi tubuhku digunakan untuk kebaikan, itu sebuah kebahagiaan dan anugrah bagiku."
"Kalau begitu kakak akan menggunakan tubuh dan merawatnya dengan baik."
"Tapi kak, aku dikenal sebagai orang yang membawa sial dan tidak bisa mengeluarkan sihir sama sekali" Aquila Aisar merasa khawatir bila Dita menggunakan tubuhnya.
"Masalah itu, aku tidak mempermasalahkannya, tapi sebenarnya pelatihan yang kamu gunakan tidak cocok dengan kondisi tubuhmu. itu kata Shiro." Dita sambil mengendong Shiro.
Aquila Aisar menjadi terkejut ketika melihat Shiro. Tidak, lebih tepatnya mata dan tanda di dahinya sama dengan Dita.
"Apakah anda Catarino?" Dita hanya bisa memandang Shiro dengan penuh tanda tanya. Sebab Shiro tidak memberitahukan namanya di dunia ini.
Shiro yang ditatap Dita hanya menampilkan senyuman canggungnya meski tidak terlihat oleh Dita. Shiro merasa bersalah tidak memberitahukan nama aslinya.
"Shiro, kamu punya hutang penjelasan tentang ini." Dita berkata dengan tegas namun mengerikan bagi Shiro.
"Maafkan aku kak, aku lupa untuk memberi tahukan mu." Shiro sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi benar anda Catarino, saya merasa terhormat bisa bertemu dengan anda. Sebab anda telah menghilang dari seabad yang lalu. Ini menjadi sebuah berkah bagi saya bertemu dengan anda." Aquila Aisar memandang Shiro dengan rasa takjub dan kagum.
"Jadi segitu populernya adik kecilku ini."
"Benar kak Dita, tuan Catarino adalah salah satu pilar dari penjaga keseimbangan dunia ini." Aquila Aisar menjelaskan dengan semangatnya.
__ADS_1
"Tapi, sayangnya kedelapan pilar lainya sudah menjadi penghancur masal dan mesin pembunuh yang sangat kejam." Imbuh Aquila Aisar dengan sedih.
"Jadi bisakah kamu ceritakan semuanya kepadaku!?" kata Shiro dan Dita bersamaan.