Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 103


__ADS_3

"Kenapa dia tidak segera pergi, bukankah dia sudah menjadi iblis yang membunuh semau pasukan Zuwei sendiri."


"Benar sekali, dia akan membuat kerajaan kita sebagi musuh kalau kerajaan kita tetap menampungnya."


Bisik-bisik samar namun masih dapat didengar oleh Aquila, namun tetap diabaikan olehnya. Mayoritas percakapan mereka tentang keburukan orang yang telah menyelamatkan negeri mereka dari kehancuran.


"Nona... Akhirnya nona telah kembali. Kita sangat menghawatirkan nona karena belum kembali." Sambut Minami dan Leave sambil memeluk Aquila.


"Tidak perlu cemas kak, aku baik-baik saja. Kak lebih baik kita pergi meninggalkan kerajaan ini sesegera mungkin. Orang-orang disini sangat tidak tau terimakasih." Kata Aquila menenangkan kecemasan dari kedua kakaknya dengan kalimat terakhir sedikit keras.


"Ya, lebih baik iblis sepertimu segera enyah dari kerajaan kami. Kami tidak mau menerima iblis yang mengacaukan kerajaan kami." Teriak salah satu pria yang berada di kerumunan orang-orang yang menyambut Aquila dan para pilar yang lain.


"Enyahlah dan jangan kembali lagi. Kami tidak mau menerima iblis sepertimu...!" Teriak yang lain sambil melempari batu kearah Aquila.


Dan tanpa komando, yang lain pun ikut melempari Aquila dengan batu yang entah muncul dari mana. Dan sontak saja memancing perhatian Helios yang sedang berbicara dengan raja Tayounikuni.


"Hentikan......!!!! Apa yang kalian lakukan kepada kakak ku...!!!" Teriak penuh amarah dari Helios dari balkon atas istana.


Rakyat kerajaan Tayounokuni langsung menghentikan perbuatan mereka karena teriak Helios yang mereka hormati.


"Yang mulia dia adalah iblis yang baru saja membunuh banyak nyawa, dia tidak pantas untuk tetap tinggal yang penuh berkah ini." Kata salah satu orang dari kerumunan itu.


"Ya...!!" Teriak yang lain secara bersamaan.


"Ya, lebih baik aku pergi. Ada banyak hal yang harus aku lakukan. Aku tidak mau tinggal dengan orang yang tidak tau terimakasih yang telah menyelamatkan mereka dari kehancuran, tetapi yang aku dapat hanyalah hinaan." Kata Aquila dengan suara datar dan dingin.


"Bagus...! Cepatlah pergi dan jangan kembali lagi...!" Teriak mereka secara persamaan.

__ADS_1


"Kita pergi kak Nami, kak Leave." Ucap Aquila dan diangguki oleh Leave dan Minami, tetapi mereka berdua langsung ditangisi anak-anak yang mereka selamatkan.


"Kakak, kenapa kalian pergi bersama iblis yang kejam itu. Lebih baik kakak tinggal disini bersama kami." Ucap anak-anak dengan tangis tidak terima.


"Dia bukalah iblis, tetapi dia adalah nona kami yang harus kita ikuti." Kata Leave sambil melepas pegangan tangan anak-anak yang memegangi kakinya.


"Benar, seharusnya kalian bukan mencacinya dan kalian harus berterima kasih pada penyelamat kalian." Ucap Minami dengan suara yang lembut.


"Tidak....! dia bukan penyelamat kami, tapi iblis yang memakan jiwa manusia." Tolak anak-anak itu dengan kebencian.


"Kalau begitu, maafkan aku." Kata Minami dan langsung mengeluarkan ilusinya untuk mencuci otak mereka semua agar melupakan pertemuan mereka seakan tidak pernah terjadi dan seluruh penghuni kerajaan Tayounokuni tidak sadarkan diri.


"Helios, kau mau ikut denganku yang sudah dicap sebagi iblis atau tetap disini? Aku tidak akan memaksamu untuk mengikuti ku." Kata Aquila sebelum pergi meninggalkan kerajaan Tayounokuni.


"Tentu saja aku akan ikut dengan kakakku. Aku tidak rela kalau berpisah dengan kalian semua." Kata Helios menjawab pertanyaan Aquila.


"Ya." Kata Helios dengan semangat. Dan akhirnya mereka semua pergi meninggalkan kerajaan Tayounokuni disaat dini hari dengan udara yang dingin dan bersinggah di kuil Dewi Amaterasu untuk mengucapkan selamat tinggal.


"Kemana kita akan pergi Shiro?" Tanya Aquila yang tengah merebahkan tubuhnya dipunggung Leave.


"Kita akan pergi kerajaan Candana, untuk ke sana kita memerlukan waktu yang lumayan panjang. Aku rasa itu waktu yang pas untuk memulihkan mana dan fisik kak Aquila dari pertempuran tadi." Jawab Shiro sambil berjalan beriringan dengan Leave dan membawa Soleil dipunggungnya.


Sedangkan Minami bersama dengan laba-laba Archane yang berjalan didepan mereka dan Helios serta Rugiel bersama Minami.


"Kau benar, rasanya tubuhku sangat lelah, dan bau darah ini sangat menyengat." Keluh Aquila.


"Lio...! Apa ada sungai disekitar sini!" Tanya Shiro.

__ADS_1


"Sebentar lagi, dan kita bisa beristirahat sebentar di sana." Jawab Helios yang berada didepan. Dan setelah berjalan dimalam yang gelap serta rembulan sudah hilang tanpa meninggalkan jejak cahaya.


Gemericik air terdengar samar setelah menempuh jalan yang cukup jauh, dan membuat mereka merasa bahagia terutama Aquila yang sudah tidak tahan dengan bau darah yang menempel ditubuhnya.


"Huuuuhhh..... Akhirnya aku terbebas dari bau ini." Kata Aquila bernafas lega sambil berendam di sungai yang dangkal dengan arus sedikit deras.


"Ya, aku rasa kita bisa beristirahat disini sampai besok pagi. Dan melanjutkan perjalanan setelah beristirahat sejenak." Ucap Shiro sambil mengamati sekitarnya.


"Air dingin begitu menyegarkan, rasanya aku ingin tetap berendam untuk waktu yang lama."


"Nona, Jagan lakukan hal itu. Itu tidak baik untuk tubuhmu." Tegur Minami.


"Biarkan aku kak, aku ingin melepaskan kepenatan dan rasa lelah ditubuh ku. Rasanya aku sudah lama tidak merasakan air dingin." Kata Aquila dengan memejamkan mata nya.


"Kak Aquila, apa tidak apa bila kakak mendapatkan julukan yang sangat tidak sesuai denganmu?" Tanya Shiro yang duduk di batu tepian sungai.


"Yah, aku tidak perduli. Asalkan adik-adikku baik-baik saja aku sudah sangat puas." Jawab Aquila dengan nada yang ringan tanpa beban.


"Giel tidak ingin kak Aquila mendapatkan sebutan sebagai iblis, rasanya sangatlah tidak adil dengan kerja keras kakak yang penuh perjuangan." kata Rugiel yang tidak terima.


"Biarkan saja. Buat apa kalian memikirkan semua itu, membuat sakit kepala saja." Kata Aquila menanggapi dengan santai.


"Tapi kak..."


"Sudahlah Shiro, semua yang mereka katakan aku tidak perduli. Aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar bukan menuruti keinginan mereka yang egois. Meski aku juga merasa egois telah membunuh tanpa pertimbangan." Potong Aquila sebelum Shiro menyelesaikan perkataanya, dan keputusan akhir yang Aquila tidak dapat dibantah oleh Shiro yang mengetahui kalau kakaknya itu sangatlah keras kepala bila menyangkut mereka.


"Kalian berdua beristirahatlah, biarkan aku sendiri disini sendiri." Ucap Aquila yang tidak ingin ditolak.

__ADS_1


"Baiklah, aku dan Giel akan pergi, aku harap kakak tidak akan melakukan hal yang aneh." Kata Shiro sebelum pergi meninggalkan Aquila, dan kemudian mereka berdua pergi menuju Soleil dan Helios yang sudah tertidur bersama laba-laba Archane.


__ADS_2